PALU, MAL — Hari pertama pembelajaran pascakebakaran yang melanda SDN 11 Palu pada Senin (24/8/2026) berlangsung dalam kondisi memprihatinkan. Siswa kelas I, III, dan IV terpaksa mengikuti proses belajar mengajar di dalam tenda darurat karena ruang kelas mereka hangus terbakar.

Pemerintah Kota Palu melalui Dinas Pendidikan Kota Palu bergerak cepat dengan mendirikan tenda darurat sebagai tempat sementara agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.

Namun, kondisi tersebut belum mampu memberikan kenyamanan bagi siswa maupun guru. Suhu panas di dalam tenda membuat proses pembelajaran kurang maksimal.

Kepala SDN 11 Palu, Afrida, S.Pd., mengatakan kondisi di dalam tenda mulai terasa sangat panas sejak pukul 10.00 WITA. Akibatnya, sejumlah siswa tidak betah dan kesulitan berkonsentrasi mengikuti pelajaran.

“Bagaimana mau betah belajar di dalam tenda, baru jam 10.00 pagi cuaca di dalam tenda sudah panas dan gerah. Banyak siswa belajar tidak konsentrasi,” ujar Afrida kepada media ini, Rabu (26/8/2026).

Menurutnya, pihak sekolah telah berupaya mengurangi rasa panas dengan memasang dua kipas angin turbo di dalam tenda. Namun, upaya tersebut belum cukup mengatasi kondisi panas yang dirasakan siswa dan guru.

“Padahal kami sudah memasang dua kipas angin turbo di dalam tenda, tetap juga panas. Sedangkan bapak dan ibu guru saja tidak betah, bagaimana dengan anak-anak yang merasakannya,” katanya.

Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Palu telah mengambil langkah untuk menyiapkan ruang belajar darurat yang lebih layak di area lapangan sekolah.

Ruang belajar sementara itu akan dibangun oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Palu sehingga siswa dan guru tidak lagi harus menjalani proses belajar mengajar di dalam tenda.

“Sesuai keputusan Wali Kota, Dinas Pendidikan dan Dinas PU Kota Palu akan mendirikan ruang belajar darurat di lapangan sekolah. Sehingga anak-anak dan guru tidak lagi merasakan kepanasan,” jelasnya.

Sembari menunggu pembangunan ruang belajar darurat, pihak sekolah juga berencana berkoordinasi dengan SDN 9 Palu agar siswa yang ruang kelasnya terbakar dapat sementara mengikuti pembelajaran di sekolah tersebut.

“Kami akan berkoordinasi dengan sekolah tetangga, SDN 9, agar bisa bergabung belajar bersama dahulu sambil menunggu pekerjaan ruang belajar darurat selesai,” ujarnya.

Afrida berharap pembangunan ruang belajar darurat dapat segera dikerjakan sehingga aktivitas belajar mengajar kembali berlangsung nyaman. Menurutnya, ruang belajar sementara tersebut direncanakan menggunakan rangka baja ringan agar proses pembangunannya dapat dilakukan lebih cepat.

“Kami berharap pihak SDN 9 bisa menerima para siswa yang kelasnya terbakar untuk bergabung belajar, mungkin selama satu, dua atau tiga hari, sambil menunggu ruang belajar darurat selesai dikerjakan,” tandasnya.

Kebakaran yang menghanguskan sejumlah ruang kelas SDN 11 Palu tersebut kini tidak hanya menyisakan kerugian material, tetapi juga menjadi tantangan bagi pihak sekolah dan pemerintah untuk memastikan hak siswa memperoleh pembelajaran yang aman dan nyaman tetap terpenuhi.