MOROWALI, MAL – Peran vital penerjemah di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menjadi kunci utama dalam menjembatani komunikasi antara tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok dan tenaga kerja Indonesia (TKI), serta mendukung transfer pengetahuan dan keselamatan kerja. Kebutuhan terhadap penerjemah di IMIP, yang juga dikenal sebagai “Jubir”, telah ada sejak awal pembangunan kawasan industri ini pada sekitar tahun 2014.
Seiring pesatnya pertumbuhan perusahaan dan perkembangan teknologi pengolahan nikel di IMIP, permintaan terhadap sumber daya manusia yang mampu menghubungkan komunikasi lintas bahasa terus meningkat.
Para penerjemah di kawasan ini tidak lagi sekadar mengalihbahasakan percakapan, melainkan harus memastikan setiap informasi teknis dipahami dengan tepat sesuai konteks pekerjaan.
Fanny Viviansi, Wakil Manajer Departemen General Affairs PT Eternal Tsingshan Indonesia, menjelaskan bahwa keberadaan penerjemah merupakan kebutuhan mendasar untuk menghubungkan antarkaryawan. Menurut Fanny, standar kompetensi bagi penerjemah kini semakin berkembang, disesuaikan dengan kebutuhan teknis masing-masing departemen.
“Perusahaan tidak hanya mencari kandidat penerjemah dari TKI yang mahir berbahasa Mandarin, tapi juga mampu memahami lingkup teknis bidang pekerjaan,” kata Fanny Viviansi.
Proses rekrutmen calon penerjemah dilakukan secara ketat, dengan evaluasi pemahaman teknis yang disesuaikan kebutuhan departemen. Hasil wawancara dan tes tulis mengukur capaian nilai calon penerjemah mengacu pada standar kemampuan bahasa Mandarin atau Hànyǔ Shuǐpíng Kǎoshì (HSK), dengan minimal HSK level 4 atau 5.
“Standar HSK 4 dan 5 dipilih mengacu ketetapan Tiongkok. Selain mengerti apa perkataan lawan bicaranya, jubir dituntut pula mengerti konteks pekerjaannya dan mampu menyampaikan informasi secara akurat dan tepat,” ujar Fanny Viviansi, Kamis (13/08).
Selain penguasaan bahasa, para penerjemah dituntut memiliki pemahaman mendalam mengenai budaya kerja Indonesia dan Tiongkok melalui interaksi langsung dengan TKA. Fanny menguraikan tiga aspek krusial yang harus dikuasai penerjemah di kawasan IMIP.
Pertama, mengenali perbedaan budaya antara TKA dan TKI untuk membangun komunikasi lintas budaya. Karakter dan cara berkomunikasi orang Indonesia yang cenderung mengutamakan perasaan dan relasi pribadi, berbeda dengan budaya Tiongkok yang sangat memerhitungkan hierarki dan berbicara lebih terbuka serta langsung. Penerjemah IMIP perlu peka dalam menyampaikan pesan tanpa menimbulkan kesalahpahaman.
Kedua, komunikasi di lingkungan industri manufaktur IMIP sangat erat kaitannya dengan aspek keselamatan kerja. Oleh karena itu, kesalahan penerjemahan instruksi harus dicegah demi memastikan tidak ada risiko yang terjadi.
Ketiga, penerjemah bertanggung jawab memperkecil risiko dari setiap ucapan, baik kepada TKA maupun TKI. Fanny sering mengingatkan para penerjemah agar aktif menjembatani perbedaan budaya tersebut.
“Dalam praktik penerjemahan, translator diharapkan juga mampu menyaring dan memahami konteks dan lingkungan pembicaraannya. Menyaring isi-isi pesan yang hendak disampaikan dari bahasa Indonesia ke Mandarin, dan sebaliknya,” ucapnya.
PT Eternal Tsingshan Indonesia menerapkan sistem evaluasi kemampuan bahasa penerjemah secara berkala. Mereka dapat mengikuti ujian kompetensi setiap tiga bulan untuk meningkatkan level kemahiran berbahasa, yang juga membuka peluang pengembangan karier dan tanggung jawab di lingkungan kerja.
Data Departemen HR PT IMIP mencatat, pertumbuhan jumlah TKI yang menjabat sebagai penerjemah menunjukkan fluktuasi. Pada tahun 2023, jumlahnya mencapai 2.095 orang, meningkat menjadi 2.382 orang pada 2024, lalu menurun menjadi 1.876 orang pada 2025.
Dinamika ini juga dipengaruhi oleh misi PT Eternal Tsingshan Indonesia untuk mendorong peningkatan keahlian TKI agar lebih bertalenta bilingual. Salah satu inisiatifnya adalah memperluas peluang karyawan mengikuti pembelajaran bahasa Mandarin intensif di Wenzhou University, Tiongkok.
Program tersebut telah menghasilkan ratusan karyawan Indonesia yang fasih berbahasa Mandarin. Sebagian dari mereka telah dipercaya menerjemahkan di berbagai area operasional, mempercepat transfer ilmu dan teknologi, serta mengisi posisi strategis. Kelas bahasa Mandarin yang diadakan Tsingshan sejak Mei 2022 telah berlangsung sebanyak enam angkatan, melibatkan sekitar 1.800 peserta.
Hingga Juli 2026, sekitar 430 orang yang lulus seleksi HSK 4 telah diutus ke Tiongkok untuk mendalami bahasa Mandarin di Wenzhou University di Provinsi Zhejiang atau University of Science and Technology, Beijing. Terbaru, dalam angkatan keenam, 29 orang terpilih diberangkatkan ke Wenzhou University.
“Ke depan kami ingin semakin banyak karyawan Indonesia mampu berbahasa Mandarin dan harus mampu menempati jabatan strategis. Ini bagus untuk memotivasi agar mereka mau terus belajar, dan tenaga kerja lokal Sulawesi lebih terserap untuk bisa menjalankan peran penerjemah,” ujar Fanny Viviansi.
Fanny menegaskan bahwa kelas bahasa Mandarin tidak dimaksudkan untuk mengurangi peran penting penerjemah, melainkan untuk mengembangkan keterampilan teknis dan bahasa asing karyawan Indonesia. Sebagai rencana jangka panjang, Tsingshan memproyeksikan pengembangan talenta bilingual sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas SDM di kawasan IMIP.
Beberapa posisi bahkan mewajibkan calon karyawan menguasai bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Standar ini bertujuan memperkuat komunikasi antarbudaya, menciptakan lingkungan kerja yang produktif, kolaboratif, aman, dan mendukung pertumbuhan industri hilirisasi berkelanjutan di IMIP. ***
