YOGYAKARTA, MAL – Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah meluncurkan awan panas guguran pada Sabtu (26/9) pukul 20.34 WIB. Sekitar 66 menit kemudian, Gunung Marapi di Sumatera Barat mengalami erupsi pada pukul 21.40 WIB.

Hingga Minggu (27/9), status Gunung Merapi tetap Level III atau Siaga, sedangkan Gunung Marapi berada pada Level II atau Waspada.

Awan panas guguran Gunung Merapi diperkirakan meluncur sejauh 2.000 meter ke arah selatan mengikuti alur Kali Boyong di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktivitas tersebut tercatat memiliki amplitudo maksimum 48,66 milimeter dengan durasi kegempaan 129,64 detik.

“Awan panas guguran terjadi pada pukul 20.34 WIB dengan estimasi jarak luncur 2.000 meter mengarah ke selatan atau alur Kali Boyong,” demikian keterangan resmi BPPTKG.

Sementara itu, Gunung Marapi di Sumatera Barat mengalami erupsi pada pukul 21.40 WIB. Tinggi kolom abu tidak teramati, namun aktivitas erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 30 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 19 detik.

Berdasarkan data pemantauan, Gunung Merapi dan Gunung Marapi mengalami aktivitas vulkanik pada malam yang sama, namun belum ada informasi resmi yang menyatakan kedua peristiwa tersebut saling berkaitan secara geologis.

Untuk Gunung Merapi, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di wilayah potensi bahaya, terutama di alur sungai yang berhulu di gunung tersebut. Warga juga diimbau mewaspadai ancaman guguran lava, awan panas, dan lahar apabila terjadi hujan.

Sementara untuk Gunung Marapi, masyarakat, pendaki, pengunjung, dan wisatawan diminta tidak memasuki radius 3 kilometer dari pusat erupsi atau Kawah Verbeek sesuai rekomendasi keselamatan yang berlaku.

Hingga waktu pemutakhiran laporan pada Minggu (27/9), belum tersedia informasi resmi mengenai korban jiwa, kerusakan bangunan, pengungsian, maupun dampak lain akibat kedua aktivitas vulkanik tersebut. Tinggi kolom abu Gunung Marapi juga belum dapat dipastikan karena tidak teramati saat erupsi berlangsung.

Otoritas vulkanologi terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas kedua gunung api tersebut dan meminta masyarakat mengikuti informasi resmi serta mematuhi rekomendasi keselamatan yang telah dikeluarkan.