OLEH: Indah Suciati*
Pernahkah kita terlalu lama berpikir hingga lupa bertindak?
Kita mempertimbangkan segala kemungkinan. Menghitung risiko. Menyusun berbagai rencana. Memikirkan apa yang akan terjadi jika memilih jalan A atau jalan B. Namun, ketika semua pertimbangan telah selesai, ternyata tidak ada satu langkah pun yang benar-benar dilakukan.
Tanpa sadar, kita sedang mengalami apa yang kini dikenal sebagai analysis paralysis—terlalu banyak berpikir hingga kehilangan keberanian untuk bertindak.
Menariknya, persoalan seperti ini ternyata telah lama direkam dalam salah satu cerita rakyat masyarakat Kaili berjudul Paramula Nu Tabaro bo Lanu.
Cerita tersebut berkisah tentang sepasang suami istri yang membuka hutan untuk dijadikan kebun sebagai sumber kehidupan keluarganya. Suatu hari sang suami menemukan sebidang tanah yang subur. Ia membawa kapak dan parang, siap menebang pepohonan. Namun, sesampainya di lokasi, ia tidak segera bekerja.
Ia justru duduk memandangi pepohonan di hadapannya.
Dalam pikirannya muncul berbagai kemungkinan.
“Jika pohon yang ini kutebang, pohon itu pasti akan menimpa pohon di sebelahnya. Jika pohon itu tumbang, pohon berikutnya juga akan ikut roboh. Lama-kelamaan, kebun ini akan terbuka dengan sendirinya.”
Ia terus menunjuk ke sana kemari, membayangkan arah tumbangnya setiap pohon. Hari itu berlalu tanpa satu pun pohon ditebang.
Keesokan harinya ia kembali melakukan hal yang sama.
Demikian pula hari berikutnya.
Bahkan hingga tiga bulan lamanya.
Ia terus berpikir, tetapi tidak pernah mulai bekerja.
Sekilas kisah ini tampak seperti cerita tentang seorang laki-laki yang malas. Namun, jika dibaca melalui sudut pandang matematika, sesungguhnya ada pelajaran yang jauh lebih menarik.
Lelaki itu sedang menggunakan logika.
Ia menyusun hubungan sebab-akibat secara runtut.
Jika pohon pertama ditebang, maka pohon kedua akan tumbang.
Jika pohon kedua tumbang, maka pohon ketiga juga akan tumbang.
Jika pohon ketiga tumbang, kawasan hutan akan semakin terbuka.
Dalam logika matematika, pola penalaran seperti ini dikenal sebagai silogisme hipotetik.
Jika A menyebabkan B.
Jika B menyebabkan C.
Maka A menyebabkan C.
Cara berpikir seperti itulah yang menjadi dasar berbagai penalaran ilmiah hingga perkembangan teknologi modern. Ketika komputer mengambil keputusan, ketika kecerdasan buatan menyusun respons, bahkan ketika ilmuwan membuat prediksi, semuanya dibangun di atas hubungan-hubungan logis semacam itu.
Artinya, tokoh dalam cerita rakyat ini sesungguhnya sedang berpikir secara matematis.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah terjadi.
Ia tidak pernah mengayunkan kapaknya.
Di sinilah cerita rakyat tersebut menjadi sangat relevan bagi kehidupan kita hari ini.
Dalam dunia pendidikan, kita sering menganggap keberhasilan belajar matematika hanya diukur dari kemampuan memperoleh jawaban yang benar. Peserta didik dilatih menyelesaikan soal demi soal, menghafal rumus, dan mengikuti langkah-langkah penyelesaian yang sudah tersedia. Akan tetapi, matematika sesungguhnya bukan hanya tentang menemukan jawaban. Matematika juga mengajarkan bagaimana seseorang mengambil keputusan berdasarkan alasan yang logis.
Berpikir adalah awal.
Bertindak adalah penyempurna.
Tanpa tindakan, logika hanya akan menjadi rangkaian kemungkinan yang tidak pernah menghasilkan perubahan.
Ironisnya, keadaan seperti ini semakin sering kita temui pada generasi sekarang. Banyak peserta didik sebenarnya mampu menganalisis suatu persoalan. Mereka dapat menjelaskan berbagai alternatif penyelesaian, bahkan mampu memprediksi berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Namun, ketika diminta mengambil keputusan, mereka justru ragu, takut salah, dan memilih tidak melakukan apa-apa.
Bukankah keadaan itu sangat mirip dengan tokoh dalam Paramula Nu Tabaro bo Lanu?
Ia tidak kekurangan logika.
Ia hanya kekurangan keberanian untuk memulai.
Di sinilah cerita rakyat dapat menjadi jembatan yang sangat menarik dalam pembelajaran matematika. Guru tidak perlu langsung memperkenalkan simbol-simbol logika seperti implikasi (jika… maka…), konjungsi, disjungsi, atau silogisme. Pembelajaran dapat dimulai dengan sebuah pertanyaan sederhana.
“Menurut kalian, apa yang sedang dipikirkan tokoh itu?”
“Apakah kesimpulannya benar?”
“Mengapa kebunnya tidak pernah selesai?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mengajak peserta didik melakukan penalaran sebelum mereka mengenal istilah-istilah formal dalam logika matematika. Mereka belajar bahwa logika bukan sekadar simbol p → q, melainkan cara manusia memahami hubungan sebab dan akibat dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah hakikat etnomatematika.
Budaya tidak hanya menyimpan bentuk-bentuk geometri, pola bilangan, atau sistem pengukuran. Budaya juga menyimpan cara masyarakat berpikir, bernalar, mengambil keputusan, dan memecahkan persoalan. Cerita rakyat menjadi bukti bahwa konsep-konsep matematika telah lama hidup di tengah masyarakat, bahkan sebelum diajarkan di ruang kelas.
Barangkali, selama ini kita terlalu sering memperkenalkan matematika sebagai kumpulan rumus. Padahal, matematika pada hakikatnya adalah cara berpikir. Dan cara berpikir itu telah diwariskan oleh leluhur melalui berbagai cerita yang selama ini kita anggap sekadar dongeng.
Mungkin itulah pelajaran terbesar dari Paramula Nu Tabaro bo Lanu. Logika memang penting, tetapi logika yang tidak diwujudkan dalam tindakan hanya akan melahirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah menjadi kenyataan. Sebab pada akhirnya, sebuah kebun tidak pernah terbuka hanya karena seseorang mampu menjelaskan bagaimana pohon akan tumbang. Kebun baru akan terbuka ketika seseorang benar-benar berani mengayunkan kapaknya.
Dan mungkin, di situlah kita menyadari bahwa matematika bukan hanya mengajarkan kita berpikir benar, tetapi juga bertindak berdasarkan penalaran yang benar. ***
