BAGI penikmat anime Jepang atau drama Korea, seragam sekolah dengan kerah lebar dan pita di bagian dada tentu bukan pemandangan yang asing. Bentuknya menyerupai pakaian pelaut, sehingga sering disebut sebagai sailor uniform. . Istilah umum untuk seragam sekolah di Jepang adalah Seifuku, sedangkan model pelaut khusus siswi perempuan secara spesifik dinamakan Sailor Fuku/Serafuku.

Banyak orang mengira desain tersebut merupakan hasil kreativitas Jepang. Padahal, sejarahnya justru berawal dari Eropa, jauh sebelum menjadi identitas sekolah-sekolah di Negeri Sakura.

Asal-usul seragam bergaya pelaut dapat ditelusuri hingga pertengahan abad ke-19. Saat itu Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) mengenakan seragam dengan ciri khas kerah lebar berbentuk persegi di bagian belakang serta syal yang diikat di leher. Desain ini dibuat sederhana agar nyaman digunakan para pelaut ketika bekerja di atas kapal. Lambat laun, seragam tersebut tidak hanya dikenal sebagai pakaian militer, tetapi juga menjadi simbol kedisiplinan, ketertiban, dan kebanggaan nasional.

Popularitas pakaian bergaya pelaut semakin meningkat ketika keluarga kerajaan Inggris memakaikannya kepada anak-anak mereka. Foto-foto para pangeran kecil dengan busana tersebut beredar luas dan membuat model itu menjadi tren di kalangan masyarakat Eropa. Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, pakaian bergaya pelaut menjadi salah satu mode anak-anak yang paling populer di Inggris, Prancis, Jerman, hingga Amerika Serikat.

Ketika sistem pendidikan modern berkembang, sejumlah sekolah mulai mencari desain seragam yang sederhana, praktis, dan mudah diproduksi. Model pelaut dianggap memenuhi kebutuhan tersebut. Potongannya relatif sederhana sehingga mudah dijahit, nyaman dipakai untuk kegiatan belajar, dan memberikan kesan rapi tanpa memerlukan aksesori yang rumit. Karena alasan itulah, beberapa sekolah mulai mengadopsinya sebagai seragam resmi.

Jepang kemudian menjadi negara yang paling identik dengan seragam ini. Pada awal dekade 1920-an, sejumlah sekolah putri mulai memperkenalkan seragam bergaya pelaut yang terinspirasi dari seragam Angkatan Laut Inggris. Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan pengenalannya adalah Elizabeth Lee, kepala sekolah Fukuoka Jo Gakuin, yang membawa inspirasi tersebut ke lingkungan pendidikan Jepang. Sejak saat itu lahirlah sailor fuku, istilah yang kini dikenal luas sebagai seragam khas siswi Jepang.

Keberhasilan model tersebut di Jepang tidak hanya disebabkan oleh desainnya yang praktis. Seragam itu juga dianggap mencerminkan nilai-nilai kedisiplinan, kesederhanaan, dan kebersamaan yang menjadi bagian penting dari budaya sekolah Jepang. Selain itu, industri manga, anime, dan film turut memperkuat citra seragam pelaut hingga menjadi ikon budaya populer yang dikenal hampir di seluruh dunia.

Pengaruh Jepang kemudian membuat model seragam serupa digunakan di sejumlah negara Asia lainnya, seperti Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, Thailand, dan beberapa wilayah di Tiongkok. Meski demikian, setiap negara melakukan penyesuaian terhadap warna, bentuk kerah, panjang rok, maupun aksesori agar sesuai dengan budaya dan kebijakan masing-masing sekolah.

Di sisi lain, tidak semua negara memilih desain bergaya pelaut. Banyak sekolah di Eropa, Amerika, maupun negara-negara Persemakmuran lebih mempertahankan model blazer, jas, atau kemeja dengan dasi sebagai identitas mereka. Di kawasan tropis, pertimbangan iklim juga berpengaruh sehingga banyak sekolah memilih desain yang lebih ringan dan sederhana agar nyaman dikenakan sepanjang hari.

Meskipun berasal dari seragam angkatan laut, penggunaannya di lingkungan sekolah tidak dimaksudkan untuk menanamkan budaya militer. Seiring berjalannya waktu, makna seragam pelaut telah bergeser menjadi simbol kerapian, kesetaraan, dan identitas sekolah. Asal-usul militernya kini lebih banyak dipandang sebagai bagian dari sejarah desain, bukan sebagai pesan ideologis.

Hingga saat ini, seragam bergaya pelaut tetap menjadi salah satu desain sekolah yang paling mudah dikenali di dunia. Dari dek kapal-kapal perang Inggris pada abad ke-19 hingga ruang-ruang kelas di Jepang dan berbagai negara Asia, perjalanan seragam ini menunjukkan bahwa sebuah desain yang lahir dari kebutuhan praktis dapat berkembang menjadi simbol budaya yang melampaui ruang dan zaman.