Menjadi manusia bermanfaat merupakan ajaran inti dalam Islam yang senantiasa ditekankan oleh Rasulullah SAW, membawa kebaikan bagi diri sendiri serta lingkungan sekitar. Konsep ini mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberikan nilai guna kepada sesama makhluk ciptaan Allah SWT, tanpa memandang perbedaan, karena setiap individu memiliki peran untuk menjadi manusia bermanfaat.

Berbuat baik tidak terbatas pada sesama Muslim saja, melainkan kepada semua makhluk, termasuk non-Muslim. Penting untuk tidak melihat latar belakang agama seseorang sebagai penghalang untuk berbuat baik, sebab semua adalah ciptaan Allah SWT. Nilai kemanusiaan yang sejati tercermin dari seberapa besar kebermanfaatan kita bagi orang lain.

Eksistensi manusia diukur dari kontribusinya. Analogi yang sering diungkapkan adalah “hiduplah bagai seekor lebah, jangan seperti lalat.” Lebah hidup dari yang bersih, hinggap tanpa merusak, dan menghasilkan madu yang menyehatkan. Sebaliknya, lalat hidup di tempat kotor dan menyebarkan penyakit. Ini adalah cerminan bagaimana seorang manusia bermanfaat harus bertindak.

Daripada berusaha menjadi sosok yang disegani atau ditakuti, fokuslah untuk menjadi manusia bermanfaat bagi siapa pun di sekeliling kita. Ini adalah cara untuk mewujudkan jiwa kepemimpinan yang menginspirasi orang lain, membentuk karakter yang kuat sebagai manusia bermanfaat.

Sebagai seorang Muslim, memberi manfaat kepada orang lain adalah karakter esensial, bukan semata mencari manfaat atau memanfaatkan orang lain. Ini adalah manifestasi dari konsep Islam yang penuh cinta dan ajakan untuk senantiasa berbagi, menjadi manusia bermanfaat dalam setiap aspek kehidupan.

Manfaat dari perbuatan baik kita akan kembali kepada diri kita sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri.” (QS. Al-Isra ayat 7).

Melalui introspeksi, kita dapat melihat apakah keberadaan kita membawa kesenangan bagi keluarga, tetangga, kerabat, dan masyarakat umum, atau justru sebaliknya. Keberadaan kita secara filosofis haruslah membawa kemaslahatan bagi sesama, bukan hanya untuk diri sendiri, menegaskan pentingnya menjadi manusia bermanfaat.

Hati nurani kita selalu mendambakan hubungan yang saling rida dalam mengambil manfaat. Kita menghargai orang yang mengambil manfaat dengan cara yang baik, namun menganggap buruk mereka yang mengambil manfaat dengan cara yang salah, seperti menipu, mencuri, atau menggunakan kekerasan. Orang yang lebih banyak memberi daripada mengambil dalam hubungan sosial adalah yang terbaik, dikenal sebagai dermawan, ikhlas, dan tanpa pamrih.

Maka, penting bagi kita untuk bertekad menjadi manusia yang terbaik (khairunnaas) menurut pandangan Allah SWT dan Rasul-Nya. Kebahagiaan sejati akan dirasakan di dunia dan akhirat, melampaui penghargaan duniawi. Kunci utamanya adalah memberikan manfaat bagi sesama, menjadi manusia bermanfaat.

Rasulullah SAW mengajarkan logika tentang harta yang tersisa: bukan yang ada dalam genggaman, melainkan yang telah diberikan kepada orang lain. Suatu ketika, setelah menyembelih kambing dan memerintahkan sebagian besar dagingnya disedekahkan, Rasulullah bertanya berapa yang tersisa. Sahabat menjawab, hanya sepotong paha. Rasulullah SAW lantas mengoreksi, bahwa yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah dibagikan. Ini adalah hikmah mendalam tentang nilai memberi. Wallahu a’lam.