Workshop Wajardikdas, Kemenag Sulteng Libatkan 50 Pengasuh Ponpes

oleh
Kakanwil Kemenag Sulteng, H. Rusman Langke (kanan) saat menyampaikan arahan pada pembukaan workshop Program Wajardikdas, di Palu, Senin (09/07). (FOTO: MAL/YAMIN)

PALU – Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (Pakis), Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulteng, melaksanakan workshop  penyelenggaraan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajardikdas) pada Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah se- Sulteng Tahun 2018, di Palu, mulai Senin (09/07) sampai Rabu (11/07).

Kegiatan itu diikuti 50 peserta, terdiri dari Kanwil 1 orang, Kota Palu 20 orang, Kabupaten Sigi 4 orang, Kabupaten Parimo 9 orang, Kabupaten Poso 2 orang, Kabupaten Banggai 2 orang, Kabupaten Touna 1 orang, Kabupaten Morowali 2 orang, Kabupaten Buol 6 orang, Kabupaten Banggai Laut 1 orang dan Kabupaten Tolitoli 2 orang.

Kepala Kanwil Kemenag Sulteng, H. Rusman Langke, mengatakan, Wajardikdas di lingkungan Ponpes mulai diprogramkan tahun ini. Menurutnya, program itu sangat strategis karena Undang-Undang Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional telah mengamanatkan Kemenag sebagai tokoh tenaga pendidik dan kependidikan lingkungan Ponpes.

“Bagaimana kita bisa menggembleng, mendidik generasi kita di masa mendatang untuk menjadi generasi yang berkarakter dan berakhlaktulkarimah. Terima kasih kepada Bidang Pakis yang telah memprogramkan ini,” katanya.

Dia menambahkan, peserta kegiatan yang merupakan pelaku langsung, sangat penting untuk memahami bahwa Ponpes merupakan salah satu institusi pendidikan tertua di Indonesia yang telah eksis berabad-abad. Sehingga, Ponpes harus dipelihara sebaik-baiknya sesuai kondisi daerah masing-masing.

“Sebelum kita merdeka, pendidikan yang paling terdepan adalah Ponpes, para kiyai yang melakukan pembelajaran hanya di surau, musholah dan masjid karena saat itu kita dikejar-kejar bangsa penjajah. Itu sejarah yang membuktikan bahwa lembaga pendidikan tertua di Indonesia itu adalah Ponpes,” jelasnya.

Secara nasional, lanjut dia, Ponpes sudah mencapai kurang lebih 16 ribu, termasuk di Sulteng yang berjumlah 117. Meski belum terlalu banyak seperti di daerah Gorontalo, mantan Kakanwil Kemenag Gorontalo itu mengaku bersyukur kepada pengelola yang sudah memiliki keikhlasan mengabdi untuk mencerdaskan generasi yang akan datang.

“Terkait dengan Wajardikdas 9 tahun, tidak boleh lagi ada generasi kita yang tidak mengenyam pendidikan,” harapnya.

Olehnya, Rusman mengharapkan guru-guru harus bisa meningkatkan kualitas, karena di zaman sekarang semua serba terbuka, tidak ada alas an tidak punya kesempatan, semua bebas belajar tanpa perlu mengungjungi perpustakaan untuk mencari referensi karena bisa melalui smartphone.

“Olehnya harus diperkuat semua, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Tadi saya baru buka berita ada OSN yang dilaksanakan di Padang, dalam event itu semua bersaing antara madrasah dan sekolah umum. Alhamdulillah madrasah mendapat 36 medali. Itu membuktikan bahwa kita sudah bisa bersaing,” katanya.

Apa gunanya, kata dia, punya ilmu umum tapi ilmu agama kosong sebab hanya sia-sia dalam kehidupan.

“Jadi tolong delapan standar pendidikan itu harus kita perhatikan dalam mengelola Ponpes,” pesannya. (YAMIN)