Tombolotutu Layak Jadi Pahlawan Nasional

oleh
Senjata Raja Tombolotutu (DOK: MAL)
PARIGI – Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Univeritas Tadulako, Dr Lukman Nadjamuddin mengatakan Tombolotutu layak diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.
Hal tersebut ditegaskannya usai Fokus Group Discussion (FGD) Bara Perlawanan di Teluk Tomini, Perjuangan Melawan Belanda, di desa Labuan Kecamatan Moutong, Selasa (28/11) malam.
Menurutnya, ada sejumlah indikator mengapa Tombolotutu layak diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Diantaranya, ketersediaan sumber tertulis pada jamannya yang cukup banyak, sehingga memberi informasi secara konprehensif tentang perlawanan Tombolotutu menantang Pemerintah Belanda.
 “Tentu saja itu dilengkapi dengan sumber-sumber tulisan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Dengan demikian kita bisa mensinergikan, menyatukan antar sumber Belanda, baik tulisan maupun sumber lisan yang dimiliki masyarakat,” terangnya
Lukman menjelaskan, dari sisi waktu, perjuangan Tombolotutu cukup lama. Berdasarkan catatan yang ada, awal mula semangat perlawanan Tombolotutu itu mulai tumbuh pada tahun 1891. Perlawanan itu terus mengalami perubahan yang lebih besar dan kian menyulitkan Pemerintah Belanda. Belanda merasa sangat terganggu, hingga berakhir pada tahun 1904.
“Jadi kurang lebih 13 tahun perjuangannya. Yang menarik sebenarnya, meskipun Tombolotutu sudah meninggal seperti yang dijelaskan dalam berbagai sumber-sumber tertulis pada tanggal 17 Agustus 1901, tetapi para kader dan pengikut-pengikutnya tetap melakukan perlawanan kepada Belanda,” jelasnya
Indikator lain adalah, di Sulawesi Tengah hingga saat ini belum ada yang berhasil diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.
“Sebelumnya sudah pernah ada beberapa, tapi terkendala beberapa persyaratan, seperti data yang kurang lengkap hingga soal regulasi yang mensyaratkan soal kewarganegaraan. Karena itu, Tombolotutu menjadi sosok yang pantas dan mestinya harus selalu kita dorong menjadi Pahlawan Nasional,” ujar pria kelahiran Tolitoli itu.
Selain itu, secara geografis dan strategi perlawanan, Tombolotutu melakukan perlawanan terhadap Belanda dalam jangkauan yang luas, sampai mengarungi lautan Teluk Tomini hingga ke Togean Ampana. Di sana Tombolotutu melakukan gerakan gerakan anti Belanda. Selama perjalanan itu, tidak luput dari intaian dan pengejaran Belanda dan tidak bisa ditangkap.
Lalu sampai ke Pantai Barat, melintasi selat Makassar melintasi gunung sampai ke Donggala.
Dari sisi strategi, Tombolotutu mengembangkan perang gerilya. Keluar masuk hutan, bahkan melewati lautan masuk di sela-sela teluk yang dirasa aman dan sukar ditembus oleh Pemerintah Belanda. “Jadi apa yang dipraktekkan oleh Jenderal Soedirman dalam melakukan perang gerilya dilakukan oleh Tombolotutu. Saya kira sejumlah indikator itu yang menjadi dasar, Tombolotutu layak diusulkan menjadi Pahlawan Nasional,” ujarnya.
Dia menegaskan, perjuangan Tombolotutu melawan Pemerintah Belanda tak hanya sekadar cerita. Sumber sejarah mencatat banyak hal,  seperti perang Katabang Raja Basar di Lobu Moutong, Perang Dodoe di Gio Atas, Perang Bolano di Benteng Bajo dan Perang Dunduan di Tomini Popa.
Yang menarik, ketika Belanda menurunkan Pasukan Marsose untuk menumpas Perlawanan Tombolotutu. Marsose adalah pasukan khusus atau pasukan elit Belanda yang pernah diturunkan saat perang Diponegoro dan perang Aceh. Kala itu pasukan Marsose yang diturunkan untuk menumpas perlawanan Tombolotutu kurang lebih berjumlah 170 pasukan.
“Bisa dibayangkan bagaimana kekuatan Tombolotutu saat itu. Artinya kekuatannya sangat tangguh. Tidak pernah terjadi di Sulawesi Tengah ini, ada gerakan yang ingin ditaklukan oleh Belanda dengan menurunkan tentara Belanda yang tergabung dalam pasukan Marsose sebanyak 170 orang. Meski dengan kekuatan sekelas Pasukan Marsose, Belanda tidak pernah berhasil menupas Tombolotutu,” tuturnya.
Kata Lukman,  FGD itu bertujuan mengumpulkan dan mencocokkan informasi tertulis, yang banyak sekali menggunakan istilah-istilah Belanda, yang bisa jadi tidak cocok dengan kondisi di lapangan.
“Makanya kami kumpul masyarakat untuk dilakukan klarifikasi. Setelah ini kita finalisasi dan lakukan proses edit secara cermat naskah yang sudah kami buat itu untuk selanjutnya kita terbitkan menjadi buku,” tutupnya. (BAMBANG)