[Kisah Karamah] Tak Ada Tabir Bagi Guru Tua

oleh

Bagi Abnaulkhairaat, terutama, jamaah Haul tentu sudah tidak asing dengan namanya. Adalah KH Sofyan Alwie Lahilote, salah seorang Murid Habib Idrus Bin Salim Aljufri (Guru Tua).

Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Sulawesi Utara ini kembali hadir seperti tahun-tahun sebelumnya dalam peringatan Haul sang guru  ke-49 tahun ini.  Dirinya menyatakan akan selalu hadir dalam setiap Haul selama hayat masih di kandung badan.

Kepada Media Alkhairaat, Sofyan adalah murid “terkecil” Habib Idrus itu kembali mengisahkan kenangannya. Tentang Guru Tua, yang tidak pernah lekang , yang menyimpan banyak hikmah dan pelajaran baginya. Dia mengharapkan dapat menjadi pelajaran pula bagi seluruh Abnaulkhairaat dimanapun berada. Berikut penuturan Ustad Sofyan kepada Media Alkhairaat, Jum’at (7/7):

Tak Ada Dinding yang Menutup Pandangan Guru Tua

Kelebihan Habib Idrus itu dalam melihat sesuatu tidak hanya dengan mata kepala tapi dengan mata hati, seakan akan tidak ada dinding terhadap hal yang tersembunyi. Habib bisa mengetahui semua.

Kesan saya yang pertama menyangkut hal itu suatu ketika di saat saya berusia 16-17 tahun, di mana lazimnya di usia remaja seperti itu masa remaja adalah masa berpacaran. Saya pun berpacaran dengan seorang teman sekelas dan menaruh hati padanya.

Kemudian di suatu hari saya berkata pada si pacar untuk tidak langsung pulang pada usai jam sekolah, dan kemudian setelah jam pulang sekolah saya melihat pacar saya sedang menunggu saya seorang diri di dalam kelas yang berada di lantai dua yang berjarak puluhan meter dari kediaman Guru Tua.

Kemudian saya berbincang-berbincang dengan pacar saya di dalam kelas itu. Obrolan kami semakin asyik dan saya pun berniat untuk lebih dekat lagi dengan si pacar dan bermaksud ingin memegang tangannya. Tetapi saat saya akan memegang tangannya tiba tiba terdengar suara yang cukup keras.

“Yaa walad yaa Sofyan”, mendengar dan mengenali suara itu adalah suara guru saya maka saya pun seperti terbang bergegas menuruni tangga dan berlari menemuinya, dengan pikiran bahwa pasti ada sesuatu keperluan yang harus saya laksanakan.

Setelah tiba di rumah Habib, saya kemudian membuka pintu dan melihat Guru Tua memandang saya dengan tajam dan kemudian berkata, “Maafi Jidaar Yaa Waladi , tiada dinding bagi saya wahai anakku mendengar ucapan itu saya sangat malu sekali. Rupanya beliau melihat apa yang dilakukan muridnya, meski terhalang dinding sekalipun.

Salah kesyukuran bagi saya bahwa ternyata beliau selalu mengkontrol kami para pelayannnya. Bersambung…