[Kisah Karamah] Tak Ada Tabir Bagi Guru Tua (2)

oleh

Bagi Abnaulkhairaat, terutama, jamaah Haul tentu sudah tidak asing dengan namanya. Adalah KH Sofyan Alwie Lahilote, salah seorang Murid Habib Idrus Bin Salim Aljufri (Guru Tua).

Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Sulawesi Utara ini kembali hadir seperti tahun-tahun sebelumnya dalam peringatan Haul sang guru  ke-49 tahun ini.  Dirinya menyatakan akan selalu hadir dalam setiap Haul selama hayat masih di kandung badan.

Kepada Media Alkhairaat, Sofyan adalah murid “terkecil” Habib Idrus itu kembali mengisahkan kenangannya. Tentang Guru Tua, yang tidak pernah lekang , yang menyimpan banyak hikmah dan pelajaran baginya. Dia mengharapkan dapat menjadi pelajaran pula bagi seluruh Abnaulkhairaat dimanapun berada. Berikut penuturan Ustad Sofyan kepada Media Alkhairaat, Jum’at (7/7):

Guru Tua Melihat Apa yang Ada dalam Pikiran Muridnya

Selain itu ada yang lebih hebat lagi, yaitu Habib Idrus bisa melihat hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Suatu ketika dalam sebuah perjalanan tibalah kami di daerah Bunta di mana desa itu memiliki sungai yang bersih dan asyik untuk mandi. Akhirnya pada sore hari kami (rombongan) mandi bersama di sungai tersebut.

Menjelang sore mereka sudah kembali dan tinggal saya sendiri di sungai tersebut, karena saya merasa masih enak untuk mandi tiba tiba dipikiran saya muncul seperti rasa kesal tentang apa makna mengikuti perjalanan seperti ini, hanya capek saja, disuruh ngaji, kasidah.

Saya berpikir lebih bagus saya di sekolah, tentu lebih banyak ilmu dan manfaat dan bisa pula bertemu dengan pacar, tapi dengan perjalanan seperti ini hanya capek melulu yang didapat, karena hanya sebentar di Palu, sekitar dua bulan kemudian berangkat lagi. Begitulah cara Guru Tua dahulu dalam rangka dakwahnya. Sehingga dalam pikiran saya, menganggap bahwa ini tidak ada manfaatnya. Cuma itu yang terpikir oleh saya ketika itu.

Menjelang sore hari, kita punya kebiasaan yaitu masing-masing murid membaca kitab di hadapan guru. Jadi sore itu, karena saya terlambat datang, maka saya mendapatkan mereka semua sudah berada di dalam rumah. Saya kemudian masuk dan menjabat tangan Guru Tua, beliau memberi tangannya tapi memalingkan wajahnya tidak mau melihat wajah saya, namun saya belum memperhatikan apa makna hal tersebut.

Setelah saya duduk, mulailah kami bergilir membaca kitab dan ketika tiba giliran pada teman di samping saya selesai membaca, guru pun menghentikan bacaan dan menyuruh untuk berkasidah. Saya tidak diberi kesempatan untuk membaca, tetapi lagi-lagi saya belum curiga dengan itu, saya berpikir mungkin karena waktu yang sudah memasuki magrib maka guru menutupnya.

Saya masih belum tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi. Malam pun tiba-tiba guru memanggil salah seorang dari kami, siapapun itu. Mendengar panggilan itu saya kemudian masuk, namun begitu beliau tahu saya yang masuk, maka dia memanggil murid lain yang bernama Ahmad.

Setelah itu keesokan paginya, begitu juga ketika kita duduk sudah mau membaca, saya tidak diberi kesempatan lagi untuk itu. Di situlah saya mulai berpikir bahwa ini tidak ada alasan, kalau kemarin sore mungkin karena Magrib. Kemudian hari itu kita tinggalkan Bunta pergi dengan motor laut menuju Ampana. Di sana kami tiba di rumah  Habib Abdurrahman bin Syekh dan kemudian besok pagi kami pergi ke rumah Habib Jafar Alhasny di Wayao. Habib Jafar ini paling sayang sama saya, karena mungkin kita sama dari Gorontalo. Selain itu di setiap kali rombongan Habib Idrus datang itu pasti saya ada.

Padahal biasanya, para pelayan Habib itu sering terganti, dan ketika itu saya punya suara yang cukup bagus, sehingga Habib Jafar meminta kepada Guru Tua untuk meminta saya melantunkan kasidah, namun setelah mendengar permohonan itu, Guru Tua kemudian mempersilahkan Habib Jafar sendiri yang menyuruhnya. Kemudian Habib Jafar menyuruh saya untuk melantunkan kasidah, maka saya berpikir bahwa inilah kesempatan saya untuk mengobati perasaannya, karena saya tahu ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi.

Maka saya melantunkan kasidah yang syair-syairnya, sangat disenangi oleh Guru Tua. Di saat pertengahan ketika saya melantunkan syair-syair itu, nampak Guru Tua mulai menggoyangkan badannya dan betapa senangnya saya melihat suasana itu. Setelah usai kasidah saya mendapat pujian dari Habib Jafar, dan setelah itu Guru Tua berkata kepada Habib Jafar bahwa “ ini anak Abu Nawas, karena dia tahu ana lagi marah sama dia, tapi dia membawakan ana obat ,saya maafkan kau”, kata Guru Tua.

Mendengar kata Guru Tua, Habib Jafar kemudian balik memarahi saya dan menanyakan perihal apakah yang telah saya lakukan, sehingga membuat Guru Tua marah.  Saya pun menjawab bahwa saya tidak tahu perihal apa kesalahan yang telah saya lakukan. Begitu mendengar perkataan saya itu, Habib Idrus langsung berkata.

“Kau mau tahu apa kesalahanmu. Kau telah berbicara di dalam hatimu bahwa kau mengeluh telah mengikuti saya yang kau anggap tidak ada manfaatnya. Kau berpikir lebih baik bersekolah daripada mengikuti saya karena berpikir akan lebih banyak mendapat ilmu.

semua apa yang terpikir oleh saya ketika berada di sungai Bunta ketika itu semua diketahui Habib kemudian Habib Idrus menyatakan, “ Manfaat yang kau dapatkan selama ikut dengan saya tidak akan kau lihat semasa saya hidup , namun sesudah saya tiada baru kau tahu manfaat apa yang kau dapat atau berkah dari pelayananmu kepadaku, Saya ini adalah Guru yang membuka akal fikiran dan rohani , mestinya kau tidak memandang saya layaknya orang biasa namun ketika kau melihat saya dari pandangan seperti itu maka kau tidak akan mendapat apa apa” Pesan Gurutua.

 Dari peristiwa Itu penekanan Habib Idrus kepada saya, jika menginginkan manfaat selama menjadi pengikutnya, maka saya tidak akan dapat melihat manfaat itu sepanjang hidup sang Guru, namun kelak setelah Guru Tua telah tiada maka saya akan mendapatkan manfaat itu.

 Saya beritahu kau jika kau butuh sama saya, Panggilah saya itu berlaku kapan saja baik semasa saya hidup maupun saya telah tiada kelak. Bersambung…