“Alkhairaat Mata Air Cemerlang di Sulteng”

oleh
Ketua Utama Alkhairaat, Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri (kanan), KH Ma’ruf Amin (tengah) dan Anies Baswedan saat peringatan Haul Guru Tua ke-51, Sabtu lalu. (FOTO: IST)

PALU – Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan merefleksikan bahwa kepergian Alhabib Assayyid Idrus Bin Salim Aljufri atau Guru Tua, ke rahmatullah 51 tahun lalu adalah nyawa dan badannya.

“Akan tetapi ilmunya, amal dan dampaknya dapat dirasakan hingga saat ini. Alkhairaat seakan menjadi mata air cemerlang di Sulteng,” katanya pada peringatan Haul Guru Tua ke-51 di Kompleks PB Alkhairaat, Jalan SIS Aljufri, Sabtu (15/06).

Alkhairaat, kata dia, jangan lagi dipandang sebagai warisan Guru Tua. Ketika berbicara pendidikan, maka berbicara menyiapkan tentang generasi masa depan. Olehnya kata dia, Alkhairaat bukan semata-mata warisan masa lalu, Alkhairaat adalah titipan untuk generasi masa depan yang harus dipertahankan.

Alkhairaat kata dia, harus menjadi sumber mata air kecemerlangan untuk generasi masa depan.

Oleh sebab itu, pendidikan di Alkhairaat harus terus menerus membawa semangat keterbukaan.

“Guru tua tidak kompromi soal aqidah. Tetapi Guru Tua mengambil siapa saja yang bisa membawa ilmu pengetahuan, untuk kemajuan masyarakatnya. Keterbukaan, keluasan wawasan, itu menjadi ciri yang harus dijaga dan dihidupkan,” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, tantangan terbesar umat Islam bukan soal mampu atau tidak mampu, tetapi umat Islam sering tidak membaca perubahan zaman.

“Sementara Guru Tua bisa membaca perubahan zaman dan menyiapkan generasinya untuk bisa memainkan peran di zamannya. Ini pelajaran penting bahwa umat Islam atau Alkhairaat. Mari kita membaca perubahan zaman, menyiapkan generasi masa depan,” ujarnya.

Lebih jauh dia mengatakan, Guru Tua sendiri memiliki semangat nasionalisme. Darah ibunya tumpah di tanah yang amat jauh dari tempat ini, tetapi jiwa raganya dihibahkan untuk tanah ini.

“Lokasi lahirnya amat jauh, tapi kiprah, hidup dan manfaat atas kehadirannya dihibahkan untuk masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Oleh karena itu gelar kepahlawanan adalah sesuatu keniscayaan. Pemberian gelar pahlawan Nasional kepada Guru Tua adalah penanda komitmen perjuangan yang ada. Bukan hanya kepada Guru Tua, tetapi pada masyarakat Sulteng, kawasan Indonesia Timur pada khususnya,” ujarnya.

Sementara Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. Ma’ruf Amin, berjanji, bila dirinya nanti akan dilantik menjadi Wakil Presiden, maka akan mendorong agar Guru Tua menjadi pahlawan Nasional.

“Memang di quick qount, KPU menyatakan menang, tapi sekarang masih tergantung. Bukan hanya kawin yang digantung, presiden dan wakil presiden juga digantung,” katanya.

Kata dia, Guru Tua seorang nasionalis. disamping memiliki tanggung jawab keagamaan, juga memiliki tanggungjawab kebangsaan dan kenegaraan.

Olehnya, dia menilai, Guru Tua layak diberi gelar Pahlawan Nasional.

Dia menambahkan, Guru Tua adalah ulama besar dan merupakan pewaris nabi sesungguhnya, yang melanjutkan risalah Nabawiyah.

Di tempat yang sama, Pimpinan Majelis Ta’lim Darul Murtadza Malaysia, Habib Ali Zainal Abidin Alhamid, berharap, momentum Haul Guru Tua bisa dijadikan untuk melanjutkan perjuangan dalam menebarkan ilmu agama, baik oleh para murid dan abnaulkahiaraat.

“Kepada muridnya yang masih hidup, kepada generasi setelah mereka dan sampai diteruskan kepada akan datang. Jadikan perjuangan ini terus memberantas kejahiliaan,” harapnya.

Dia menyatakan, Nabi SAW mengajarkan ilmu yang mencerminkan akhlak dan juga adab. Tidak bermakna ilmu kalau tidak dibarengi akhlak, dan tidak mungkin akhlak tanpa ia belajar ilmu. (IKRAM/NANANG IP)