12 KTH Presentasekan Proposal Usaha di Hadapan Tim Penilai

oleh
Ketua Kelompok Seroja, Onna Samada memaparkan proposal usahanya di hadapan tim penilai, di salah satu hotel di Kota Palu, Senin(25/03). (FOTO: IST)

PALU – 12 Kelompok Tani Hutan dari sepuluh desa dari Kabupaten Donggala dan Parigi Moutong yang berada di lingkup Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Dampelas Tinombo, Dinas Kehutanan Provinsi Sulteng, mempresentasekan proposal usaha mereka di hadapan tim penilai untuk memperoleh dukungan pendanaan dari Forest Investment Programme (FIP) II melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Senin(25/03) di salah satu hotel di Kota Palu.

Kepala KPH Dampelas Tinombo, Agus Efendi mengatakan, 12 kelompok tani hutan dari sepuluh desa mengajukan proposal usaha pada kegiatan-kegiatan pengelolaan hutan berbasis masyarakat dalam skema perhutanan sosial untuk meningkatkan pendapatan dari pengelolaan kawasan hutan, baik dalam bentuk agroforestry, jasa lingkungan maupun pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.

“Dengan mengajukan proposal melalui skema ini, kelompok tani hutan memiliki  peningkatan kapasitas dalam merencanakan pengelolaan usaha sekaligus membuat anggaran kebutuhan usahanya dan berkesempatan memaparkannya ke tim penilai proposal yang berasal dari Dirjen Balai Usaha Perhutanan Sosial dan Hutan Adat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, PMU, Suporting Unit KPH Dampelas Tinombo, Dinas Kehutanan Sulawesi Tengah, Dinas Koperasi dan UKM Sulteng dan LSM,” ujar Agus.

Ia menambahkan, kelompok tani hutan tersebut berasal dari dua kabupaten, yakni Kabupaten Donggala terdiri dari Desa Siweli, Siboalong, Malonas, Lembah Mukti dan Karya Mukti. Sedangkan dari Kabupaten Parigi Moutong terdiri dari Desa Oncone Raya, Sigega Bersehati, Sipayo, Bondoyong dan Sintuwu Raya.

Onna Samada dari Kelompok Seroja Desa Bondoyong, selaku kelompok tani hutan yang telah memiliki izin perhutanan sosial dari KLHK, mendapat kesempatan pertama untuk memaparkan proposalnya di hadapan tim penilai dan disaksikan langsung oleh kelompok tani hutan lainnya.

“Saya baru kali ini bisa menyampaikan langsung proposal usaha kami dengan cara seperti ini. Sempat juga saya grogi karena di depan tim penilai saya belum terbiasa akan tetapi lambat laun bisa juga saya menyelesaikan pemaparan proposal kelompok tani kami,” ungkap Onna.

Menurutnya, dengan model seperti ini, maka secara tidak langsung juga memberikan pengalaman dan pembelajaran dalam hal mengajukan proposal. Mengingat beberapa pertanyaan dari tim penilai sangat berharga terkait proposal yang diajukan.

”Semoga kami diberi kesempatan untuk memperbaiki proposal agar lebih sempurna,” harap Onna. (BAL)