PALU- Pemimpin Redaksi National Geografic Indonesia (NGI) Didi Kaspi Kasim, menyebut jurnalisme lingkungan itu bukan jurnalisme berbicara tentang hutan, panorama, lanskap, pohon tutupan lahan dan sebagainya. Tapi cerita manusia pada dasarnya. Jadi jurnalis berusaha mengikat cerita itu dari cerita manusianya.
“Saatnya kita menggugah diri kita semua, perlu sudut pandang baru, karena menceritakan lingkungan dari sudut pandang bencana, harapan dan menakut-nakuti juga sudah sering. Tapi tata kelola, bagaimana kita menghadapi dan meminimalisasi bencana tidak ada yang berubah,” kata Didi memberikan materi Jurnalisme Lingkungan dan Peran Media, pada pelatihan jurnalistik “Menulis Untuk Alam”, diselenggarakan oleh DSLNG dan AMSI Sulteng, di Hotel Santika Palu, Jalan Moh. Hatta, Kota Palu, Kamis (8/1).
Didi mengatakan, dengan mencatat dan menghubungkan cerita dari waktu ke waktu, media tidak sekadar melaporkan apa yang terjadi, tapi mengingatkan, krisis lingkungan adalah cerita panjang. Dan selama ingatan tersebut dijaga, publik diajak untuk tidak menganggap bencana sebagai sesuatu wajar atau tak terelakkan.
“Alam tidak perlu diawasi, perlu diawasi keputusan manusia atas alam, izin, kebijakan, dan praktik industri. Hampir selalu ada jejak keputusan di balik kerusakan,” ujar Group Editorial Director NGI.
Corporate Communication Manager DSLNG Adhika Paramananda mengatakan, sekitar 60 persen area di sekeliling kawasan perbukitan dan hutan Bungisnuwa dibiarkan tetap alami dan tidak mengalami aktivitas pengelolaan.
“Area dikelola hanya berada di sekitar pesisir, karena di situlah pusat atau jantung operasi perusahaan,” katanya.
Konsep ini dikenal kata dia, sebagai metode Toblerone, sebuah pendekatan lama diterapkan oleh beberapa perusahaan industri besar di dunia. Namun, pola Toblerone kemudian diadopsi luas karena menciptakan mekanisme saling menjaga antara perusahaan dan pekerja.
Ia menjelaskan, seluruh pengelolaan lingkungan dilakukan berdasarkan standar internasional ISO 14001, yang merupakan standar sistem manajemen lingkungan digunakan secara global.
“Kami telah memasang sensor lingkungan di berbagai titik strategis. Jika terjadi kebocoran sekecil apa pun, sistem sensor langsung mengirimkan data ke Kementerian Lingkungan Hidup,” ujarnya.
Pelatihan jurnalistik “Menulis Untuk Alam” diikuti oleh puluhan jurnalis, dari berbagai media cetak, daring maupun elektonik berbagai daerah di Sulteng selama dua hari Kamis 8-Jumat 9 Januari 2026.

