PARIMO – Puluhan warga Desa Sausu Torono, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), melakukan aksi penolakan terhadap aktivitas tambang emas ilegal yang beroperasi di kawasan Mentawa.

Aksi digelar dengan mendatangi Kantor Desa Sausu Torono, sekitar pukul 09.00 WITA, Selasa pagi.

Dalam aksi tersebut, perwakilan warga, Mizamir, menyatakan bahwa penolakan dilakukan sebagai bentuk peringatan kepada pemerintah desa, kepolisian, dan seluruh pihak terkait atas terus berlangsungnya praktik pertambangan emas ilegal di wilayah mereka.

“Kami menolak tambang dalam bentuk apapun. Aktivitas ini telah merusak lingkungan, menggerus lahan perkebunan, dan mengancam mata pencaharian warga,” tegas Mizamir.

Ia menyebutkan bahwa salah satu dampak nyata dari kegiatan tambang tersebut adalah pendangkalan Sungai Mentawa dan kerusakan pada lahan-lahan perkebunan warga yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS).

Sementara itu, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sausu Torono, Sujito, mengungkapkan bahwa penolakan warga dipicu oleh tidak adanya ketegasan dari pihak berwenang.

Ia mengatakan, BPD telah tiga kali memfasilitasi musyawarah bersama warga dan pihak terkait untuk menghentikan tambang, namun aktivitas tersebut tetap berlanjut.

“Sudah tiga kali kami mediasi. Intinya, masyarakat dengan tegas menolak tambang di Sausu Torono,” kata Sujito.

Camat Sausu sebelumnya juga telah mengirimkan surat pemberitahuan kepada pelaku tambang agar menghentikan kegiatan dan mengurus perizinan. Namun, surat tersebut diabaikan dan aktivitas tambang masih berjalan.

“Kami kecewa. Sudah ada kesepakatan, tapi masih saja beroperasi. Itu sebabnya warga kembali melakukan aksi,” tambah Sujito.

Ia menyebut bahwa pelaku tambang sebagian besar berasal dari luar wilayah Kabupaten Parimo, meskipun ada juga yang merupakan warga setempat.

Setelah aksi berlangsung, perwakilan warga diterima oleh Pemerintah Desa Sausu Torono dan Polsek Sausu. Dalam pertemuan tersebut, warga dijanjikan akan difasilitasi untuk menyampaikan langsung aspirasi mereka kepada Bupati Parigi Moutong.

“Kami dijanjikan bisa bertemu Pak Bupati dalam satu atau dua hari ke depan,” kata Mizamir.

Sementara itu, Kepala Desa Sausu Torono, Saat Wijaya, membantah terlibat dalam kegiatan pertambangan emas ilegal. Ia menjelaskan bahwa alat berat yang terlihat oleh warga kemungkinan milik Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) yang tengah melakukan normalisasi sungai.

“Tambang ilegal memang pernah ada sejak 2014, sebelum saya menjabat. Tapi saya tegaskan, aktivitas saat ini bukan dari penambang, bisa jadi alat BWSS yang sedang bekerja,” ujar Saat Wijaya.

Meski demikian, ia mengakui perlunya solusi bersama dan berharap pertemuan antara tokoh masyarakat dan Bupati Parimo dapat menghasilkan langkah konkret dalam menghentikan aktivitas tambang ilegal yang meresahkan warga.