PALU – Seorang anak di bawah umur NM (12 tahun) warga Dusun Lonja Desa Sibowi Kecamatan Tanambulava, di Kabupaten Sigi, mengalami trauma dan ketakutan pasca diduga menjadi korban penculikan anak.

Kabag Humas Polres Kabupaten Sigi AKP Feryanto mengatakan, terkait hal itu, bahwa diduga NM hanya sedang ketakutan dan berupaya memberikan keterangan tidak dapat disimpulkan.

“Kronologis kejadian seperti ini, pada hari Selasa tanggal 17 Januari 2023 sekitar pukul 17.00 Wita NM keluar meninggalkan rumah setelah bertengkar dengan saudara kembarnya, karena berebut memakai handphone. Selanjutnya sampai pukul 18.30 Wita tidak kembali ke rumah, sehingga nenek dari NM menghubungi kedua orang tuanya yang ada di Desa Bulili Kecamatan Nokilalaki.

Pada sekitar pukul 20.30 Wita NM diantarkan ke pos penjagaan Mako Polres Sigi oleh seorang warga, diketahui warga Desa Maku. Kemudian warga tersebut langsung pulang meninggalkan Mako Polres Sigi,” ujar AKP Feryanto kepada sejumlah media, Kamis (19/1).

Menurutnya, anak NM saat hendak diambil keterangan, menyampaikan dirinya tinggal di Dusun Lonja Desa Sibowi. Selanjutnya anggota Provos Brigpol Toding menghubungi Brigpol Bahar (anggota SPKT) untuk meminta menanyakan warga di Sibowi terkait keluarga dari NM. Kemudian Brigpol Bahar menghubungi orang tua NM, Abdul Malik, memberitahukan bahwa anaknya sudah berada di Polres Sigi.

Kedua orang tua dari NM tiba di Mako Polres Sigi dan pada sekitar pukul 21.30 kedua orang tua NM membawanya pulang.

“Dari analisis kejadian ini diduga NM tersesat setelah pergi meninggalkan rumah karena merasa tidak senang saat berebut heandphone dengan saudaranya. Selanjutnya tidak tahu lagi jalan kembali ke rumahnya,” imbuhnya.

Keterangan dari NM belum bisa dipastikan kebenarannya terkait dirinya dibawa ke sebuah rumah kosong oleh orang yang tidak dikenal. Karena diduga NM sedang dalam kondisi takut, sehingga terkesan memberi keterangan yang tidak dapat disimpulkan.

“Selain itu di tubuhnya tidak ditemukan tanda atau bekas terjadinya kekerasan,” ujar AKP Feryanto.

Sementara itu, paman dan sebagai pengasuh anak tersebut, Agus mengatakan, belum dapat mempastikan sebagai kasus penculikan.

“Belum bisa dipastikan itu penculikan atau tidak, Kalau sekarang belum kami iyakan itu penculikan, karena ini anak sampai saat ini masih bingung mau menjawab atas kejadian yang tertimpa padanya. Kayaknya anak tersebut trauma dan ketakutan begitu,” ujar Agus, yang juga kepala Dusun I, Desa Sibowi itu, kepada sejumlah media, Kamis (19/1).

Menurut Agus, informasi yang tersebar di Medsos sudah dilebih-lebihkan. Misalnya kabar, anak tersebut lompat dari mobil.

“Cuma kalau posisi ini anak lari ketakutan, karena memang posisinya ditemukan anak pulang dari masjid itu, menangkap (mendapatkan, red) ini anak dalam posisi ketakutan dan mengamuk kayak mau diambil orang,” ujar Agus.

Agus menjelaskan, anak tersebut saat ini sementara dibawa ke rumah orangtuanya di Palolo.

“Makanya sekarang anak ini saya ungsikan ke rumah orangtuanya. Karena ini anak bukan anak saya, tapi kemenakan. Cuma dari kecil saya rawat, karena bapaknya tugas sebagai kepala sekolah di Palolo. Saya amankan ke Palolo dulu karena di rumah sini (Sibowi, red) banyak yang tanya-tanya seperti tetangga, sepupu, dan keluarga,” katanya.

Agus sendiri, yakin anak tersebut bukan korban penculikan, meskipun mengaku diambil orang.

“Saya juga belum yakin karena anak-anak ini masih ketakutan. Anak ini bilang dibawa orang, cuma saya belum bisa iyakan penculikan atau tidak,” ujar Agus.

Reporter: IRMA
Editor: NANANG