Tsummamah, Tawanan yang Menjengkelkan bagi Kita, tapi Tidak bagi Rasulullah

oleh

Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam memiliki hati yang tidak serupa dengan hati sewajarnya orang lain. Sifat yang paling memukau yang pernah Nabi tunjukkan adalah kepribadiannya yang “pemaaf”. Bahkan kepada seorang tawanan yang sangat angkuh sekalipun. Hal ini diceritakan, dalam buku “Kisah Teladan Rasulullah Dan Orang Saleh”.

Adalah, seorang pembesar kharismatik dari Kabilah Hunaifiyyah bernama Tsummamah bin Utsal, orang yang ditawan tersebut. Dia ditangkap kaum Muslimin karena telah membunuh banyak umat Islam.

Sebelum ditahan, Sammamah terlebih dahulu dihadapkan kepada Rasulullah SAW. Setelah memandangi Sammamah Rasulullah SAW, irit berkomentar..

“Perlakukan dia dengan baik!” perintah Rasulullah.

Lalu Samamah digiring ke ruang tahanan. Rupanya di ruang tahanan, Sammamah punya kebiasaan buruk, sangat rakus bila makan. Jatah makanan 10 orang sekaligus bisa dilahapnya. Bahkan tanpa merasa bersalah. Kebiasaan yang sangat menjengkelkan bagi siapapun yang melihatnya.

Kebiasaan buruk itu dilaporkan kepada kepada Rasulullah. Namun, laporan tersebut, direspon dengan tetap dengan tidak banyak berkata oleh Rasulullah. Sembari Rasulullah pergi ke bilik istri-itrinya dan berkata, “Hari ini aku kedatangan tamu yang suka makan banyak. Hidangkan semua makanan yang telah kalian siapkan!”

Tsummamah menerima makanan yang dihidangkan istri Rasulullah. Dan, habis semua. Sementara Rasulullah dan keluarga, justru mengalah dan kelaparan karena semua dilahap oleh Tsummamah. Bukan Cuma hari itu, tapi sampai beberapa pekan.

Tawanan ini rupanya, juga tetap tidak berubah, kepada Rasulullah. Dengan entengnya dia, hanya makan, minum, dan tidur.

Bahkan lagi, setiap kali bertemu Nabi Muhammad SAW, Tsummamah dengan congkaknya dengan nada tinggi mengatakan, “Muhammad! Aku telah membunuh orang-orangmu. Jika kamu ingin membalas dendam, bunuh saja aku.”

Apa respon Nabi Muhammad SAW, mendengarkan provokasinya. Nabi hanya menatapnya sambil tersenyum. Disikapi seperti itu, Sammamah bukannya luluh, dia malah semakin sombong, dan kembali berkata, “Namun, jika kamu menginginkan tebusan, aku siap membayar sebanyak yang kamu inginkan!”.

Lagi-lagi, sepatah kata pun tidak keluar dari lisan yang mulia Nabi Muhammad. Tidak ada rasa dendam di hati Nabi, apalagi niatan memperpanjang masa tahannnya. Setelah dirasa cukup, beberapa hari kemudian, Rasulullah membebaskan Tsummamah.

Ketika bebas, beberapa jauh melangkah dari tahanannya Tsummamah berhenti di bawah sebuah pohon. Ia merasa heran dengan sikap Rasulullah yang baik dan ramah. Ia selalu berpikir, berpikir, dan terus berpikir.

Dia merenung di atas pasir. Diingatinya terus Rasulullah, dan sikapnya kepada Rasulullah, padahal dia sudah mencoba untuk memanas-manasinya. Apalagi dengan mengungkapkan fakta, bahwa dia telah membunuh banyak umat Islam. Mengapa orang yang menawannya tidak memperlakukan dirinya dengan kasar.

Setelah beberapa lama memikirkan sikap Rasul yang baik. Ia tidak mengurungkan pulang, akan tetapi kembali menuju kediaman Rasulullah dan menyatakan masuk Islam. Shallu ‘ala Muhammad!

Editor: Nanang