Selama ini, publik kerap memusatkan perhatian pada aktivitas tambang ilegal di Kelurahan Poboya. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa praktik serupa juga berlangsung senyap di wilayah Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore. Wilayah yang dikenal sebagai Vatutela itu, ironisnya, juga masuk dalam peta konsesi PT Citra Palu Minerals (CPM).
Berdasarkan citra satelit dan temuan lapangan, kawasan tersebut mengalami kerusakan yang tidak bisa lagi disebut ringan. Bukit terkelupas, vegetasi hilang, dan struktur tanah berubah. Yang lebih mengkhawatirkan, kerusakan itu terjadi nyaris tanpa suara perlawanan dari lingkungan sosial sekitarnya.
Diam yang Dibayar Mahal
Keheningan itu bukan tanpa sebab. Sejumlah tokoh masyarakat setempat disebut “dibungkam” melalui skema sewa lahan. Satu kapling tanah warga disewa dengan nilai mencapai Rp30 juta per bulan, angka yang bagi sebagian orang tampak fantastis dan sulit ditolak.
Tak berhenti di situ, sebagian tokoh pemuda pun “diberdayakan”. Sebuah istilah yang terdengar mulia, namun dalam praktiknya justru menjauh dari nilai-nilai etik dan tanggung jawab sosial.
Pemberdayaan yang dimaksud lebih menyerupai saweran abadi. Cukup untuk membungkam, tetapi tak pernah cukup untuk menyelamatkan lingkungan.
Di titik ini, fungsi sosial para tokoh yang seharusnya menjadi penjaga nilai, penengah konflik, dan pelindung kepentingan kolektif justru berbalik arah. Kepentingan ekonomi pribadi tampak mengalahkan tanggung jawab moral terhadap keselamatan warga dan keberlanjutan alam.
Hulu Rusak, Hilir Menanggung
Secara geografis, Vatutela berada di wilayah hulu. Dalam ilmu lingkungan, kerusakan di kawasan hulu hampir selalu berbanding lurus dengan risiko bencana di wilayah hilir.
Deforestasi dan penggalian masif mengurangi daya serap tanah, meningkatkan limpasan air permukaan, dan mempercepat sedimentasi sungai.
Teori watershed management menegaskan bahwa ketika tutupan lahan di hulu rusak, maka banjir bandang di hilir bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan. Artinya, warga di wilayah bawah (Tondo Duyu-Ngapa) hanya tinggal menunggu waktu untuk menanggung akibat dari keserakahan yang terjadi jauh di atas mereka.
Sianida dan Ancaman yang Tak Terlihat
Ancaman lain yang jauh lebih berbahaya adalah pencemaran kimia. Aktivitas perendaman material emas menggunakan sianida (cyanide) merupakan praktik umum dalam tambang emas ilegal.
Dalam kajian toksikologi lingkungan, sianida dikategorikan sebagai bahan kimia sangat beracun yang dapat menghambat sistem pernapasan sel hidup.
Menurut teori environmental toxicology, sianida yang dibuang secara serampangan ke tanah akan meresap melalui pori-pori tanah dan masuk ke lapisan air tanah (groundwater contamination). Proses ini dikenal sebagai leaching, di mana zat berbahaya bergerak mengikuti aliran air bawah tanah.
Kondisi ini menjadi sangat berbahaya mengingat sekitar 85 persen warga Kelurahan Tondo masih mengandalkan air tanah untuk konsumsi sehari-hari. Paparan sianida dalam jangka panjang, meski dalam dosis rendah, dapat menyebabkan gangguan saraf, kerusakan hati, gangguan pernapasan, hingga risiko kematian.
Lebih jauh, teori bioakumulasi menjelaskan bahwa zat beracun dapat terakumulasi dalam tubuh manusia dan makhluk hidup lain melalui rantai makanan. Dampaknya tidak selalu langsung terasa, tetapi muncul perlahan dan sistemik, menjadikan generasi mendatang sebagai korban senyap.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Pertanyaan mendasarnya sederhana, sampai kapan kerusakan ini dibiarkan? Ketika tokoh masyarakat dan pemuda memilih diam, maka negara melalui aparat penegak hukum dan pemerintah daerah tidak boleh ikut membisu.
Tambang ilegal bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi kejahatan ekologis yang dampaknya lintas generasi. Kerusakan alam tidak mengenal kompromi, dan bencana tidak pernah memilih korban berdasarkan siapa yang menerima sewa lahan dan siapa yang tidak.
Alam Tak Pernah Lupa
Uang sewa mungkin habis dalam hitungan bulan. Namun kerusakan tanah, air tercemar, dan risiko banjir bandang akan tinggal jauh lebih lama. Alam tidak pernah lupa, dan sejarah selalu mencatat siapa yang memilih diam ketika kehancuran mulai bekerja.
Vatutela hari ini adalah peringatan. Jika terus diabaikan, ia akan menjadi penyesalan kolektif di masa depan.
Penulis: Yamin (Redaktur Pelaksana media.alkhairaat.id)

