JAKARTA – Tahun 2026 diproyeksikan menjadi fase krusial bagi PT Vale Indonesia Tbk dalam memperkuat fondasi bisnis jangka panjang.

Perusahaan menargetkan pembentukan baseline biaya baru, peningkatan keandalan operasi, serta penguatan disiplin operasional di tiga wilayah utama, yakni Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.

Di tengah ketidakpastian pasar global dan meningkatnya ekspektasi regulasi, fokus perusahaan memasuki 2026 diarahkan pada peningkatan keandalan produksi, penjagaan standar keberlanjutan tertinggi, percepatan eksekusi proyek, serta penciptaan nilai bersama bagi Indonesia.

Langkah strategis tersebut ditopang oleh model bisnis yang semakin lincah. Hingga September 2025, penjualan bijih nikel saprolit tercatat mencapai 896.263 wet metric ton (WMT).

Strategi ini membuka sumber pendapatan baru, memperkuat margin, sekaligus memberi fleksibilitas komersial di tengah tekanan harga global.

Chief Financial Officer PT Vale Indonesia, Rizky Andhika Putra, menegaskan bahwa ketahanan finansial perusahaan merupakan hasil disiplin jangka panjang, bukan kebetulan.

“Ketahanan finansial itu tidak datang begitu saja, melainkan dihasilkan dari kerja keras dan disiplin. Dengan menata ulang struktur biaya, memperkuat modal kerja, dan membuka sumber pendapatan baru, kami mampu menjaga margin dan likuiditas,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa di Tahun 2026, prinsip kehati-hatian finansial akan tetap menjadi fondasi utama.

Tantangan 2025 Jadi Landasan Menuju 2026

Paruh pertama 2025 diwarnai sejumlah tantangan, mulai dari gangguan furnace hingga tekanan kenaikan biaya akibat regulasi. Namun kondisi tersebut justru dimanfaatkan perusahaan untuk mempercepat langkah perbaikan.

Jadwal pemeliharaan dimajukan ke semester pertama 2025, persiapan rebuilding Electric Furnace 3 (EF3) dipercepat, serta kontrol biaya diperketat.

Serangkaian langkah tersebut dirancang untuk menciptakan pijakan operasional yang lebih kuat pada paruh kedua 2025 dan memasuki tahun 2026 dengan kesiapan yang lebih matang.

Dari sisi keberlanjutan, perusahaan juga mencatatkan pengakuan nasional dan internasional, antara lain ENSIA Award, Lestari Award, ESG Business Award, Investortrust ESG Award, dan Subroto Award.

Selain itu, peringkat Sustainalytics ESG Risk Rating meningkat menjadi 23,7, menempatkan perusahaan dalam Top 15 perusahaan pertambangan dengan risiko ESG terendah di dunia.

Upaya menuju sertifikasi IRMA-50 pun terus berlanjut dan memasuki fase critical requirement improvement.

Proyek US$9 Miliar Jadi Motor Pertumbuhan 2026

Memasuki 2026, perusahaan akan semakin mengandalkan empat mesin pertumbuhan utama dengan total nilai investasi sekitar US$9 miliar, yakni Pomalaa, Bahodopi, Sorowako Limonite, dan Tanamalia.

Keempatnya mencatat progres signifikan dan diproyeksikan menjadi tulang punggung ekosistem nikel energi bersih Indonesia.

Chief of Projects PT Vale Indonesia, Muhammad Asril, menegaskan bahwa proyek-proyek tersebut bukan sekadar investasi bisnis.

“Rangkaian proyek pertumbuhan ini bukan hanya investasi, tetapi kontribusi besar bagi negeri. Setiap persen progres, setiap milestone yang tercapai, dan setiap ton kapasitas baru adalah bagian dari ambisi bersama untuk membangun ekosistem nikel energi bersih yang terintegrasi di Indonesia,” katanya.

Proyek-proyek ini dirancang untuk menghasilkan nikel kelas 1 rendah karbon, yang dibutuhkan industri baterai kendaraan listrik global.

Eksplorasi Jadi Kunci Keberlanjutan

Selain mempercepat proyek, perusahaan juga menyiapkan strategi eksplorasi jangka panjang sebagai fondasi keberlanjutan pasokan.

Rencana eksplorasi mencakup potensi mineral hingga 2,5 kali lipat cadangan saat ini, dengan area lebih dari 118.000 hektare di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

Mulai 2026, program pengeboran intensif hingga 6.500 lubang per tahun akan dijalankan untuk memastikan kesinambungan pasokan nikel strategis Indonesia di masa depan.