JAKARTA – PT Vale Indonesia menyatakan tetap memegang komitmen dalam menjalankan praktik penambangan yang baik dan berkelanjutan.

Upaya itu ditunjukkan dalam pengembangan proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Kolaka, Sulawesi Tenggara, yang di dalamnya akan membangun smelter untuk pengolahan nikel.

Hingga akhir 2025 kegiatan PT Vale Indonesia masih berfokus kepada tahapan kegiatan konstruksi, dan akan memulai kegiatan penambangan pada tahun 2026.

“Kami senantiasa berkomitmen terhadap penerapan pengelolaan pertambangan yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, termasuk perlindungan kelestarian lingkungan, kesejahteraan, kesehatan dan keselamatan masyarakat,” ujar Budiawansyah, Direktur dan Chief of Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale.

Dalam menjalankan komitmen tersebut, kata dia, pihaknya juga tidak lepas dari dukungan pemerintah, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Saat peluncuran laporan riset dan diskusi publik bertajuk ‘Riset Pembangunan Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) dan Pabrik Peleburan HPAL Kolaka Nikel Indonesia (KNI)’ oleh Yayasan Satya Bumi, di Jakarta, Kamis (22/01) lalu, Budiawansyah juga memberikan penjelasan terkait temuan Satya Bumi, di antaranya kajian hidrologi.

Kata dia, sebelum kegiatan penambangan dilakukan, PT Vale senantiasa menyusun kajian hidrologi untuk mengelola air limpasan tambang sehingga kualitasnya dapat memenuhi parameter baku mutu lingkungan yang disyaratkan sebelum dialirkan ke badan air.

“Kajian hidrologi itu mencakup pemetaan daerah tangkapan air; pemetaan arah aliran air limpasan, data rekaman curah dan intensitas hujan,” ujarnya.

Selanjutnya, kata dia, dilakukan perhitungan potensi debit air limpasan, erosi dan sedimentasi; kebutuhan saluran drainase/penyaliran air limpasan hingga desain fasilitas pengelolaan/penangkap sedimen baik struktur dan kapasitas sesuai dengan rencana pembukaan lahan.

“Untuk memastikan fungsi fasilitas pengelolaan/penangkap sedimen tersebut, dilakukan kegiatan pemantauan secara rutin terhadap parameter kualitas air limpasan sebelum dialirkan ke badan air pada titik-titik pemantauan yang ditentukan. Ini menjadi wujud nyata kami dalam mengelola lingkungan,” kata Budiawansyah.

Terkait dengan pembukaan lahan untuk kegiatan penambangan dan penunjang PT Vale di Pomalaa, Budiawansyah menjelaskan, total areal IUPK yang telah dibuka adalah seluas 880,3 Ha, atau 4,3% dari total luasan IPUK.

Khusus pada area hutan lindung, kata dia, luas areal yang telah dibuka adalah seluas 82,4 HA, atau 0,4% dari total luasan IPUK.

Dari jumlah lahan yang dibuka tersebut, lanjut dia, seluas 83,7 Ha atau 0,4% berupa areal untuk kegiatan persiapan penambangan dan 796.54 Ha untuk sarana penunjang yang bersifat permanen, seperti jalan tambang, perkantoran, fasilitas pengendali sedimen, ore stockpile, dan lainnya.

“Kurun waktu tahun 2024 sampai dengan tahun 2025, total bukaan lahan baru menurut catatan kami adalah seluas 487,9 Ha, bukan 854,29 Ha sebagaimana yang disampaikan dalam surat Satya Bumi dan Puspaham,” katanya.

Menurutnya, PT Vale Indonesia memandang bahwa perlindungan terhadap lingkungan kesehatan dan keselamatan masyarakat adalah hal sangat serius dan utama.

Kata dia, keselamatan merupakan hal krusial, bukan hanya untuk pekerja melainkan juga untuk keselamatan lingkungan tempat beroperasi. Pihaknya pun memahami keprihatinan yang disampaikan terkait kondisi kesehatan warga Desa Hakatutobu.

Terhadap desa-desa yang dimaksud dalam kajian, Budiawansyah menjelaskan, berdasarkan pemetaan dalam skala yang lebih luas, wilayahnya berdekatan dengan beberapa konsesi pertambangan lainnya yang telah beroperasi terlebih dahulu.

“Wilayah desa tersebut terletak pada areal daerah aliran sungai (DAS) yang berbeda dengan keluaran air limpasan tambang PT Vale,” ujarnya.

Budiawansyah menyatakan, praktik nyata dari penambangan yang baik itu sudah diimplementasikan pada blok Sorowako, Sulawesi Selatan.

Ia juga menyebutkan apresiasi dari praktik penambangan di Sorowako itu telah membawa PT Vale Indonesia meraih berbagai penghargaan bergengsi untuk pengelolaan lingkungan dan sosial, termasuk PROPER Emas 2024 (tertinggi dari KLHK), Gold Award Asia ESG Positive Impact Awards 2025 untuk konservasi keanekaragaman hayati, serta Lestari Awards 2025 untuk inisiatif kehati.

“Kami sangat mengapresiasi kajian yang sudah dilakukan ini dan tentunya menjadi referensi kami juga. Kami sangat percaya transparansi ini adalah sebuah cara membangun kegiatan yang lebih baik. Sekali lagi, kami terbuka untuk menerima masukan-masukan yang konstruktif dari para pemangku kepentingan, termasuk dari masyarakat dan LSM terhadap upaya-upaya terhadap perlindungan,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, juru kampanye Satya Bumi Alexandra Aulianta bersama Kisran Makati dari Puspaham tampil sebagai dua pembicara. Sementara Budiawansyah hadir sebagai penanggap.