Artikel ini ditulis dalam rangka menyambut kedatangan bulan agung yang selalu diagung-agungkan oleh Nabi Muhammad SAW hari ini Selasa 20 Januari 2026 adalah awal masuknya tanggal 1 Syaban 1447 H.
Kami menukilkan artikel ini dari seorang Tokoh Ulama Besar Prof.Dr. Ali Jumah Mantan Ketua Umum Mufti Mesir dan seorang masyaikh di Al Azhar University,Cairo Mesir.

Syeikh Ali Jumaàh berkata bahwa setiap waktu memiliki kemuliaannya sendiri, dan setiap fase kehidupan menuntut kesiapan yang berbeda. Di antara bulan-bulan yang sering luput dari perhatian umat Islam adalah bulan Sya‘ban bulan yang datang di antara Rajab dan Ramadan, namun justru menyimpan makna spiritual yang dalam.

Sya‘ban adalah bulan persiapan, bulan penguatan ruhani, sekaligus bulan evaluasi diri sebelum memasuki madrasah agung bernama Ramadan. Dalam sebuah hadis yang masyhur, Rasulullah ﷺ menyingkap makna penting bulan ini ketika beliau memperbanyak puasa di dalamnya. Saat sahabat mulia Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu bertanya tentang hal itu, Nabi ﷺ menjawab:

« ذَٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ »
(HR. Aḥmad dan An-Nasā’ī)

Hadis ini menegaskan bahwa Sya‘ban bukan sekadar bulan penghubung, melainkan bulan diangkatnya amal-amal manusia kepada Allah Ta‘ala. Karena itu, Rasulullah ﷺ ingin amalnya diangkat dalam keadaan terbaik: saat beliau sedang berpuasa.

Kesadaran inilah yang dahulu dihidupkan oleh para salafus shalih. Mereka tidak memandang Ramadan sebagai peristiwa musiman, melainkan sebagai tujuan spiritual tahunan yang disiapkan jauh-jauh hari.

Diriwayatkan dari Mu‘alla bin al-Fadhl bahwa para pendahulu kita berdoa selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadan, dan enam bulan berikutnya agar amal-amal mereka diterima.

Yahya bin Abi Katsir bahkan menyebutkan doa yang senantiasa mereka lantunkan: agar diberi keselamatan hingga Ramadan, diberi keberkahan di dalamnya, dan diterima amal-amalnya.

Lalu, bagaimana seharusnya seorang Muslim menyiapkan diri menyambut Ramadan?

Persiapan itu bukan hanya bersifat fisik, tetapi terutama bersifat ruhani. Menata kembali waktu, menghidupkan disiplin ibadah, membiasakan puasa sunnah, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, qiyamul lail, zikir, dan doa semuanya merupakan latihan jiwa agar tidak gagap saat memasuki Ramadan.

Mengikuti sunnah Nabi ﷺ dengan memperbanyak puasa di bulan Sya‘ban akan meringankan puasa Ramadan. Sebab Sya‘ban adalah jembatan yang menghubungkan kebiasaan lama dengan disiplin baru, dan membiasakan jiwa untuk taat sebelum kewajiban sempurna datang.

Di antara persiapan terpenting adalah mendekatkan diri kembali kepada Al-Qur’an. Membacanya, mentadabburinya, dan berusaha menambah wirid bacaan sejak Sya‘ban akan memudahkan seorang Muslim untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadan. Al-Qur’an bukan hanya bacaan, tetapi cahaya yang menuntun ibadah lainnya. Ia menenangkan hati, melapangkan dada, dan memperkuat tekad. Karena itu, ia tidak layak diperlakukan sebagai bacaan musiman, melainkan sebagai teman setia sepanjang hayat.

Di atas semua itu, ada satu amalan yang menjadi pengikat seluruh ibadah: zikir kepada Allah.

Al-Qur’an menegaskan:

﴿ فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ ﴾
(QS. Al-Baqarah [2]: 152)

Dan Allah Ta‘ala juga berfirman:

﴿ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ ﴾
(QS. Al-‘Ankabūt [29]: 45)

Rasulullah ﷺ menasihati umatnya dengan pesan yang ringkas namun mendalam:

« لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ »
(HR. Aḥmad)

Zikir adalah sumber kekuatan ruhani.

Dengannya, seorang mukmin dimudahkan untuk istiqamah dalam ketaatan dan dijauhkan dari kelelahan spiritual.
Karena itu, persiapan menyambut Ramadan bukan sekadar anjuran, melainkan kebutuhan iman. Siapa yang ingin meraih sesuatu, ia akan mempersiapkannya. Siapa yang ingin berhasil, ia akan bersungguh-sungguh. Dan siapa yang ingin meraih keberkahan Ramadan, ia tidak akan menunggunya tanpa bekal.

Allah Ta‘ala mencela orang-orang yang mengaku ingin melakukan sesuatu, namun tidak menyiapkan diri untuknya:

﴿ وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَٰكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ ﴾
(QS. At-Taubah [9]: 46)

Ayat ini menjadi cermin bagi kita semua: keinginan yang jujur selalu melahirkan persiapan yang nyata.
Maka Sya‘ban adalah saat terbaik untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sungguh menginginkan Ramadan sebagai bulan perubahan, atau sekadar rutinitas tahunan?

Kita berlindung kepada Allah dari kelalaian dan kemalasan. Kita memohon kepada-Nya agar dianugerahi kesiapan sebelum Ramadan, keikhlasan saat menjalaninya, dan penerimaan amal setelah ia berlalu.

اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ، وَسَلِّمْنَا*لِرَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لَنَا
وَتَقَبَّلْهُ مِنَّا تَقَبُّلًا حَسَنًا.

Dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Penulis:
Mohsen Hasan AlHinduan
Direktur Majlis Kajian Kitab Klasik (3 K) Depok Jabar