PALU – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palu, dr. Rochmat Jasin, menghadiri Workshop Koordinasi dan Sosialisasi PAIR Sulawesi CH. 3.2, di Palu, Sabtu (24/01).
Workshop ini mengangkat tema “Exploring Climate-Resilience Health System in Coastal Area Central Sulawesi and Southeast Sulawesi Province”, yang menitikberatkan pada penguatan sistem kesehatan yang tangguh terhadap perubahan iklim, khususnya di wilayah pesisir Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari riset kolaborasi Australia–Indonesia yang melibatkan Universitas Hasanuddin, The University of Melbourne, Universitas Airlangga, dan Universitas Tadulako.
Kepala Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Syahriar, saat membuka kegiatan, mengatakan, sesuai dengan arahan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), perubahan iklim harus diidentifikasi sebagai ancaman serius bagi kesehatan manusia.
Indonesia, khususnya Sulawesi Tengah, dinilai sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim mengingat wilayah lautnya yang luas.
“Perubahan iklim berpotensi meningkatkan berbagai penyakit, seperti malaria dan diare. Oleh karena itu, kesehatan sebagai hak asasi manusia menjadi aspek penting dan pokok dalam pembangunan saat ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, workshop yang melibatkan lintas sektor ini merupakan bagian dari pendekatan terintegrasi dalam mendukung adaptasi perubahan iklim di sektor kesehatan.
Dia berharap, melalui pertemuan ini dapat terbangun sinergitas lintas sektor dalam menyikapi dan mengantisipasi dampak perubahan iklim.
Rektor Universitas Tadulako, Prof. Amar, menyampaikan, kegiatan ini sejalan dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang penelitian.
“Kegiatan ini diharapkan melahirkan gagasan-gagasan baru karena melibatkan sejumlah perguruan tinggi, termasuk dari Australia. Ini menjadi suatu kebanggaan atas kerja sama yang telah terjalin sejak pertemuan pertama yang dilaksanakan di Makassar,” ungkapnya. ***

