RUANGAN 2.5 x 5 meter didominasi cat hitam, diterangi satu bohlam kuning temaram. Di sudut dalam, layar monitor berkedip-kedip, menampilkan riak ombak merah teluk Palu berlatar samar gunung Gawalise yang tercabik tambang. 

Dinding sebelah kanan, kolase foto “Sisa” kejadian bencana yang ter-capture dalam ukuran mini menempel berdampingan seperti bentuk satu cerita tidak selesai. Jika melihat dengan seksama, garis cerita dalam foto tersebut membentuk satu garis linear tentang Teluk Palu dan Pegunungan perlahan memudar kehilangan warna hijau alamnya.

Pohon. Berhadap-hadapan dengan foto wall. Berdiri tegak laki-laki. Kurus, putih, tinggi dengan sedikit kumis tipis dan jenggot yang jarang. Umurnya kurang lebih 30 an. Dialah Kukuh Ramadhan yang menggagas pameran tunggal.  Collector foto, designer pameran dan pemilik cerita yang mengekspresikan rasa ketidakpuasannya terhadap kondisi lingkungan saat ini dengan pameran berjudul “SISA”.

“Ini hari terakhir dari Sisa. Saya memanglah menampilkan tema ini karena semua berasal dari sisa-sisa. Karya lama yang punya irisan dengan lingkungan dan pernah ditampilkan untuk pameran World Bank Resilience,” kata Kuku.

Menurutnya, karya sisa-sisa ini adalah bagian tidak selesai saat penolakan tanggul di teluk Palu. Dari yang tersisa, dia melihat keterhubungan antara teluk dan pegunungan saat ini semakin mengkuatirkan.

Kuku juga menyebut sepenggal batang pohon sisa tebangan terletak di tengah ruang pamer berjudul “Mengusir Rayap”. Dia bercerita tentang makna sisa penggalan batang pohon yang berpori karena dimakan rayap.

Kuku menggambarkan hal tersebut sebagai masyarakat terusir dari tanahnya karena mengalah dengan program investasi untuk daerah.

“Rayap itu kan hidup aman, tenang didalam batang pohon terbuang itu. tidak mengusik, tidak mengambil dan tidak merusak milik orang. Tiba-tiba, ada yang lihat, tertarik dan menguasainya dengan cara mengusir. Saya pikir ini kok sama dengan kita yang diusir karena tanah kita layak untuk pertambangan,” kata Kuku lagi.

SISA adalah bagian dari ekspresi kegelisahan seniman diutarakan melalui karya heterogen dari berbagai macam jenis seperti foto, patung dan benda sisa. Karya seni bercerita tentang kebijakan tidak berpihak ke lingkungan, kemarahan masyarakat tidak mendapatkan solusi perbaikan sistem termasuk regulasi tidak bersolusi. 

Pameran “SISA” berkonsep Heterogen – Installation Art ini digelar di Rumah Tiara Coffee sejak 27 Desember 2025 dan berakhir di 3 Januari 2026, ditutup dengan pemutaran Film Budaya Kaili.

REPORTER : **/IKRAM