Oleh: Dr. Kamridah
Ada satu kekeliruan besar yang diam-diam merayap di hati kita setiap kali memasuki penghujung Ramadan: kita memperlakukannya seperti garis finis. Seolah perjuangan sudah hampir selesai, dan kini saatnya mengendurkan napas. Padahal, tidak ada yang lebih jauh dari kebenaran itu.
Ramadan adalah bulan yang terstruktur dengan indah. Sepuluh hari pertama dibungkus rahmat, sepuluh hari kedua diwarnai ampunan, dan sepuluh hari terakhir — yang kini kita injak — adalah masa pembebasan dari api neraka. Bukan penutup yang biasa-biasa saja. Ini adalah klimaks. Ini adalah mahkota. Ini adalah malam-malam yang di dalamnya tersembunyi satu malam yang nilainya melebihi seribu bulan.
Sindrom ‘Hampir Selesai’
Secara psikologis, manusia cenderung melonggarkan usaha ketika merasa tujuan sudah dekat. Dalam maraton, ini dikenal sebagai phenomenon of easing up. Dalam Ramadan, ia hadir dalam bentuk yang lebih halus: tilawah yang mulai dikurangi, sahur yang terlewat karena malas bangun, shalat tarawih yang mulai ditinggal setengah jalan, dan perhatian yang perlahan bergeser ke katalog baju lebaran.
Kita mengira Ramadan sedang menuju akhir. Padahal, Ramadan sedang menuju puncaknya.
Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Lailatul Qadar bukan legenda. Ia adalah fakta spiritual yang dijanjikan langsung dalam Al-Qur’an — “Malam itu lebih baik dari seribu bulan.” Bayangkan: satu malam beribadah dengan sungguh-sungguh bisa setara dengan melebihi seribu tahun hidup yang penuh amal. Itu bukan promosi spiritual biasa. Itu adalah tawaran yang tidak akan pernah datang dua kali dalam hidup — kecuali kita kembali dipertemukan dengan Ramadan berikutnya.
Dan yang membuat malam ini lebih istimewa: ia disembunyikan. Tidak ada pengumuman. Tidak ada notifikasi. Hanya mereka yang menjaga dan menghidupkan malam-malam ganjil — 21, 23, 25, 27, 29 — dengan penuh harap dan kesungguhan, yang berpeluang menemukannya.
Itikaf: Bukan Pelarian, Tapi Penaklukan
Rasulullah SAW selalu meningkatkan ibadahnya di 10 malam terakhir. Beliau mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malam, dan membangunkan keluarganya. Itikaf — menetap di masjid dengan fokus penuh beribadah — adalah bentuk paling total dari kesungguhan itu.
Di era notifikasi yang tak pernah berhenti ini, itikaf bukan soal melarikan diri dari dunia. Ia adalah deklarasi: bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari semua itu. Bahwa jiwa ini butuh dijeda, diisi ulang, dan dihadapkan kembali pada yang paling esensial.
Jangan Biarkan Lebaran Mencuri Ramadan
Ada ironi yang menyayat: justru di 10 malam terakhir inilah pusat perbelanjaan paling ramai. Justru di malam-malam ganjil yang mungkin menyimpan Lailatul Qadar, kita malah sibuk memilih warna baju, mendebatkan menu ketupat, atau terjebak kemacetan perburuan diskon.
Lebaran itu penting. Silaturahmi itu mulia. Tapi persiapan lahiriah tidak harus mengorbankan persiapan batiniah. Baju baru bisa dicari kapan saja. Lailatul Qadar hanya ada di sini, di malam-malam ini, dan tidak akan menunggu.
Puncak Sebelum Perpisahan
Orang-orang saleh terdahulu menangis memasuki 10 malam terakhir — bukan karena sedih Ramadan hampir usai, melainkan karena khawatir mereka tidak bisa memaksimalkan tawaran terbaik yang Allah bentangkan. Mereka memahami sesuatu yang kita sering lupa: Ramadan bisa saja menjadi Ramadan terakhir kita.
Tidak ada yang tahu apakah napas ini masih akan ada di Ramadan mendatang. Maka 10 malam ini bukan soal ‘menyelesaikan Ramadan’ — ini soal memanfaatkan setiap detik dari anugerah paling mahal dalam kalender spiritual kita.
Jadi, jangan perlakukan 10 malam ini sebagai garis finis. Perlakukanlah ia sebagai garis start dari babak paling menentukan. Bangkitlah lebih awal. Sujud lebih lama. Doakan lebih banyak orang. Buka Al-Qur’an lebih sering. Dan berharaplah dengan sepenuh hati bahwa malam ini — malam ini saja — bisa menjadi malam yang mengubah segalanya.
Karena Lailatul Qadar tidak datang kepada yang menunggu sambil rebahan.
Ia datang kepada yang berdiri, bersujud, dan berjaga.**

