Memaknai Indahnya Masjid Raya Darrusalam Palu Karya Putra Daerah Sulteng

oleh -
Tim pemenang sayembara masjid Agung Darusallam, kiri Rihardi, Dedi Rahmat, Alief Lasimpara dan Tri usai pengumuman pemenang sayembara di kantor Polibu, Gubernur Sulteng beberapa waktu lalu. Foto: Ist

28 SEPTEMBER 2018 silam, akan selalu melekat dalam benak setiap orang yang tinggal di Provinsi, Sulawesi Tengah pada umumnya dan Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi serta kabupaten Parigi Mautong (PADAGIMO), pada khususnya.

Kala itu, peristiwa bencana alam gempa bumi, likuifaksi dan tsunami terjadi, ribuan jiwa melayang, ribuan rumah dan infrastruktur lainnya luluh lantak.

Tidak terkecuali Masjid Agung Darusallam. Masjid kebanggan milik warga Kota Palu, terletak di jalan W.R Supratman, Kelurahan Lere, Kota Palu, juga mendapat imbas kerusakan sebab murka alam tersebut.

Peristiwa alam itu tak bisa dihindari, apalagi Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) merupakan termasuk daerah rawan gempa di Indonesia. Hal inilah menjadi pelajaran, setidaknya bilamana itu terulang. Harus ada mitigasi bencana guna menimalisir korban dan jumlah bangunan infrastruktur yang rusak.

Berkaca dari petaka itulah, putra daerah Sulteng, Alief Lasimpara, ST, IAI, terpanggil hati dan jiwanya untuk bisa memberikan karya terbaik atas bidang ilmu arsistek digelutinya selama ini, bagi pembangunan daerah dengan karya desainnya. Karyanya adalah Desain Pengganti Masjid Agung Darrusalam, yang mana ia ikutkan dalam sayembara.

Saat pengumuman pemenang sayembara, di Gedung Polibu Kantor Gubernur, 20 Mei 2020, desainnya akhirnya keluar sebagai [emenang.

Dalam desainnya, masjid tersebut, dibangun perpaduan dengan konsep modern dan etnik. Diperkirakan dapat menampung 10 ribu jamaah, dengan lahan parkir luas dan taman Khulafaur Rasyidin dan Telaga Rasullulah, akan semakin memanjakan mata dan betah bagi pengunjungnya.

Pembangunannya di lokasi yang sama. Tanah seluas 3,4 Ha akan dibangun kembali masjid megah, yang ditaksir menghabiskan biaya sekitar Rp150 miliar. Rencananya, pembangunannya mulai Maret 2022.

Jurnalis Media Alkhairaat.id, Ikram, berkesempatan menemui Alief Lasimpara, sang arsitek, di tengah sejumlah kesibukan kerjanya. Untuk lebih mengenal sosoknya dan seperti apa motivasi serta konsep filosofi desain masjid Agung ditawarkan, hingga terpilih sebagai nominasi pertama sayembara desain masjid Agung Darusallam.

Desain Masjid Raya Darrusalam tampak dari atas karya Alief Lasimpara dan timnya.

Impian untuk mengaplikasikan ilmu arsitek dimiliki, bak gayung bersambut, paska rusaknya masjid Agung Darusallam, pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah membuka sayembara desain ulang masjid Agung pada 14 Januari 2020.

Sejumlah pamflet, flyer, selebaran sayembarapun, disebarkan baik melalui media cetak, online, maupun mediasosial (medsos) seperti facebook, whattsapp group dan lainnya.

Informasi sayembara desain masjid Agung Darussalam, akhirnya sampai juga kepada pria kelahiran Palu, 09 September 1983, anak pertama dari empat bersaudara, hasil pernikahan dari Sarwin Lasimpara (ayah) dan Kasmasari (Ibu).

Suami dari Nurhayati ini, lalu mengajak rekan sejawatnya dalam dunia arsitek yakni, Rihardi, Dedi Rahmat dan Tri juga merupakan putra tanah kaili, dalam satu tim. Yang mana ia sebagai ketua timnya.

Namun hampir saja mereka tidak jadi mengikuti sayembara, sebab kesibukan masing-masing dan saling berharap siapa yang mendaftar. Pendaftaran tim mereka kepada panitia baru mereka lakukan, di hari akhir hari dan waktu batas pendaftaran.

“Jadi bukan tidak siap, tapi lebih saling berharap siapa yang mendaftarkan tim. Kalau saya sendiri optimis,” aku pegawai di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Sulteng, saat ditemui di tempat dirinya juga mendedikasikan ilmu arsitek dimiliki kepada umat, di Kantor Yayasan Sahabat Masjid, Jalan Aquarius, Nomor 47, Kelurahan Palupi, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Ahad (3/10).

Alief menuturkan, ada sekitar 100-an tim mendaftar sayembara kala itu. Setelah melalui penyaringan dan kompetisi ketat dengan melibatkan juri diantaranya dari budayawan, arsitek, yang penjurianya diketuai guru besar ilmu Islam, Prof. Zainal Abidin.

Hasil penjurian terpilih tiga nominasi terbaik pertama yakni peserta nomor SK-78, diketuai dirinya sendiri, Alief S. Lasimpara, terbaik kedua SP-18 diketua Muh. Syafruddin dan terbaik tiga SK-50 diketuai Sukri Amir.

Sebenarnya dalam desainnya, tim ini mewacanakan Masjid Agung Darrusalam berganti nama menjadi Masjid Raya Al-Ashr. Dimana kata itu diambil dari kata dalam dalam Al-Quran, “Al-Ashr” atau “Waktu”. Sebab kata itu dimaknai sebagai waktu kejadian pada sore hari, terkhusus pada kejadian gempa. Namun tim urusan nama, wewenangnya ada pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.

Ia mengatakan, ada enam aspek menjadi penilaian panitia dalam menentukan pemenang sayembara yakni, struktur bangunan, arsitektural, fungsional, lingkungan, pembiayaan dan operasional perawatan masjid.

Desain Masjid Raya Darrusalam tampak dari depan karya Alief Lasimpara dan timnya.

Adapun kata dia, konsep desain masjid ditawarkan terinspirasi dari kedatangan presiden pertama Republik Indonesia (RI) melihat Kota Palu sebagai mutiara di khatulistiwa. Konsep desain filosofi transformasi bentuk mutiara dengan makna kesabaran.

“Seperti bentuk mutiara yang bulat, konsep dome paling cocok diterapkan bagi daerah rawan gempa menjadi pilihan,” kata bapak dari tiga putri ini yakni Afifah, Nadira dan Delisa.

Untuk mengkombinasikan teknologi modern dan kearifan lokal dalam desain masjid, ia bersama tim melakukan riset untuk memasukan unsur etnis Kaili, suku dominan mendiami Kota Palu. Dalam menyelesaikan desain, Ia bersama tim membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.

Memadukan ornamen Islam dan etnik suku Kaili yang didesain lebih moderen, sehingga memberi kesan unik dan indah dengan tampilan sebuah masjid etnik moderen Islami.

Hal itu biasa bagi Alief, berbekal ilmu dipelajari di bangku Sekolah Teknologi Menengah Negeri (STMN) Palu , serta pengalaman bekerja dengan orang lain, dan dilanjutkan di Universitas Tadulako dalam bidang ilmu yang sama, dalam mendesainya tidak mengalami tantangan.

Ia lalu memaparkan makna filosofi dari konsep desain bersama tim, diantaranya sebagai berikut, dengan penunjuk waktu “Jam besar ” bermakna untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Dengan jam besar berdiameter 20 menjadikan rekor baru “Jam masjid terbesar di Indonesia dan Asia. “

” Dan insya Allah setiap masuk jam salat akan berbunyi (tarhim), dan akan menjadi landmark Kota Palu, “katanya.

Selanjutnya, kata dia, 17 kubah berbentuk mutiara , yang melambangkan “kesabaran”.17 jumlah rakaat salat fardu dalam sehari. Sebanyak 99 profil jendela untuk menempatkan asmaul husna. Kaki menara berbentuk lampu petromak yang melambangkan keceriaan dan terang benderang.

Kemudian kata dia, ketinggian menara mencapai 66,66 meter, diambil dari jumlah ayat alquran 6666 ayat. 30 tinggi bangunan masjid melambangkan 30 juz yang ada dalam alquran.Dengan kaligrafi lafaz Allah diatas bangunan masjid.

Pun dari depan, bentuk rumah ada Sulteng, pintu barat sebagai pintu imam, mengambil bentukan modern banua Tambi,pintu Selatan dan Utara mengambil bentukan modern Lobo. Pintu Timur sebagai pintu utama mengambil bentukan modern Souraja.

“Masih banyak makna filosofi lainnya, ” kata alumni sekolah teknologi negeri (STN) Palu, jurusan listrik ini.

Ia mengatakan, saat ini prosesnya telah masuk kedalam tahap perencanaan, insyallah akhir Desember semua produk yang dibuat telah selesai.

Secara pribadi , Ia berpesan bagi memiliki bidang ilmu arsitek agar bisa membantu agama Allah. Paling tidak minimal membantu pembangunan masjid dengan mendesain. Insya Allah dengan membantu agama Allah, akan banyak keberkahan diperoleh.

“Dan akan samakin ramai dengan karya desain-desain, “katanya.

Satu impiannya, bisa memberikan konstribusi bagi agama Allah dengan 1000 karya desain. Semoga saja amin ya rabbal’alamiin. ***

Reporter: IKRAM
Editor: NANANG