OLEH: Amal Alkhairaaty*
Menjelang haul ke-58 timbul rasa rindu untuk bermuwajah dengan sahibul haul meskipun hanya sekadar imajiner.
Soalnya kerinduan saya akan kenangan lima puluh delapan tahun yang lalu ketika saya berumur kurang lebih dua tahun, tokoh yang saya rindui itu pernah mengecup bibir mungil saya sambil terisak dan berteriak memanggil nama kakak kandungnya “Alwy!!!… saya tidak dapat saudara seperti saudaraku Alwy”.
Peristiwa itu terjadi di rumah Ami Hamid Assagaf, suami dari Ipa Iyam yang terletak depan Masjid Masyhur Istiqlal Manado.
Kisah ini pun saya dengar dari cerita aba saya. Kata aba, waktu itu kita hanya bertiga, saya, aba dan beliau, saya berada di pangkuannya dan beliau bertanya “ente kasih nama siapa anak ente ini?” Aba menjawab “saya beri nama, nama aba saya”.
Sepulang dari Manado beberapa bulan kemudian tepatnya pada tanggal 12 Syawal 1389 H/22 Desember 1969 M terdengar kabar beliau Al-Haj al-Sayyid (HS) Idrus bin Salim Aldjufri berpulang ke Rahmatullah. Inna Lillahi wainnailaihi raji’un.
Dari apa yang saya dengar tentang al-‘alimul al-‘allamah wa al-bahr al-fahhamah al-Haj al-Sayyid Idrus bin Salim Aldjufri dan rekaman-rekaman buah pikiran beliau yang terhimpun dalam syair-sya’irnya serta tulisan-tulisan dari murid-muridnya, saya memperoleh gambaran mengenai pendiri Alkhairaat ini sehingga seolah-olah saya ‘mengenali’ beliau.
Kerinduan saya kian menjadi-jadi karena pelaksanaan haul tahun ini diwarnai sedikit kekisruhan.
Keinginan untuk melakukan wawancara imajiner dengan beliau pun tidak bisa saya tahan.
Tiba-tiba saya sudah berhadapan dengan beliau. Tatapan mata beliau membuat jantung saya berdegub keras, namun senyum tulus dan wajah teduh beliau membuat saya berani mengucapkan salam.
Saya: Assalamu ‘Alaikum yaa jiddy
SIS Aldjufri: “Waalaikum salam yaa hafidy wa hafiid akhy Alwy”
Saya: “Afwan jid, saya melihat kedua mata Jid yang teduh, seperti ada air mata yang menggenang. Apakah dalam keadaan yang damai dan bahagia begini, masih ada sesuatu yang membuat jid prihatin? Apakah gerangan yang diprihatinkan?”
SIS Aljufri: “Cucuku, kau benar. Jid di sini, Alhamdulillah hidup dalam keadaan damai dan bahagia. Seperti yang kau lihat, tidak kurang suatu apa. Kalau ada yang memprihatinkan, itu justru keadaan kalian. Jid selalu mengikuti terus apa yang kalian lakukan dan organisasi yang jid bentuk dua puluh lima tahun setelah ratusan madrasah yang jid bangun.
Jid sebenarnya berharap dengan adanya Perhimpunan Alkhairaat menjadikan anak cucu jid dan abna’ul khairaat akan semakin kompak dan kokoh. Alkhairaat semakin berkembang.
Semakin bermanfaat buat agama dan bangsa. Semakin mendekati cita-citaku untuk mengajak setiap muslim kepada ilmu dan taqwa.
Sebenarnya Jid sudah bersyukur bahwa Alkhiaraat telah terkenal, dengan ruh dan harta yang jid miliki telah dipertaruhkan untuk Alkhairaat.
Kalian sebagai singa-singa dan anak-anaknya, mestinya mengemban amanah ini dengan penuh keikhlasan.
Khittah saya sudah jelas bahwa berdakwah di Alkhairaat bukan untuk mencari harta dan jabatan, tetapi hanya mencari ridha Allah semata. Nasehat-nasehatku sudah sangat lugas tertuang dalam bait-bait syair yang saya gubah.
Tapi kenapa semua itu tidak dipelajari dan dihayati secara cermat untuk diamalkan? Kenapa kemudian malah banyak abna’ul khairaat yang kaget, bahkan seperti lepas kendali? Satu dengan yang lain, saling bertengkar dan saling mencerca. Tidak cukup sekadar berbeda pendapat, saling menfitnah, bahkan saling memutuskan hubungan silaturrahmi. Padahal mereka, satu dengan yang lain bersaudara. Sealmamater. Se agama. Seabna’ul khairaat.”
Saya: Sebenarnya apa penyebabnya yaa Jid?
SIS Aldjufri: “Cucuku! Yang sedang bertikai itu sebenarnya masing-masing sedang membela kemuliaan apa? Mempertahankan prinsip apa? Sehingga begitu ringan mengorbankan prinsip persaudaraan yang agung?.
“Barangkali juga dalam perhimpunan Alkhairaat sudah tersusupi orang-orang yang sama sekali tidak mengenal akhlak dan budi pekerti yang saya ajarkan. Atau ada segelintir orang yang telah menimba ilmu dari Alkhaaraat lalu menyatakan permusuhan sesudah memperoleh ilmunya.
Dulu hal ini pernah menimpa kepada saya sampai saya ungkapkan dalam untaian syair yang saya tulis di kediaman Raja Banggai sambil meneteskan air mata”.
Yang terpenting wahai cucuku hindarilah perpecahan dan jaga persatuan. Dengan perpecahan tak ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan baik
Sebaliknya dengan persatuan, tantangan yang bagaimana pun beratnya insyaa Allah akan dapat diatasi.
Perbedaan pendapat mungkin dapat meluaskan wawasan, tetapi tabaghudh, tahasud, tadabur dan taqathu’, apapun alasannya hanya membuahkan kerugian yang besar dan dilarang dalam Islam.”
Saya: Lalu apa nasehat Jid selanjutnya?
SIS Aljufri: “Nasihatku, lebih mendekatlah kepada Allah. Bacalah lagi lebih cermat sejarah perjuanganku dan kumpulan sya’ir-syairku yang sebagian telah dihimpun oleh Cucuku Saqqaf bin Muhammad dalam al-kaukabu al-dury.
Pahami dan hayati maknanya, lalu amalkan! Waspadalah terhadap provokasi kepentingan sesaat! Berbeda pendapat dengan saudara adalah wajar. Yang tidak wajar dan sangat kekanak-kanakan adalah jika perbedaan pendapat menyebabkan permusuhan di antara sesama saudara.
”Laksanakanlah haulku dengan penuh hikmat. Bacakanlah surah Yaa Siin dan tahlil dengan khusyu’. Hadiahkanlah doa terbaik kepadaku, orang-orang tuaku, anak-anakku dan cucu-cucuku serta murid dan guru-guruku yang sekarang ada bersamaku dalam kebahagiaan di sisi Allah. Ambillah mauidzah hasanah dari beberapa ulama yang zuhud di antara kalian. Bukan dari mereka yang berceloteh di atas mimbar hanya ingin mengkampanyekan kepentingan politik pribadi mereka.
Jangan jadikan peringatan haulku sebagai ajang berbangga-banggaan. Hindari mereka para pembohong yang berdalih cinta, tetapi yang keluar dari mulut mereka adalah kata-kata nista. Sudah itu saja dulu”.
Mendengar nasihat itu, tanpa saya sadari, air mata saya menetes deras dan tak sanggup lagi menatap wajah “Sang pencerah”.
Sayapun pamit sambil mencium tangan dan mengucapkan salam perpisahan. Terima kasih Jid, rinduku kepadamu telah sedikit terobati.
*Wawancara Imaginer dengan shahibul haul yang terilhami dari wawancara imajiner KH. Mustafa Bisri dengan Khadratu Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.

