PALU – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama, Profesor Lukman Thahir, mengajak umat Islam di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) untuk memanfaatkan momentum bulan Ramadhan 1446 Hijriah tahun 2025 Masehi sebagai perekat hubungan kemanusiaan.

Ia menekankan pentingnya mempererat hubungan sosial antar sesama umat manusia di tengah berkah bulan suci tersebut.

“Manfaatkanlah momentum Ramadhan ini untuk mengasah dan meningkatkan kualitas hubungan sosial kita sesama manusia,” ungkap Profesor Lukman Thahir dalam pernyataannya di Kota Palu, Kamis (26/02).

Rektor UIN Datokarama ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang harus disambut dengan kebahagiaan. Namun, ia mengingatkan agar tidak ada kelompok tertentu yang merasa paling benar, hingga menyalahkan kelompok lainnya. Ia menghimbau agar umat Islam menghindari perdebatan dan saling menyalahkan.

“Stop berdebat dan berbantah-bantahan, serta stop menyalahkan orang dan kelompok lain,” ujarnya dengan tegas.

Profesor Lukman juga mengakui bahwa umat Islam di Sulawesi Tengah memiliki tradisi penyambutan bulan Ramadhan yang kaya, seperti pawai obor, ziarah makam, doa syukuran, dan selamatan.

Ia menjelaskan bahwa tradisi ini harus dipandang sebagai bentuk pemanjatan doa dan syukur atas kesempatan untuk kembali berjumpa dengan bulan suci Ramadhan, dan tidak perlu diperdebatkan.

“Tradisi-tradisi yang dilaksanakan secara turun-temurun ini bukanlah sesuatu yang berlebihan sehingga disalahkan. Ini adalah bentuk rasa syukur kita,” ujarnya.

Rektor juga menyoroti perbedaan jumlah rakaat dalam pelaksanaan sholat tarawih, yang bervariasi antara 20 rakaat dan 8 rakaat, serta perbedaan dalam pelaksanaan qunut.

Menurutnya, perbedaan tersebut tidak perlu dipertentangkan, agar hubungan antar sesama umat Islam tetap terjaga dengan baik.

“Mari kita menjaga hubungan yang baik meskipun ada perbedaan dalam pelaksanaan ibadah, karena itu adalah hal yang wajar,” tambahnya.

Profesor Lukman kemudian menceritakan kisah antara Imam Malik dan Imam Syafi’i yang membahas tentang rezeki, sebagai contoh bahwa perbedaan pendapat itu wajar.

Dalam kisah tersebut, Imam Malik berpendapat bahwa rezeki datang melalui tawakal kepada Allah, sementara Imam Syafi’i menekankan pentingnya usaha. Kedua ulama tersebut akhirnya saling memahami dan menikmati kebersamaan meski memiliki pandangan yang berbeda.

“Kisah ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa perbedaan pendapat, mazhab, atau faham bukanlah alasan untuk bertikai. Kita harus tetap menjaga persatuan dan saling menghormati,” ujarnya.

Di akhir pesannya, Profesor Lukman Thahir mengajak umat Islam untuk menyambut Ramadhan dengan penuh kebahagiaan, meningkatkan kualitas ibadah, dan menjaga persatuan di tengah perbedaan.

“Marhaban Ya Ramadhan,” tutupnya.

Reporter : Nanang IP
Editor : Yamin