MOROWALI – PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali terus memperkuat komitmennya dalam pengelolaan lingkungan dengan menerapkan sistem reklamasi berkelanjutan.

Upaya ini dilakukan melalui penyediaan fasilitas pembibitan (nursery), penanaman kembali vegetasi lokal, serta pemulihan topografi area tambang.

Head of Bahodopi Project IGP Morowali, Wafir, menjelaskan bahwa langkah tersebut diperkuat dengan berbagai program Restorasi dan Rehabilitasi Lingkungan yang dirancang secara teknis dan ilmiah untuk memastikan keberlanjutan ekosistem pascatambang.

“Program ini tidak hanya fokus pada pemulihan lahan, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem yang stabil dan berkelanjutan,” ujarnya, baru-baru ini.

Salah satu program yang dijalankan adalah konservasi tanaman lokal dengan metode rootball (gali akar). Sebanyak 2.000 batang tanaman dengan tinggi maksimal 2,5 meter dikonservasi untuk memperkaya jenis vegetasi lokal di area reklamasi.

Langkah ini bertujuan mempercepat proses suksesi alami serta membentuk tegakan hutan yang stabil.

Wafir menambahkan, PT Vale juga melakukan penataan lahan dan revegetasi pada area bukaan non-Vale seluas 19,3 hektare.

“Tahapan kegiatan meliputi perbaikan bentang alam, sistem hidrologi, kontur lahan, penaburan top soil, hingga penanaman tanaman penutup (cover crops) dan bibit pohon pionir,” ujarnya.

Hingga saat ini, perusahaan telah merehabilitasi sekitar 7,3 hektare lahan dengan menanam lebih dari 5.000 pohon di area terbuka non-Vale. Monitoring dilakukan melalui metode sampling dengan intensitas 5 persen.

Dalam mendukung reklamasi, PT Vale mengoperasikan fasilitas nursery dengan memanfaatkan benih lokal yang dipropagasi sebelum pembukaan lahan. Selain itu, ditanam pula jenis tanaman pionir fast-growing untuk mempercepat penutupan tajuk.

Target produksi bibit pada 2025 mencapai sekitar 100.000 batang, dengan kapasitas maksimal hingga 700.000 batang per tahun saat fase operasional penuh.

Metode hydroseeding diterapkan pada area dengan kemiringan lebih dari 33 derajat, seperti jalan tambang. Teknik ini mencakup penaburan jerami, pemasangan jute net, serta penyemprotan benih menggunakan hydroseeder.

Selain mempercepat pertumbuhan vegetasi, metode ini bertujuan mengurangi debu dari aktivitas angkutan serta mengendalikan erosi yang berpotensi meningkatkan kekeruhan air (TSS). Hingga kini, progres kegiatan telah mencapai 8 hektare.