OLEH: Slamet Riadi Cante*

Satu tahun kepemimpinan Gubernur Sulteng, Dr Anwar Hafid dan dr Reny Lamadjido (Anwar-Reny) dalam menakhodai Sulawesi Tengah, dengan membawa visi besar “Sulteng Berani” (Bersama Anwar-Reny), dengan tagline Sulteng Nambaso/Sulteng Hebat.

Tentunya pasangan ini memikul ekspektasi publik yang luar biasa besar. Rakyat Sulteng, yang tersebar dari pesisir Banggai hingga pegunungan Lore, mendambakan perubahan yang tidak sekadar angka statistik, melainkan perubahan yang nyata untuk kesejahteraan mereka yang lebih baik.

Salah satu program yang menjadi perhatian khusus dari sembilan program berani, yang akan menjadi fondasi adalah:

Pendidikan dan Kesehatan

Dalam dua belas bulan pertama, sinyal keberpihakan Anwar-Reny terhadap kualitas SDM mulai terlihat, seperti Program NAMASO Pintar dan NAMASO Sehat, hal ini bukan sekadar akronim politik, akan tetapi sebagai salah satu upaya menggratiskan layanan kesehatan dengan hanya memperlihatkan KTP.

Selain itu pemberian beasiswa bagi anak daerah adalah sebuah langkah populis yang patut diapresiasi
di tengah biaya hidup yang merangkak naik. Selanjutnya akan menjadi jaminan bahwa “anak petani bisa kuliah” dan “orang miskin tidak takut ke rumah sakit”.

Namun, efektivitas program ini tentu harus diuji oleh kesiapan birokrasi pemerintah di lapangan agar tidak terjebak dalam kerumitan, administrasi yang justru akan menghambat akses masyarakat.

Tantangan: Paradoks

Kelimpahan Sumber Daya alam yang dimiliki Sulteng cukup besar yg dapat di kelola dengan baik untuk kesejahteraan rakyat. Namun, memimpin Sulawesi Tengah tidak semudah membalik telapak tangan.

Tantangan terbesar yang dihadapi Anwar-Reny adalah paradoks kelimpahan sumber daya alam seperti nikel, gas dan sebagainya ,namun angka kemiskinan dan stunting di beberapa titik masih menjadi rapor merah yang menghantui.

Berdasarkan data statistik menunjukkan bawa persentase angka kemiskinan pada bulan September tahun 2025 sebesar 10, 52persen meskipun telah terjadi penurunan dari 11,04 persen September 2024. Kemudian Indeks Pembangunan Manusia tahun 2025 meningkat 72, 82 ( 0,58 point).

Tantangan strategis lainnya yang harus dijawab dalam tahun-tahun mendatang adalah Hilirisasi yang berkeadilan bagaimana memastikan bahwa investasi triliunan rupiah di Morowali dan sekitarnya tidak hanya menjadi penonton bagi tenaga kerja lokal, tetapi benar-benar menjadi penggerak ekonomi kerakyatan.

Keseimbangan ekologi juga salah satu aspek penting yang patut menjadi perhatian .Kemudian ambisi pembangunan infrastruktur dan industri jangan sampai mengabaikan kelestarian lingkungan, yang berujung pada bencana ekologis bagi generasi mendatang.

Konektivitas wilayah, dengan kondisi geografis yang menantang, diharapkan dapat memperpendek jarak antara pusat pertumbuhan ekonomi dengan wilayah terisolasi, akan menjadi pekerjaan rumah yang perlu menjadi perhatian.

Demikian juga dgn infrastruktur digitalisasi, salah satu harapan besar terhadap penguatan E-Government.

Kini masyarakat mendambakan pemerintahan yang lebih responsif dan transparan. Transformasi digital dalam layanan publik bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk memangkas praktik yang kurang terpujin terhadap birokrasi pemerintah.

Harapan publik ke depan adalah melihat Anwar-Reny mampu mengkonsolidasikan seluruh kepala daerah kabupaten kota agar dapat bergerak dalam satu irama dan frekwensi , ego sektoral harus dikubur demi kepentingan kolektif 13 kabupaten/kota.

Satu tahun kepemimpinan merupakan putaran waktu yang relatif singkat untuk mengubah wajah sebuah provinsi seluas Sulawesi Tengah. Namun, satu tahun sudah cukup untuk meletakkan batu pertama transformasi.

Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi 8,47 persen setelah Provinsi Maluku Utara tidak memiliki arti , jika kesenjangan tetap menganga.

Olehnya yang dibutuhkan adalah kehadiran Birokrasi pemerintah dalam setiap kebutuhan dan kesulitan yang dihadapi oleh rakyat. Masyarakat Sulteng dibawa kepemimpinan duet Anwar-Reny berharap akan membawa daerah ini lebih maju, dan sejahtera dan kini telah memulai langkahnya, salah satu kata kunci adalah konsistensi.

Program “Berani” dan Sulteng Nambaso harus menjadi basis utama dalam merumuskan dan mengimplementasikan berbagai kebijakan publik yang pro-rakyat.

Perjalanan masih panjang, dan rakyat Sulteng akan selalu menanti perubahan yang lebih baik, Selamat dan Sukses …Semoga

*Dosen FISIP Untad Bidang Ilmu Kebijakan Publik