Puslit-SBPS Untad Serahkan Biografi Singkat 12 Raja Palu kepada Wali Kota

oleh -
Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid , menerima naskah biografi singkat tokoh bersejarah Palu dari Ketua Puslit SBPS Untad, Agustan T. Syam, di ruang kerja wali kota, Jumat (08/07). (FOTO: HUMAS PEMKOT PALU)

PALU – Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid , menerima naskah biografi singkat tokoh bersejarah (raja-raja Palu) yang akan dijadikan relief monumen Taman Nasional Kota Palu.

Naskah biografi itu diserahkan oleh Ketua Pusat Penelitian (Puslit) Seni-Budaya, Pariwisata dan Sejarah (SBPS) Universitas Tadulako (Untad), Agustan T. Syam, di ruang kerja wali kota, Jumat (08/07).

Adapun 12 raja tersebut adalah Magau Pue Nggari, Magau Labugulili, Magau Malasigi, Magau Daelangi, Magau Djala Lembah, Magau Lamakaraka, Magau Raja Maili, Magau Jodjokodi, Magau Parampasi, Magau Idjazah, Magau Djanggola dan Magau Tjatjo Idjazah.

“Ada hal yang harus kita ekspos kepada masyarakat terutama tentang kearifan masa lalu misalnya tokoh-tokoh bersejarah raja-raja Palu,” ujar Agustan yang juga budayawan itu.

Menurutnya, monumen Taman Nasional Kota Palu akan dibuat relief tentang raja-raja Palu dengan tujuan memberikan informasi kepada masyarakat tentang sejarah masa lalu Kota Palu.

Selain itu, kata dia, sebagai literasi bagi masyarakat, juga sangat berguna bagi ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan.

Agustan mengungkapkan, secara teknis pembangunan relief Monumen Taman Nasional Kota Palu akan dilakukan dalam waktu dekat. Bulan ini jug akan dilaunching.

Tetapi, lanjutnya, proses tersebut telah dilakukan dengan riset dan penelitian tentang para tokoh Raja Palu.

“Penelitiannya sudah dilakukan sejak tahun 2017 berupa laporan penelitian dan penelitian-penelitian lain yang kami himpun,” ungkapnya.

Kata dia, relief monumen sejarah Kota Palu juga dapat diketahui secara umum melalui teknologi digital yang disertai sistem barcode.

“Dengan menaruh HP-nya kemudian bisa melihat data dengan jelas informasi yang ada di dalam,” katanya.

Agustan berharap, masyarakat Kota Palu mengetahui sejarah sehingga tidak menjadi sesuatu yang hilang.

“Karena sejarah merupakan akar kebudayaan. Tanpa mengetahui sejarah, maka generasi itu akan sulit dan kehilangan arah. Ini merupakan suatu terobosan di bidang kebudayaan,” tandasnya.

Reporter : Hamid/Editor : Rifay