PALU – Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Fakultas Teknik Universitas Tadulako (Untad) bekerja sama dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng), kembali menyelenggarakan Pengambilan Sumpah Insinyur melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Angkatan X Tahun 2026, di Aula Fakultas Kedokteran Untad, Rabu (11/02/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan profesi keinsinyuran di daerah sekaligus mendorong ketersediaan insinyur profesional yang kompeten dan berintegritas.
Prosesi sumpah insinyur tersebut dihadiri pimpinan universitas, pengurus PII Sulteng, dosen, serta praktisi industri.
Kegiatan ini merupakan tahapan akhir bagi peserta RPL sebelum resmi menyandang gelar Insinyur (Ir.) dan menjalankan praktik profesi sesuai ketentuan perundang-undangan.
Dekan Fakultas Teknik Untad, Ir. Andi Arham Adam, S.T., M.Sc (Eng)., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasi kepada PII Sulteng serta seluruh dosen dan praktisi industri yang berkolaborasi dalam proses pendidikan profesi insinyur.
Andi Arham menegaskan, kebutuhan tenaga rekayasa yang andal dan bertanggung jawab sangat nyata di Sulteng, terutama dalam mendukung pembangunan infrastruktur dasar, pemukiman, layanan air bersih, dan industrialisasi berwawasan lingkungan.
“Saya ingin menegaskan bahwa gelar dan kewenangan profesi harus sejalan dengan etos pelayanan ilmu yang saudara miliki untuk menjawab tantangan rakyat, bukan sekadar memenuhi target proyek,” ujar Andi Arham Adam dalam sambutannya.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap keputusan dan pekerjaan insinyur memiliki konsekuensi besar terhadap keselamatan manusia dan lingkungan.
Menurutnya, profesionalisme harus dibangun di atas integritas, komitmen terhadap mutu, serta keberanian mengambil sikap terhadap pekerjaan berisiko.
“Insinyur yang hebat adalah yang mampu berkata tidak kepada suatu pekerjaan yang berbahaya,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor Untad, Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., yang juga menjabat Ketua PII Wilayah Sulteng, menyoroti tantangan nasional dalam pemenuhan tenaga ahli teknik.
Rektor menyebut, rasio insinyur di Indonesia masih tergolong rendah, yakni sekitar 2.600 hingga 3.000 insinyur per satu juta penduduk, dan tertinggal dibanding sejumlah negara lain.
Menurut Prof. Amar, kondisi tersebut berdampak pada pembangunan infrastruktur dan teknologi, termasuk ketika keterbatasan sumber daya manusia lokal membuat sebagian investor mendatangkan tenaga profesional dari luar daerah atau luar negeri.
“Rasio insinyur kita masih rendah. Karena itu, penguatan Program Profesi Insinyur menjadi langkah strategis agar SDM keinsinyuran di daerah semakin siap dan berdaya saing,” katanya.
Ia menambahkan, penguatan profesi tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah, tetapi juga kualitas. Selain kemampuan teknis, insinyur dituntut menjunjung tinggi etika, integritas, dan tanggung jawab profesi.
Prof. Amar menekankan pentingnya kepatuhan terhadap kode etik serta kepemilikan Sertifikat Registrasi Insinyur (STRI) sebagai bagian dari perlindungan keselamatan publik dan menjaga marwah profesi.
Melalui prosesi sumpah Insinyur jalur RPL Angkatan X Tahun 2026 ini, Fakultas Teknik Untad bersama PII Wilayah Sulteng menegaskan komitmen untuk terus memperkuat pendidikan profesi serta memperluas kolaborasi dengan dunia industri.
Para insinyur yang dilantik diharapkan mampu menghadirkan solusi rekayasa yang aman, bermutu, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. *

