MOROWALI – Progres pembangunan proyek Indonesia Growth Project (IGP) Morowali milik PT Vale Indonesia terus menunjukkan perkembangan signifikan.
Hingga pekan ketiga tahun 2026, progres keseluruhan proyek tersebut telah mencapai 98,82 persen, menandakan proyek sudah berada pada tahap akhir penyelesaian konstruksi sekaligus mulai memasuki fase operasional.
Head of Bahodopi Project IGP Morowali, Wafir, belum lama ini menjelaskan bahwa sebagian besar infrastruktur utama proyek telah rampung dibangun.
“Fasilitas penting seperti kantor operasional, nursery, overpass, jalan tambang, serta sediment pond telah selesai dibangun. Saat ini beberapa fasilitas lainnya masih dalam tahap penyelesaian akhir,” ujarnya.
Meski progres pembangunan hampir selesai, pengembangan proyek ini tidak terlepas dari sejumlah tantangan di lapangan. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah kondisi alam, terutama curah hujan tinggi yang kerap terjadi di wilayah Morowali.
Curah hujan yang tinggi berpotensi memperlambat berbagai aktivitas pertambangan, mulai dari proses penggalian, pengangkutan material, mobilisasi ore menuju pelabuhan, hingga pekerjaan konstruksi.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan menerapkan berbagai strategi berbasis keselamatan kerja.
Langkah-langkah tersebut antara lain penghentian sementara aktivitas ketika curah hujan tinggi, penerapan sistem manajemen pengelolaan air di area operasi, serta penguatan prosedur pengamanan area kerja sesuai standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Menurut Wafir, pendekatan tersebut dilakukan untuk memastikan keberlangsungan proyek tetap terjaga tanpa mengabaikan aspek keselamatan pekerja.
“Pendekatan ini bukan hanya untuk menjaga kelancaran proyek, tetapi juga memastikan seluruh tenaga kerja yang terlibat tetap terlindungi selama aktivitas operasional berlangsung,” katanya.
Sementara itu, PT Vale menargetkan proyek IGP Morowali dapat memasuki operasi penuh (full operation) pada Januari 2026, beriringan dengan penyelesaian proyek ekspansi yang juga dijadwalkan rampung pada tahun yang sama.
Aktivitas penambangan di proyek ini sendiri telah dimulai sejak April 2025, kemudian dilanjutkan dengan pengiriman ore pertama pada akhir Juli 2025. Hingga saat ini, perusahaan tercatat telah menjual sekitar 2,2 juta ton ore, yang menunjukkan sistem operasional, rantai pasok, serta kesiapan logistik telah berjalan dengan baik.
Penjualan ore tersebut merupakan strategi jangka pendek sembari menunggu penyelesaian pembangunan fasilitas pengolahan atau smelter di kawasan Sambalagi Island, yang direncanakan rampung pada tahun mendatang.
Dengan strategi tersebut, ore yang telah ditambang tetap dapat memberikan nilai ekonomi bagi perusahaan maupun daerah, sekaligus menjaga keberlanjutan aktivitas operasional selama masa transisi menuju beroperasinya fasilitas pengolahan.
Dalam pengembangan proyek ini, PT Vale juga membangun sinergi dengan pemerintah daerah, khususnya Morowali Regency dan Central Sulawesi.
“Kolaborasinya mencakup koordinasi perizinan, dukungan pembangunan infrastruktur pendukung, serta keterlibatan dalam berbagai forum strategis yang membahas perkembangan proyek,” kata Wafir.

