POSO – Program PROPOSOKU terus menunjukkan peran strategis dalam memperkuat reintegrasi sosial di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
Program ini menjadi salah satu inisiatif berkelanjutan yang fokus pada pemulihan sosial dan penguatan kohesi masyarakat pascakonflik, Jumat (6/2).
Lembaga Penguatan Masyarakat Sipil (LPMS) Poso bekerja sama dengan The Habibie Center (THC) serta Yayasan Sikola Mombine Palu menjalankan program tersebut dengan dukungan pendanaan dari Sasakawa Peace Foundation Jepang. Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun kembali kepercayaan sosial di tengah masyarakat.
Ketua Pembina PROPOSOKU, Budiman Maliki, S.Sos mengatakan, sejak dilaksanakannya program PROPOSOKU pada 2022 hingga 2025, program ini difokuskan sebagai rehabilitasi dan reintegrasi sosial bagi mantan narapidana terorisme (eks napiter) di wilayah Poso.
“Pendekatan yang kami gunakan menitikberatkan pada pendampingan berkelanjutan dan pemberdayaan sosial,” ujarnya.
Pendampingan dilakukan secara inklusif terhadap para peserta program yang dikenal sebagai Sahabat PROPOSOKU, baik dari komunitas Muslim maupun Nasrani.
“Dalam program ini kami melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk tokoh masyarakat, tokoh agama, serta unsur pemerintah daerah,” imbuh Budiman.
Beragam kegiatan dijalankan dalam program ini, mulai dari penguatan kapasitas individu, dialog lintas kelompok, hingga pendampingan sosial dan ekonomi. Langkah tersebut dinilai penting untuk mendorong kemandirian sekaligus mempercepat proses penerimaan sosial di lingkungan masyarakat.
Sementara itu, Ketua LPMS Poso, Endriati Nur, menegaskan bahwa PROPOSOKU tidak hanya berfokus pada individu eks napiter, tetapi juga pada ekosistem sosial di sekitarnya.
“Dengan begitu, reintegrasi tidak berjalan sepihak, melainkan melibatkan komunitas sebagai bagian dari solusi,” kata Endriati Nur.
Project Manager Program PROPOSOKU The Habibie Center, Imron Rasyid mengatakan, program ini dirancang untuk memulihkan relasi sosial yang sempat terfragmentasi akibat konflik dan kekerasan masa lalu.
“Kami berupaya membuka ruang aman agar para eks-napiter bisa kembali berinteraksi secara sehat dengan lingkungan sosialnya,” tukasnya.
Ia menilai pendekatan kolaboratif dalam Program PROPOSOKU menjadi contoh praktik baik (best practice) dalam upaya pencegahan ekstremisme berbasis masyarakat, karena dinilai efektif mengedepankan dialog, kepercayaan dan keberlanjutan.
“Melalui dukungan Sasakawa Peace Foundation Jepang, kami berharap Program PROPOSOKU terus berkontribusi dalam menciptakan stabilitas sosial dan perdamaian jangka panjang di Poso, sekaligus memperkuat upaya reintegrasi sosial yang berkeadilan dan inklusif,” tandasnya.

