PALU – Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. KH. Zainal Abidin, menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Nurul Huda, Kelurahan Boyaoge, Kota Palu, Jumat (20/2), bertepatan dengan 2 Ramadan 1447 Hijriah. Dalam khutbahnya, ia menekankan bahwa puasa Ramadan tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi harus berdampak pada perbaikan akhlak dan hubungan sosial.

Mengawali khutbahnya, Prof. Zainal Abidin mengisahkan sebuah peristiwa ketika Rasulullah SAW mengucapkan kata “amin” sebanyak tiga kali. Para sahabat pun bertanya-tanya, doa siapa yang diaminkan oleh Rasulullah.

Dijelaskan bahwa saat itu malaikat berdoa kepada Allah SWT agar tidak menerima puasa tiga golongan. Pertama kata Prof. Zainal anak yang durhaka kepada orang tua, suami istri yang tidak menjaga keharmonisan rumah tangga, serta orang-orang yang memiliki konflik dan tidak menyelesaikannya dengan baik. Doa tersebut kemudian diaminkan oleh Rasulullah SAW.

“Dari kisah ini, kita memahami bahwa puasa sangat terkait dengan akhlak. Anak yang durhaka kepada orang tua itu bermasalah secara moral. Suami istri yang tidak harmonis juga bermasalah. Begitu pula hubungan antarsesama yang tidak rukun,” ujarnya.

Ia menandaskan, ibadah dalam Islam hampir seluruhnya mengajarkan nilai moral dan kepedulian sosial. Bahkan dalam salat, umat Islam diajarkan menoleh ke kanan dan ke kiri saat salam sebagai simbol kepedulian terhadap sesama.

“Untuk mengetahui kualitas ibadah kita, lihatlah akhlak kita. Semakin baik akhlak seseorang, semakin baik pula kualitas ibadahnya. Jika ibadah tidak berdampak pada perilaku, maka ibadah itu tidak bermakna secara maksimal,” katanya.

Ia juga mengingatkan kisah tentang seseorang yang mengaku berpuasa, namun masih gemar menggunjing dan memarahi orang lain. Secara fikih puasanya mungkin sah, tetapi secara moral tidak memberi dampak positif dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penjelasannya, Guru Besar UIN Datokarama Palu itu juga menyinggung ketentuan fidyah bagi mereka yang tidak mampu berpuasa karena alasan syar’i. Fidyah yang diberikan kepada fakir miskin, menurutnya, menunjukkan bahwa ajaran puasa mengandung dimensi sosial yang kuat.
“Kalau seseorang tidak mampu berpuasa lalu menggantinya dengan membayar fidyah kepada orang miskin, itu artinya Islam mengajarkan kepedulian dan membantu sesama yang membutuhkan,” katanya.

Ia menambahkan, kualitas keberagamaan seseorang juga tercermin dari interaksi sosialnya. Seseorang tidak bisa mengatasnamakan agama jika tidak mampu membangun hubungan yang baik dengan orang lain.

“Semakin baik interaksi sosial kita, semakin baik pula kualitas keberagamaan kita. Harmoni dan kepedulian adalah inti dari ajaran Islam,” ujarnya.

Usai pelaksanaan salat Jumat, kegiatan dilanjutkan dengan dialog dan tanya jawab seputar isu-isu puasa Ramadan. Dialog dipandu pengelola Masjid H. Muhammad Munif A. Godal dan turut dihadiri mantan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama, Abdul Aziz Godal, serta puluhan jemaah yang hadir.