Oleh : Azman Asgar
Narasi rasisme Gus Fuad Plered menggelinding kemana-mana. Tidak hanya santri Alkhairaat di Palu Sulawesi Tengah yang merasa terusik, semua Abnaul Khairaat di seluruh wilayah ikut marah.
Polemik usulan Pahlawan Nasional dari Masyarakat Indonesia Timur, Sulawesi Tengah, justru berujung pada sikap arogansi dan rasisme seorang Fuad Plered.
Banyak kekacauan pikiran yang disampaikan oleh Gus Fuad Plered. Belum tahu pasti, dari mana dan siapa yang memasok informasi sesat itu ke dalam kepalanya. Yang tersisa di otaknya hanya kebencian.
Polemik Gus Fuad Plered ini harus di lihat sebagai proses pemurnian kembali nama besar ‘Guru Tua’ Habib Idrus Bin Salim Aljufri. Sekaligus menebalkan kecintaan kita terhadap Alkhairaat dan bangsa Indonesia.
Sebelum polemik ini semakin melebar, bagi saya, ada dua hal yang penting untuk segera dilakukan.
Pertama ; Memperbanyak referensi tentang sejarah Habib Idrus Bin Salim Aljufri. Semua bentuk histori Guru Tua mesti disuguhkan secara menyeluruh.
Dari argumen Gus Fuad Plered itu saya berkesimpulan bahwa ada paradigma ‘Jawa sentris’ dalam kepalanya. Ia memandang bahwa sejarah Nusantara itu seolah hanya berada di Jawa. Sesuatu hal yang justru bertentangan dengan prinsip dasar Nasionalisme.
Cerita-cerita heroik itu seolah hanya jadi milik mereka, di luar itu mereka lebih mudah melegitimasi siapapun dengan istilah pengkhianat. Buruknya lagi, orang seperti Gus Fuad bisa mengambil legitimasi Tuhan untuk melengkapi naluri kebenciannya.
Gus Fuad mungkin lupa menyadur pesan Tuhan dalam Al-Quran, ‘Dan jangan sekali-kali kebencian kalian terhadap kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil’
Seluruh Abnaul Khairat, atau mereka yang merasa mencintai Guru Tua, ini momentum baik untuk menjelaskan secara terang benderang siapa sosok Guru Tua dan peran strategis apa yang Guru Tua mainkan dalam menentang Kolonialisme (bukan hanya Kolonialisme Belanda).
Guru Tua penentang mitologi, bagi saya, ia peletak abad pencerahan Islam generasi kedua di Sulawesi Tengah setelah Syaikh Abdullah Raqi (Dato Karama). Pendidikan di pilih sebagai senjata perjuangan melawan kebodohan dan kolonialisme. Catatan ini tidak akan sampai ke Fuad Plered.
Sejarah perjuangan Habib Idrus Bin Salim Aljufri sudah harus diabadikan dalam kaidah standar akademik, melibatkan ahli sejarah, tidak lagi berdasar pada budaya tutur secara turun temurun. Ini kelemahan yang harus kita koreksi bersama sebagai dasar mempercepat usulan Guru Tua sebagai pahlawan Nasional.
Kedua ; memurnikan kembali ajaran-ajaran Guru Tua. Pertentangan antara Kelompok Baalawi dengan Pegiat Islam Nusantara menjadi pemantik utama munculnya polemik seperti ketidakpuasan atas klaim Habaib kepada ulama-ulama tertentu.
Puncaknya, ada pada tesis Kiyai Imad yang sampai saat ini masih menjadi diskursus ditingkatan intelektual Islam. Sependek yang saya tahu, belum ada anti tesis dari penelitian Kiyai Imanuddin itu.
Memang ada banyak berseliweran kelompok yang mengklaim turunan Nabi tapi mempraktikkan hal-hal yang jauh dari sikap kemuliaan Nabi, baik kata maupun perilaku.
Beberapa bulan lalu saya melihat di kanal Youtube seorang yang diklaim Habaib (saya tidak tahu persis namanya), ia begitu mudah mengklaim bahwa yang menemukan pertama kali warna bendera Merah Putih adalah Guru Tua.
Saya belum tahu, apa rujukan seorang Habib itu mengklaim hal demikian. Padahal, sebagai Abnaul Khairaat, saya tidak pernah membaca referensi atas klaim yang ia sampaikan dalam dakwahnya.
Yang saya tahu, Habib Idrus pernah membuat syair yang indah untuk menyongsong kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Guru Tua memuji Sukarno dan menjunjung tinggi merah putih.
Itu sama persis dengan klaim beberapa ulama yang mengatakan bahwa Pancasila bersumber dari ‘rukun Islam’. Teori ini juga lemah secara akademik, padahal Pancasila tidak hanya menyerap nilai keislaman, melainkan semua Agama, budaya lokal dan beragam Ideologi.
Klaim seperti itu terdengar sederhana, tapi berbahaya bagi sejarah bangsa Indonesia. Kita ingin menghindari kebenaran yang bersumber dari kebohongan yang disampaikan secara berulang.
Cerita kufarat semacam itu juga bisa membelah bangsa, menegasikan peran pemikir di Tanah Air, bahkan lebih parah, bisa menajamkan kembali pertentangan pemikir Islam di Nusantara dengan pemikir Islam puritan.
Padahal, ada banyak catatan sejarah yang menuliskan bagaimana ikatan persahabatan Habib Idrus Bin Salim Aljufri dengan Pendiri Nahdatul Ulama KH. Hasyim Asyari. Tidak heran ada kesamaan paling mencolok antara Alkhairaat dan NU dalam praktik muamalah.
Banyak hal yang janggal bagi saya dipertontonkan secara terbuka oleh beberapa orang pendakwah, bahkan yang mengklaim diri Habaib. Misalnya, menyembah kuburan, atau menjual sisa minuman orang-orang yang mengklaim diri sebagai Habaib kepada orang miskin, dengan harapan dapat jatah keberkahan.
Jujur, selama menimba ilmu di Alkhairaat, saya tidak menemukan praktik pendidikan seperti itu. Entah, dari mana asal muasalnya. Metode dakwah sejenis itu harus dijernihkan kembali. Agama itu sampai kepada mereka yang berakal.
Terlepas dari dua hal penting yang saya urai di atas, kalimat yang dipilih Fuad Plered dalam mengekspresikan ketidakadilan pikirannya terhadap Guru Tua adalah kekeliruan yang harus segera di proses secara hukum.
Tak ada kejernihan pikiran, apalagi keilmiahan yang ia jelaskan kecuali kebencian dan kesombongan yang memunggungi latar belakang argumentasinya.
Sekarang, momentum paling baik mengurai kembali sepak terjang Guru Tua untuk Bangsa Indonesia secara lebih baik, disiplin dan bertanggung Jawab. Bagi saya, Guru Tua layak mendapat gelar Pahlawan Nasional.
Riwayat Penulis :
- Pernah belajar di MDA Alkhairaat Karemea Taipa,
- Alumni Aliyah Alkhairaat Pusat Palu Tahun 2007,
- Alumni Universitas Alkhairaat angkatan 2010.