PJ Bupati Donggala Minta Kades Peka Terhadap Warga Miskin

oleh -
Pj Bupati Donggala Rifani Pakamundi saat rapat sosialisasi, di Aula Kantor Bupati, Senin (12/2). (FOTO: MAL/IRMA)

DONGGALA – Pj Bupati Donggala Moh Rifani Pakamundi berharap tingkat kemiskinan Kabupaten Donggala yang masih berada di urutan ke-12, bisa menurun. Paling tidak berada di peringkat ke-4 se Sulteng.

“Apalagi informasi terakhir posisi Kabupaten Donggala itu berada di peringkat 12 dari kabupaten kota. Angka kemiskinan di Kabupaten Donggala sangat tinggi,” ujar Pj Bupati kepada 49 Kades di Kabupaten Donggala yang mengikuti rapat sosialisasi, di aula kantor Bupati, Senin (12/2).

Olehnya dia berharap, anggaran APBDes, bisa digunakan pada program penuntasan kemiskinan.

“Kalau ada di dusun atau di desa masyarakatnya ditemukan mati karena kelaparan, yang paling berdosa itu pertama kepala dusunnya, kemudian kadesnya kemudian camatnya barulah PJ bupatinya juga ikut berdosa. Jadi jangan sampai ada masyarakat kita yang kelaparan, atau tidak ada beras,” katanya.

Dia menyarankan para Kades, mesti sering memantau rumah warga, dan bertanya tentang kondisi mereka.

“Kalau tidak ada berasnya mereka dibantulah sedikit. Apalagi ada dana APBDes, tapi jangan juga Kades menggunakan dana operasional! Kalau ada sisikanlah sedikit supaya ada peran kita dan upaya kita untuk menurunkan angka kemiskinan di Kabupaten Donggala,” ujar Rifani.

Dia mengingatkan, Pemerintah Kota Palu yang merupakan anak dari Kabupaten Donggala, kini Pendapatan Asli Daerah (PAD)-nya mencapai 492 miliar. Pemkot Palu banyak membuat program-program di antaranya padat karya dan lain-lain, sementara Donggala PAD-nya sangat minim, hanya 60 miliar.

“Bagaimana caranya kita bisa meningkatkan PAD, salah satu cara yakni dengan mendatangkan investor supaya jika mereka berinvestasi di Donggala Pemkab, ada pemasukan seperti pajak masuk, ada retribusi masuk dan uangnya kita pakai membangun,”

Dia mengatakan, jika banyak pendapatan, maka banyak juga pembagian ke masyarakat melalui program-program kemiskinan dan stunting.

Reporter: IRMA
Editor: NANANG