PALU – Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sulawesi Tengah menggelar pasar tani, sebagai upaya mendekatkan para konsumen pada produk-produk lokal yang berkualitas.
“Upaya kita dari pemerintah provinsi untuk mendekatkan para petani sebagai produsen, dengan para konsumennya langsung tanpa perantara,” kata Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura, Tri Iriana Lamakampali kepada wartawan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (18/11).
Tri Iriana menjelaskan beberapa hal lain yang menjadi tujuan dari pasar tani, adalah untuk memperpendek penjualan guna mendapatkan harga yang layak bagi para petani.
Sebab dalam kondisi pandemic covid seperti saat ini, kalangan petani rentan dimanfaatkan oknum-oknum tengkulak untuk memonopoli harga di pasaran.
Selain bagi para petani, keuntungan dari segi harga yang ditunjang dengan kualitas produk lokal, juga diperoleh para konsumen.
“Karena pada murah, ini langsung saja petani dan konsumennya kan. Jadi kita bicara kualitas juga di sini, karena harga ini harus ada kepantasan bagi petani maupun konsumen, namun satu yang pasti dibanding pasaran umumnya di sini lebih murah,” jelasnya.
Ia menambahkan saat ini kondisi ketahanan pangan bagi masyarakat Sulawesi Tengah dalam kondisi normal. Pihaknya menjamin antara kebutuhan dan ketersediaan bagi masyarakat masih akan terpenuhi hingga berakhirnya tahun 2021 nanti.
Hanya bawang merah yang hingga kini belum dapat dikendalikan dalam segi harga. Ia menyebut dalam pasar tani, bawang merah dibandrol dengan harga Rp20 ribu per kilogramnya, sedangkan harga pasaran dalam pantauan media ini, bawang merah ada pada harga Rp25 ribu per kilogramnya.
“Namun sesuai pantauan kami setiap bulan itu memang berpengaruh pada inflasi, tapi itu masih bisa ditekan,” lanjutnya.
Pasar tani yang digelar Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura diikuti 70 petani lokal yang berasal dari wilayah Palu, Parigi, Sigi dan Donggala.
Di tempat yang sama petani asal Kelurahan Petobo, Kota Palu, Suwadi mengatakan kehadiran pasar tani memberikan dampak yang positif bagi komoditas yang dijajakannya.
“Kalau di sini kita langsung ketemu dengan ibu-ibu rumahan langsung. Sementara kalau ke pasar kita hanya lewat pengepul dan juga pasti kita bersaing di sana. Jadi lebih baik kita di sini saja, harganya lebih pas dan tentu komoditas yang kita punya banyak laku,” katanya, Kamis Pagi.
Suwadi juga menerangkan, hingga kini komoditas bawang merah dan bawang putih masih terus disuplai dari daerah-daerah tetangga, seperti Gorontalo dan Makassar. Sementara komoditas lain semacam tomat dan cabai, para petani lokal masih mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Sulawesi Tengah.
Rep: Faldi/Ed: Nanang