PALU – Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Asrif, mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian tahun 2024, yang menghasilkan 42 buku cerita dwibahasa di Sulawesi Tengah. Sebelumnya pada tahun 2023, sebanyak 32 buku bacaan anak.
Buku-buku ini ditulis dalam bahasa daerah setempat dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Pada tahun 2023 kata Asrif, buku bacaan anak itu ditulis dalam Bahasa Indonesia, lalu diterjemahkan kedalam bahasa daerah. Sedangkan di tahun 2024, dari Bahasa Daerah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.
“Jadi bukan bahasa Indonesia ke bahasa daerah, melainkan bahasa daerah yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sebab, jika dimulai dari bahasa Indonesia, struktur bahasa daerah menjadi aneh. Prosesnya diawali dengan penulisan dalam bahasa daerah, lalu diterjemahkan,” ujar Asrif dalam acara peluncuran buku cerita dwibahasa di Aula MAN Negeri 2 Palu, Sabtu (28/12).
Asrif menegaskan pentingnya menjaga kedaulatan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, tanpa mengabaikan peran bahasa daerah. Menurutnya, menjaga bahasa Indonesia adalah kewajiban kewarganegaraan, sementara menjaga bahasa daerah kewajiban sebagai warga etnis.
“Indonesia membuktikan bahwa kita berdiri teguh dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bahasa daerah menjadi identitas kita, sementara bahasa asing hanya sebagai tambahan yang digunakan sesuai kebutuhan sebagai pengembangan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Palu, Syamsul Syaifuddin, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Balai Bahasa Sulteng dalam melestarikan bahasa daerah dan mengembangkan literasi anak-anak.
“Kami sangat mendukung kegiatan ini. Semoga karya-karya seperti ini dapat mempererat kecintaan anak-anak pada bahasa dan budaya daerah mereka, sekaligus memperkaya wawasan tentang kekayaan budaya Indonesia,” kata Syamsul.
Ia menambahkan, bahasa Indonesia adalah simbol kebanggaan nasional, sementara bahasa daerah adalah identitas lokal yang harus dilestarikan. “Keduanya berperan penting dalam kehidupan kita sebagai bangsa dengan warisan budaya yang kaya,” imbuhnya.
Syamsul juga berharap kegiatan ini dapat memotivasi generasi muda untuk terus berkarya dan melestarikan budaya lokal. “Semoga karya para penulis ini menjadi inspirasi besar bagi dunia pendidikan dan kebudayaan, khususnya di Sulawesi Tengah,” ujarnya.
Dalam kegiatan ini, Balai Bahasa Sulteng memberikan penghargaan kepada para penulis 42 buku cerita dwibahasa pada tahun 2024. Para penulis berasal dari berbagai profesi dan daerah dengan masing-masing bahasa ibu. Mereka berasal dari Kota Palu, Kabupaten Sigi, Parigi, Poso (Pamona), Banggai (Saluan), dan Buol.
Reporter: Irma/Editor: Nanang