Pandangan Guru Tua tentang Kekuatan Global

oleh -

PADA akhir tahun 1940-an, pasca Perang Dunia II,  terdapat tiga kekuatan yang merupakan negara adikuasa yaitu, Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Imperium Britania. Namun ketiga kekuatan itu juga mengalami Perang Dingin.

Di perang dingin itu pengaruh keuasaan Britania mulai berkurang dan berakhir, lalu meninggalkan Amerika Serikat dan Uni Soviet (Rusia).  

Tapi tahukah kita, sirah pejalanan kondisi global itu turut diamati oleh Habib Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua), saat sudah di tanah Kaili, Palu, Sulawesi Tengah. Padahal kala itu, akses informasi masih sangat terbatas, jangankan mengamati kondisi global, kondisi Nasional pun tidaklah mudah. Namun Habib Idrus, bisa mengamati bahkan mengetahui simpul-simpul kekuatan global. Hal itu tertuang dalam syair-syairnya.

Dari syair Guru Tua itu, redaksi Media Alkhairaat Online mencoba untuk menyesuaikan dengan sejarah dunia, sesuai dengan urutan bait syairnya. Hasilnya, redaksi menemukan kalimat-kalimat itu, hampir serupa dengan konteks di zaman peran dingin.

Menurut Habib Idrus bin Salim Aljufri dalam syairnya, dari ketiga imperialis dan kolonialis itu, menurut Habib, Amerika Serikat-lah akhirnya kuat dan perlu diwaspadai:  

عَدْوَةُ العَرَبِ وَاللْاِسْلَامِ اَمْرِيْكَا * تَقْضِيْ بِذَا اَسِيَا وَاَفْرِيْكَا

Musuh Arab dan Islam (adalah) Amerika . Yang memerintah (menguasai) Asia sampai Afrika.

Di zaman perang dingin, memang Amerika dengan sistem kolonialisme-nya mampu mengambil alih dan memanfaatkan sumber daya alam, manusia, sistem politik, penyebaran ideologi, dan keyakinan negara Asia dan Afrika. Dan Guru Tua, memperingatkan umat Islam dan Arab akan hal itu.

Kemudian Habib melanjutkan syairnya,

اَمَّا اُرُبَّا فَقَدْ ذَلُّوْا لِهَيْبَتِهَا * حَتَى بَرِيْطَانِيَا صَارَتْ كَبُلْجِيْكَا

Adapun Eropa telah hina karena wibawanya nyaris hilang. Sehingga Britania (Inggris) seperti Belgia.

Habib mengamati Negara-negara Eropa tak ada lagi yang kuat. Bahkan Britania Raya sudah tidak lagi menakutkan. Kekuatan Britania bahkan diibaratkan Belgia.

Kenapa seperti Belgia? Teka-teki apa dari kalimat ini? Kemungkinannya, karena Belgia adalah negara yang di Eropa yang mengalami residu Perang Dunia yang paling memilukan. Di Akhir perang dunia, Belgia dikuasai Jerman, dan dibebaskan oleh Britania pada 1944. Perang di Belgia tercatat sebagai perang yang paling besar dan menewaskan banyak orang, apalagi sipil.

Pada 4 Februari 1945, Belgia sah dikuasi oleh Britania, dan setelah itu ratusan ribu warga Belgia diselidiki karena dicurigai berpihak pada Jerman, puluhan ribu dituntut, serta ratusan dieksekusi.

Pasca perang Dunia itu, secara global, Belgia mengambil peran sebagai Buffer State (negara penengah). Tidak berpihak pada negara manapun. Tentu dengan posisi ini tidak dipandang sebagai kekuatan, karena tidak berada di poros manapun, dan apalagi tidak membuat kekuatan baru.

Sementara Negara Prancis versus Britania di benua biru juga sudah tidak lagi berdaya. Dan sekaligus memalukan. Kondisi ini segambaran dengan Syair Habib kala itu:

اَمَّا فَرَنْسَا فَقَدْ عَزَّتْ وَقَدْ عَرَفَتْ * سِياَسَةُ الْغَدْرِفِيْ اِذْلاَلِ هَاتِيْكَا

Prancis telah menyalahi kebijakan. Yang dikenal memalukan itu.

Kalimat “menyalahi kebijakan” dan “memalukan” ini, hampir serupa dengan konteks Prancis kala itu. Menjelang akhir perang dunia, Henri Philippe Benoni Omer Joseph Pétain  atau lebih dikenal dengan Marshal Pétain, yang menjadi Pemimpin Prancis kala itu, memutuskan “mengabdi” kepada Jerman. Padahal sebelumnya, Prancis bersama Britania Raya. Karena melihat kekuatan Jerman yang menguat, rezim ini menandatangani perjanjian penyerahan kepada Jerman pada 22 Juni 1940.

Prancis di bawah Petain mendukung segala perang yang dijalani Nazi Jerman. Namun, belakangan Pasukan Sekutu menguat. 1944, Jerman dan Prancis kalangkabut. Pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Britania Raya  berhasil menguasai Afrika Utara dan Italia. Karena tersudut itu, Jerman memutuskan untuk menempatkan pasukan di selatan Prancis, wilayah otoritas rezim Vichy pimpinan Pétain. Di sini nampak sekali, peristiwa memalukan itu. Perancis lewat Pétain benar-benar seperti boneka Jerman.

Di saat Britania sudah nampak tak berdaya, berbeda dengan Uni Soviet.

وَالرُّسِ مِنْ غَدْرِهَا كَانُوا عَلَى حَذَرٍ * لَهَا إسْتَعَدُّوا فَلاَ يَخْشَوْنَ اَمْرِيْكَا

Adapun, Rusia (Uni Soviet) siasatnya selalu berhati-hati. Dan tidak takut kepada Amerika.

Uni Soviet memiliki kekuatan di negara-negara Eropa Tengah dan Eropa Timur, bekas pendudukan pasukan Nazi Jerman. Di negara itu, Uni Soviet menanamkan ideologi komunismenya. Tentu ini seperti menantang Amerika, karena Amerika Serikat dengan sekutunya, Inggris yang berpaham demokrasi. Komunisme Uni Soviet dianggap mengancam demokrasi di Eropa Barat (kekuasaan AS dan Britania). Dan kala itu Uni Soviet memang berusaha menyebarkan ideologi komunismenya ke seluruh dunia.

Di saat poros Uni Soviet bersaing dengan Amerika Serikat, di wilayah Asia Timur, Tiongkok merangkak dengan ekonominya, militer, diplomasi dan kekuasaan dilakukan secara lunak tanpa perang.

Hal ini tertuang pula dalam Syair Guru Tua,

وَالصِيْنُ (إرْإرْتِيْ) هَبَتْ تُنَا فِسُهَا *وَكَثُرَتِ العَدَدُ الْمَعْلُومُ يُنْبِيْكَا

Cina (RRT) diberkahi persaingan. dan jumlah yang besar dan jelas.

Betul saja, ketika Republik Rakyat Tiongkok (RRT) berdiri pada tahun 1949, terjadi lompatan perkembangan ekonomi Cina yang sangat pesat. Meskipun pada akhirnya, Mao Zedong sebagai pemimpin Cina dianggap gagal menumbuhkan ekonomi sesaui harapan. Sehingga terjadi revolusi ekonomi Cina 1978. Di tahun ini, Habib Idrus sudah wafat, namun sebagaimana syair Guru Tua, China sangat kompetitif, sehingga dia tetap dilimpahi ekonomi yang tetap melesat.

Terkait Uni Soviet dan China, Guru Tua membahasnya dalam syair lain. Habib Idrus sangat keras menolak ideologi kedua negara ini (akan dibahas di artikel selanjutnya, red).

Kembali ke soal kekuatan imperealisme itu. Meskipun Amerika, Britania Raya, Rusia, dan China memiliki segala kekuatan, namun tidak ada kekuasaan yang abadi. Sebab kekuasaan dan kekuatan hanyalah milik Allah. Suatu kala kekuasaan itu akan berganti dan akan tumbang.

Syair Guru Tua lagi menyambung tentang kekuatan global itu:

وَقُوَّةُاللهِ لَاتَخْتَفِي عَلَى اَحَدٍ *وَ مَنْ حَارَبَ العَرْبَ وَالإسْلَا مَهْلُوكَا

Kekuasaan dan kekuatan Allah tidak bersembunyi pada seorang pun. Barang siapa yang memerangi Arab dan Islam, akan binasa.

Mengapa Guru Tua mengatakan, memerangi Arab dan Islam? Sebab bila poros ini bersatu, sangat sulit terkalahkan. Hanya saja di kala itu, Arab dan Islam sedang mengalami penjajahan, terutama dari imperium Britania Raya. Yang pada akhirnya menyerahkan Tanah Palestina kepada Yahudi, lewat Deklarasi Balfour. Terkait pendudukan Yahudi itu, Habib melanjutkan syair ini (Hal ini akan kita bahas dalam artikel selanjutnya, red). Semoga ulasan ini bermanfaat. Wallahu’alam.

[Nurdiansyah/MAL]