Nasihat Habib Ali untuk Dua Guru Besar Untad

oleh -
Dua guru besar Universitas Tadulako, Prof Nur Ali bersama Prof Khairil berkunjung langsung di kediaman Ketua Umum PB Alkhairaat, Habib Ali Al-Jufri, Kamis (16/12). Foto: Ist

PALU- Maraknya fitnah di media sosial dengan tujuan menjatuhkan seseorang atas dasar ambisi kekuasaan, iri atau dengki mendapat tanggapan serius dari ketua Majelis Ulama Sulawesi Tengah, Habib Ali bin Muhammad Aljufri.

“Muslim itu bagai cermin bagi saudaranya. Jadi sekiranya ada orang muslim menceritakan kesalahan atau aib sesama muslim, andai pun itu benar maka itulah ghibah. Andai apa yang dia sampaikan tidak benar, inilah fitnah.”

Nasehat ini disampaikan oleh Habib Ali, saat Prof. Dr. Muhammad Nur Ali, M.Si berkunjung dan silaturrahim di kediaman habib pada Kamis ba’da isya (16/12).

Dalam suasana santai dan dirangkai dengan makan malam bersama itu, Prof. Nur Ali yang juga didampingi oleh Prof. Khairil mendapatkan banyak nasihat bijak dari Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Alkhairaat itu.

Menurut Habib Ali, memang risiko menjadi pemimpin itu salah satunya akan ada, bahkan sering mendapatkan fitnah. “Inilah resiko pemimpin. Kalau tidak mau ada fitnah, jangan jadi pemimpin karena menjadi pemimpin harus kuat dan tidak boleh lemah menghadapi fitnah. Seiring waktu, kalau kerja kita bagus, fitnah itu akan hilang karena tidak terbukti.”

Nasihat bijak Habib Ali ini kemudian diamini oleh Prof. Nur Ali yang saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Universitas Tadulako.

“Betul Habib, nasehat habib ini juga kami rasakan saat mengemban amanah baik dulu saat masih jadi dekan Fisip maupun saat ini, sebagai wakil rektor. Alhamdulillah kami menyikapi berbagai tuduhan, laporan ke pihak berwajib dan bahkan fitnah yang beredar di media sosial dengan terus bekerja dan menunjukan karya,” ungkap Guru Besar Psikologi ini.

Habib lalu menambahkan bahwa manusia itu diibaratkan dengan tiga macam karakter yang melekat padanya. “Ada mata manusia seperti mata lalat, ada juga seperti kumbang dan satu lagi seperti lebah. Nah diantara ketiganya, mata lalat ini yang susah karena yang dia liat bagus banyak tapi yang dia pilih tetap sampah.”

“Ketika bunga telah dihisap oleh kumbang, maka perhatikanlah bunga itu akan menjadi layu dan terkulai. Setelah itu kumbang akan pergi dan mencari bunga lain yang masih segar,” ungkap sang habib penuh hikmah.

Sambil tersenyum dan menikmati buah segar yang dihidangkan oleh tuan rumah, Prof. Khairil yang juga ikut menyimak nasihat bijak sang habib lalu menganggukan kepala dan turut mengaminkan apa yang disampaikan oleh Habib itu, benar adanya.

“Sangat bijak Habib, betul apa yang habib sampaikan. Sebagian kita manusia ini ada juga yang seperti kumbang. Saat seseorang berkuasa, ada saja yang dekat dengan berbagai cara. Dipuji-puji, diambil hatinya, akhirnya dapat ‘sari bunga’. Tapi saat orang itu tidak berkuasa lagi, ia pun berpaling dan mencari ‘bunga sengar’ yang baru,” ungkap Dekan Fisip ini dengan penuh senyum.

Prof. Khairil yang juga masih terkesima dengan nasihat sang Habib, kemudian bertanya, “Lantas bagaimana dengan lebah, Habib?”

Habib melanjutkan, “Lebah itu sangat berbeda dengan lalat atau pun serangga lainnya. Ia hanya hinggap ditempat tempat pilihan. Kalau serangga lain, apa lagi lalat, sangat mudah ditemui di tempat sampah. Tapi lebah tidak, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu.”

Salah satu hikmah yang bisa terpetik tentang lebah itu adalah ia mengeluarkan madu, dan madu sangat baik untuk kesehatan. Lebah selalu produktif dengan kebaikan, kebaikan lebah inilah yang menghasilkan manfaat bagi makhluk lain. Begitu juga dengan sifat seorang mukmin mampu memberikan kebaikan yang dirasakan oleh manusia dan mahluk lainnya.

Nasihat-nasihat bijak yang mengalir dengan suasana santai ini pun ditutup dengan doa dari Habib.

Rep: ***/Nanang