MOROWALI – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga menyebut arahan bapak presiden kota-kota disekitar kawasan industri harus ditata tata ruangnya.

“Karena infrastrukturnya tidak berimbang, infrastruktur dikawasan dan infrastruktur diluar kawasan,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat melakukan grounbreaking Indonesia Growt Project (IGP) penambangan dan pengolahan nikel rendah karbon terintegrasi di Desa Sambalagi, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Jumat (10/2).

Proyek IGP Morowali ini berada di dua titik lokasi penambangan ore nikel di Desa Bahomotefe, Kecamatan Bungku Tengah sedangkan pengolahan pabrik RKEF berada di Desa Sambalagi.

Oleh karena itu kata dia, Menteri Bappenas diminta menyelesaikan 40 kota yang keseimbangan dan harmonisasi daerah, yang kecepatan infrastrukturnya tidak secepat pengembangan dan pembangunan hilirisasi mineral.

Terutama menurutnya, pembuangan sampah, irigasi, air kotoran, mana wilayah penginapan, restoran, serta fasilitas dan pendukung lain.

Sebelum terlambat kata dia, ini harus didorong, dirinya yakin para industri siap bekerjasama dengan pemerintah daerah dalam pengembangan lain.

“Jadi itu dititip pak gubernur agar industrinya berkembang wilayahnya indah,” ujarpnya.

“Selain itu tentu terkait kesehatan dan tingkat kemiskinan. Jangan sampai pertumbuhannya tinggi, kemiskinannya masih ada, ada multiplier effect didapat masyarakat,” katanya.

Selain itu ia juga menitip pesan kepada Gubernur Sulteng Rusdy Mastura, Wakil Ketua DPRD Sulteng Arus Abdul Karim, serta Forkompinda untuk menjaga Project pembangunan tersebut sebab Project Strategis Nasional (PSN).

“Kepada Forkompinda bantu menjaga keamanan dan keselamatan di project tersebut,” pungkasnya.

Chief Executive Officer (CEO) PT Vale Indonesia Tbk.Febriany Eddy mengatakan, dalam IGP Morowali ini PT Vale, Taiyuan Iron & Syeel (Tisco) dan Shandong Xinhai Technology (Xinhai) mengalokasikan biaya Rp37,5 triliun.

Ia menyebutkan, PT Vale berperan penuh dalam pembangunan dan pengoperasian fasilitas pertambangan, sementara pembangunan Rotary Klin-Elevtric Furnace (RKEF) kerjasama Taiyuan Iron & Syeel (Tisco) dan Shandong Xinhai Technology (Xinhai) melalui PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI).

“Smelter di Sambalagi ini memanfaatkan sumber listrik dari gas alam, emisi karbonnya setengah dari batu bara dan memiliki kapasitas 500 Mega Watt (MW),” ucapnya.

Lebih lanjut menururnya, pabrik ini memiliki intensitas karbon terendah kedua setelah pabrik Vale Indonesia di Sorowako, saat ini 100 persen menggunakan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

“Dengan menggunakan tenaga ramah lingkungan ini, maka kami bisa mengurangi emisi karbon sampai 2 juta ton per tahun,” tuturnya.

Ia menambahkan, smelter RKEF Sambalagi memproduksi 73 ribu ton nikel per tahun. Hasil produksi ini mendukung industri baja tahan karat dengan kerja sama TISCO memiliki pasar lebih besar.

Menurutnya juga, dia sudah bicara dengan Chairman (Xinhai) Wang Wenlong. “Kita sepakat akan kita kaji langsung pembangunan baja setelah RKEF, mudah-mudahan bisa lebih dalam hilirisasinya,” imbuhnya.

Dia memaparkan, proyek ini menyerap tenaga kerja sekitar 12-15 ribu orang pada puncak konstruksi dan 3 ribu pada masa operasi.

“Kami berkomitmen memaksimalkan tenaga kerja lokal dan melakukan program peningkatan kompetensi, melalui pelatihan tenaga kerja,” ujarnya menyudahi. (IKRAM)

.