Di sebuah sudut sunyi Sulawesi Tengah, tepatnya di Moubang, Kecamatan Mepanga, Kabupaten Parigi Moutong, waktu seakan berjalan lebih lambat. Kisah-kisah yang telah berlalu sejak puluhan tahun, begitu mudah ia rangkai, seakan membekas, melekat dalam ruang ingatannya di usia uzur.
Di sanalah Ustadz Lukman Lembah menjalani hari-harinya—bukan sekadar sebagai guru, tetapi sebagai saksi hidup jejak panjang pengabdian yang ditanamkan oleh sosok yang ia sebut dengan penuh takzim: Ustadz Tua -begitu ia menyebut nama Guru Tua (Habib Idrus bin Salim Aljufri).
Ia lahir pada 6 Agustus 1942 di Desa Pewunu. Dari tanah sederhana itu, takdirnya mulai ditenun sejak ia bertemu dengan Guru Tua sekitar tahun 1962.
Ia menempuh pendidikan di Madrasah Mu’allimin yang diasuh langsung oleh Guru Tua, bahkan termasuk angkatan pertama.
Saat itu, pendidikan hanya berlangsung hingga empat tahun, namun kebijakan memungkinkan lulusan kelas tiga untuk langsung mengajar. Maka, sekitar tahun 1965, di usia yang masih sangat muda, ia telah berdiri di depan murid-muridnya, mengajarkan ilmu yang ia sendiri masih terus dalami.
Namun, kisah sesungguhnya dimulai pada tahun 1968.
Ditemui di Palu dalam rangka menghadiri Haul ke-58 Guru Tua, Senin (30/03) malam, Ustadz Lukman mulai berkisah.
Suatu hari, ketika ia sedang mengolah kelapa di kebun, kabar datang bahwa Ustadz Tua berkunjung ke kampungnya.
Ia segera mandi, bergegas menemui sang guru. Tanpa banyak kata, Guru Tua bertanya apakah ia bersedia mengajar di Halmahera.
Tanpa ragu, tanpa menimbang panjang, tanpa berpikir bahwa Halmahera dalah tujuan yang jauh, bahkan harus menyeberang Pulau Sulawesi, ia menjawab, “iya.” Sebuah jawaban yang kelak mengubah seluruh hidupnya.
Tanggal 20 Agustus 1968, perjalanan dimulai. Bersama Ustadz Sofyan Lahilote dan rombongan yang awalnya berjumlah 11 orang, mereka berangkat menggunakan gerobak. Namun tempat yang semula disebut Halmahera, berubah arah menjadi Pantai Timur Parigi.
Mereka menempuh perjalanan panjang, bermalam dari satu kampung ke kampung lain. Setiap kali mereka bergerak dari satu kampung, selalu ada tambahan gerobak yang bergabung, hingga jumlahnya menjadi sekitar sepuluh.
Di tengah perjalanan itu, alam seakan turut menjadi saksi sekaligus isyarat bahwa Guru Tua bukanlah orang biasa.
Saat hendak menyeberangi sungai di daerah Ampibabo, banjir besar menghadang. Air meluap, arus deras tak memungkinkan untuk dilalui. Namun Guru Tua tetap memerintahkan untuk menyeberang.
Di luar nalar, ketika mereka mulai melintas, air yang sebelumnya mengamuk mendadak surut. Tidak satu pun barang mereka yang basah. Begitu rombongan selesai menyeberang, air kembali meluap, menutup jalan bagi siapa pun yang datang setelahnya.

Fenomena di luar nalar yang dirasakan Lukman muda saat itu, tidak berhenti di aliran sungai yang banjir.
Perjalanan terus berlanjut hingga Tinombo. Di sana, masyarakat mengeluhkan bahwa hujan tak turun selama tiga bulan. Namun saat rombongan Guru Tua tiba, langit tiba-tiba pecah, hujan turun deras, seolah langit membuka pintunya hanya untuk menyambut mereka.
“Sampai di sini, saya belum dikasih tau akan mengajar di mana,” kata Ustadz Lukman.
Di setiap langkah, Ustadz Lukman tidak hanya berjalan secara fisik, tetapi juga memasuki ruang-ruang batin yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Hingga suatu siang di Ambesia, Tomini, setelah salat Dzuhur, Guru Tua memanggilnya. Ia menjawab dengan penuh hormat, “labbaikum.” Ia diminta membuatkan teh, menyiapkan roti, lalu memijat kaki dan tubuh sang guru.
Dalam momen sederhana itu, Guru Tua akhirnya mengungkapkan tujuannya: Ustadz Lukman akan mengajar di Tilung, setingkat Madrasah Ibtidaiyah.
Saat itu usianya baru sekitar 18 tahun. Ia bahkan tidak tahu di mana Tilung berada. “Satu kampung lagi dari sini,” jawab Guru Tua singkat.
Namun sebelum benar-benar menetap, ia masih mengikuti perjalanan rombongan ke beberapa daerah lain.
Dalam perjalanan menuju Ongka, mereka harus menyeberangi laut dengan kondisi ombak besar dan angin kencang. Namun lagi-lagi, Guru Tua tetap memerintahkan untuk berlayar. Tak sampai satu jam, mereka telah tiba dengan selamat—sebuah perjalanan yang seharusnya mustahil ditempuh dalam kondisi demikian.
Akhirnya, ia kembali ke Tilung. Di sanalah pengabdiannya benar-benar dimulai.
Selama bersama Guru Tua, ia juga menyaksikan dan merasakan berbagai peristiwa yang ia yakini sebagai karomah. Bahkan setelah Guru Tua wafat, pengalaman batin itu seolah belum berakhir.
Suatu ketika, ia tidak dapat menghadiri haul Guru Tua di Palu. Ia tak memiliki teman untuk pergi. Namun di waktu Subuh, ia justru merasakan berjalan bersama Guru Tua. Sosok itu hadir, menemaninya, bahkan mengajaknya singgah di rumah seorang warga bernama Ramli—orang yang sering memboncengnya ketika mendapatinya sedang berjalan kaki.
“Aneh juga, padahal di desa saya ini ada juga rumah pengurus Alkhairaat, Tapi Ustadz Tua tidak singgah, justru dia minta kami singgah di rumahnya Ramli,” ungkap Ustadz Lukman.
Namun ketika ia keluar dari rumah itu, sosok Guru Tua telah tiada. Menghilang tanpa ia ketahui ke mana arah perginya.
“Waktu itu saya seperti baru sadar, kalau ternyata saya ini ada sama-sama dengan Ustadz Tua yang sudah lama meninggal,” ujarnya lirih, kerutan di wajahnya memberi kesan ia belum rela ditinggalkan dari pertemuan singkat di subuh itu.
Yang paling membekas adalah momen menjelang wafatnya Guru Tua. Hari Senin tahun 1969, ia hendak pamit untuk kembali ke Tilung setelah lebaran. Namun Guru Tua memintanya untuk menunda kepulangan. Malam itu, sekitar pukul dua dini hari, Guru Tua wafat. Seolah beliau telah mengetahui waktunya, dan menahan muridnya agar tetap dekat di saat-saat terakhir.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Tanpa terasa, lebih dari 57 tahun telah ia habiskan di tempat yang sama. Ia tidak pernah berpindah. Tidak pernah meminta. Tidak pernah menuntut.
Ia mengajar dengan jumlah murid yang kini sekitar 60 orang. Ia bukan kepala sekolah—jabatan itu ia serahkan kepada rekannya, Jufri, yang memiliki kendaraan. Sementara ia, tetap setia dengan kesederhanaannya, tinggal beberapa kilometer dari Tilung dan bolak-balik setiap hari ke tempat mengajar di kecamatan yang sama.
Dalam perjalanan panjang itu, ia pernah mengajar tanpa honor selama satu tahun penuh.
“Pernah dulu dalam satu tahun dapat honor Rp50 ribu. Ada juga pernah tidak digaji sama sekali dalam satu tahun,” ujarnya.
Namun ia tetap bertahan. Mengajar, baginya, bukan soal upah. Melainkan amanah.
Kini, setelah puluhan tahun mengabdi, Ustadz Lukman tidak membawa cerita tentang lelah. Ia hanya membawa kenangan, kesetiaan, dan harapan.
Harapannya sederhana, namun dalam, agar para guru lebih diperhatikan, terutama dari segi kesejahteraan. Karena ia telah menjalani masa-masa sulit tanpa honor, namun tetap mengabdi tanpa pernah meminta.
Di balik segala kesunyian pengabdiannya, ia menitipkan harapan besar kepada Alkhairaat—agar terus menjaga semangat pendidikan, memuliakan para guru, dan meneruskan cahaya yang dahulu dinyalakan oleh Guru Tua.
Sebab dari tangan-tangan sederhana itulah, masa depan umat perlahan dibentuk.

