Saat Sang Penguasa Allah SWT berkehendak, maka tak seorang pun mampu untuk menolaknya. Tak ada pilihan lain, kecuali bersiap menghadapi setiap ketetapan Allah Swt dengan segala hikmahnya.
Mungkin kalimat inilah yang bisa membawa setiap orang untuk sampai pada titik kepasrahan tertinggi, yakni bertawakkal kepada Allah atas segala ujian dan peringatan-Nya.
Betapa tidak, Indonesia sebagai negeri yang terkenal dengan keindahan alamnya kini diperhadapkan pada berbagai musibah bencana yang terus menghiasi negeri ini, bahkan negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia ini, harus rela melihat sebagian masyarakatnya menangis dan meratapi bencana yang datang silih berganti.
Lihatlah rentetan bencana alam banjir bandang yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatera dan Aceh. Wilayah ini terendam air hingga atap rumah. Ratusan korban jiwa bergelimpangan tersapu air.
Apa pun itu, musibah adalah suatu keniscayaan yang melanda setiap manusia, baik secara perseorangan maupun kelompok. Perasaan takut, lapar, kekurangan harta, jiwa sampai kekurangan buah-buahan yang dibutuhkan, selalu menyertai mereka yang terkena musibah.
“Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Mereka nitulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-Baqarah (2):155 – 157).
Musibah pada hakikatnya mempunyai beberapa dimensi. Dimensi pertama bahwa musibah adalah ujian dari Allah SWT. Dan ketika ujian dapat dilalui dengan baik, maka akan menaikan derajat dan kebaikan si penerima ujian itu. Sebagaimana anak-anak kita ketika akan naik kelas, dia perlu diuji terlebih dahulu.
Inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW, “Siapa yang akan diberi limpahan kebaikan dari Allah, maka diberi ujian terlebih dahulu.” (HR Bukhari Muslim). Dimensi kedua, musibah harus dihadapi dengan kesabaran karena kesabaran itulah kunci utama untuk lulus dari ujian.
“Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman seluruh perkaranya menjadi baik. Ketika ditimpa musibah dia bersabar, itu membawa kebaikan baginya. Dan ketika mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu membawa kebaikan baginya.” (Al-Hadis).
Ketiga, seberat apapun musibah, pasti Allah SWT telah memperhitungkannya agar tidak melebihi dari kesanggupan masing-masing. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al-Baqarah (2):286).
Keempat, dengan musibah yang menimpa seorang Muslim, baik berupa kesusahan dan penderitaan, kesedihan dan kedukaan, maupun penyakit, bahkan karena sepotong duri yang mencocok anggota badannya, dihapuskan Allah SWT sebagian dari kesalahan-kesalahannya.
Jika musibah yang memang sudah terjadi memnbuat kita sedih dan berduka, semoga juga akan membawa kebaikan-kebaikan yang banyak dalam ridha Allah SWT. Terbukti, tsunami di Aceh membawa mereka kepada kedamaian dan kebaikan yang banyak dan kematian mereka lebih berarti sebagai syahid ukhrawi.
Sebagai manusia, kita prihatin dan sedih ketika mendapatkan musibah seperti yang terjadi kini pada saudara-saudara kita. Tidak bisa terbayangkan bagaimana seandainya kita berada pada posisi mereka, semoga Allah memberi kesabaran dan ampunan kepada mereka. (Asman Hamzah)
Oleh karena itu marilah kita kembali kepada allah dengan rasa ikhlas dan ridho kepadanya. Ucapkanlah kalimat istighfar saat musibah menghampiri dan di anjurkan pula untuk membaca kalimat Istirja’ (Innalillahi wainna illahi roji’un) ketika cobaan atau musibah datang menguji kehidupan kita. Wallahu a’lam
DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)

