OLEH: Sofyan Arsyad
Mengapa Haul Guru Tua seakan memiliki magnet dahsyat? Dari tahun ke tahun, mereka yang hadir dari segala penjuru terus bertambah.
Pertanyaan ini, mungkin sempat terbetik di benak kita.
Setiap tahun panitia menambah jumlah tenda. Tetapi masih saja banyak orang tidak kebagian tempat duduk/berteduh (berdiri). Demikian halnya persediaan konsumsi. Setiap tahun dilipatgandakan, agar jangan sampai ada hadirin yang tidak kebagian (insya Allah, semua terlayani).
Lokasi parkiran apalagi. Sejak pukul 07.00 Wita kemacetan mulai terasa, khususnya pada ruas jalan di wilayah Palu Barat.
Saya turun dari rumah pukul 07.00 Wita. Tapi mencari tempat parkiran sulit sekali. Karena ba’da subuh, jamaah Haul Guru Tua sudah bergerak ke lokasi Haul.
Terpaksa saya parkir di dekat simpang jalan Gajah Mada. Biasanya, bisa parkir di Jalan Surumana. Sebagian mobil bahkan terlihat parkir di sekitar Pasar Bambaru.
Tidak Merasa “Kapok”
Tahun ini saya berusia 58 tahun. Jika dikalkulasi, mungkin sekira 50-an kali saya mengikuti Haul Guru Tua. Karena sejak kanak-kanak, orang tua saya telah memperkenalkan Haul Guru Tua kepada kami.
Sehingga bagi saya, rasanya kurang lengkap jika ramadhan dan idul fitri tidak ditutup dengan menghadiri Haul Guru Tua setiap tanggal 12 Syawal.
Mengapa? Sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Bagi abnaulkhairaat, pecinta Guru Tua dan simpatisan Alkhairaat, Haul Guru memiliki tempat istimewa di hati.
Tidak peduli apakah di arena haul manusia berdesak-desakan. Panas. Harus siapkan tikar dan kipas sendiri (tenda di jalan raya). Macet. Dan sejumlah ketidaknyamanan lainnya.
Terbukti, hingga hari ini saya belum pernah mendengar ada yang merasa “kapok” datang ke Haul Guru Tua. Atau berjanji tidak dua kali datang ke haul.
Yang ada justru rindu untuk datang lagi tahun depan. Dan membawa anggota baru.
Seperti halnya mereka yang pergi ke tanah suci. Di Mekkah, suhu bisa mencapai 48 derajat. Tenda sempit di Arafah, apalagi toilet. Terbatas. Berdesakan saat melontar jumrah. Antri menunggu bus dan lain-lain.
Tapi hingga hari ini, belum ada testimoni orang yang pulang haji menyatakan “kapok”. Justru rindu, kapan bisa kembali berkunjung ke sana.
Jembrana pun Hatinya Terpaut
Mungkin ada yang berkata, saya subyektif sekali. Cinta karena orang tua adalah murid utama. Cukup dekat dengan Guru Tua.
Ayah saya bersama sang guru sejak menjadi murid. Dicarikan jodoh dan dinikahkan di Pekalongan. Dicarikan tempat mengajar sementara di Pekalongan di madrasah Habaib sahabat Guru Tua di Pekalongan. Dipilih dan diajak mendampingi Guru Tua ke tanah suci (gratis).
Juga ketika Guru Tua operasi mata di Manado. Diajak mengungsi bersama keluarga Guru Tua saat peristiwa Permesta. Hingga mendapat wasiat Guru Tua untuk memandikan jenazah sang guru.

Memang, saya tidak berjumpa langsung dgn Guru Tua. Ketika beliau wafat tgl. 22 Desember tahun 1969 saya baru berusia 1 tahun 7 bulan.
Tetapi Ibu saya banyak bercerita tentang keteladanan Guru Tua. Keikhlasan dan rasa kepeduliannya.
Hampir sulit dijumpai, ada sosok guru yang begitu peduli pada muridnya. Begitu ikhlas berkorban waktu dan harta untuk kepentingan syiar Islam, dakwah dan pendidikan umat.
Boleh jadi, kepedulian, keikhlasan dan pengorbanan beliau mengurus umat, menjadi “magnet” tersendiri. Mengapa setiap tahun, peringatan Haul Guru Tua terus dibanjiri umat.
Padahal mereka yang datang, sebagian besar tidak pernah berjumpa dengan sang guru. Hanya mengenal Guru Tua melalui buku, foto-foto, kisah teladan, dan lain-lain.
Seperti kawan saya seorang ibu. Wanita ini lahir dan besar di Jembrana Bali. Saya mengajaknya ke haul Guru Tua sekira 15-20 tahun lalu. Setelah itu, hingga hari ini dia hampir tak pernah absen. Selalu hadir di Haul Guru Tua. Bersama suami dan anaknya.
Bahkan seorang anaknya, adalah santri berprestasi di Pesantren Alkhairaat Madinatul ilmi Dolo. Beberapa kali mewakili Sulteng ke event lomba tingkat nasional.
Haul Guru Tua telah memberikan inspirasi dan membawa berkah baginya.
Semoga kita diberikan berkah umur panjang. Dan bisa jumpa lagi pada Haul Guru Tua ke-59, 12 Syawal 1448 H.

