SIGI – Komunitas Libu Muda mendorong generasi muda menjadi aktor kunci dalam menjaga perdamaian dan keamanan melalui dialog keberagaman yang melibatkan 40 peserta dari berbagai latar belakang di Kabupaten Sigi dan Kota Palu.
Kegiatan bertajuk “Menguatkan Peran Orang Muda dalam Mencintai Keberagaman” ini digelar di Bantaya/Rumah Adat Desa Sibedi, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Selasa (17/3). Dialog tersebut terselenggara atas dukungan The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia.
Sebanyak 40 peserta terpilih berasal dari beragam unsur, mulai dari komunitas akar rumput, GP Ansor Kabupaten Sigi, sanggar seni, mahasiswa, pecinta alam, remaja Islam masjid, hingga pemuda gereja. Ahdiyat mengatakan kegiatan ini berangkat dari keresahan generasi muda yang hidup di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama yang tinggi di Sulawesi Tengah, khususnya Sigi dan Palu.
“Meski belum terjadi gesekan secara langsung, penting dilakukan deteksi dini dan penguatan kapasitas antar sesama orang muda. Ini menjadi langkah strategis agar generasi muda mampu berperan sebagai aktor kunci dalam memperjuangkan dan mempertahankan perdamaian serta keamanan,” ujarnya.
Sementara itu, Agnes Tarro menjelaskan bahwa keberagaman mencakup berbagai aspek seperti ras, ideologi, suku, gender, agama, budaya, hingga bahasa. Menurutnya, Indonesia sebagai negara yang sangat beragam memiliki potensi konflik, namun juga menyimpan manfaat besar.
“Keterbukaan untuk belajar tentang tradisi dan budaya lain menjadi kunci penting dalam memperkuat toleransi di tengah masyarakat yang majemuk,” ujarnya.
Alam Sriyanto mengangkat tema multikulturalisme sebagai harmoni di atas keberagaman. Ia menekankan pentingnya keselarasan antara pola pikir dan hati dalam menerima perbedaan.
“Sebesar apa pun kita mengakui keberagaman, jika mindset dan hati belum selaras, maka yang terjadi hanya kemunafikan. Apa yang diucapkan bisa berbeda dengan apa yang dirasakan,” katanya.
Menurutnya, Indonesia sejak awal merupakan wilayah yang majemuk dengan berbagai suku dan keyakinan. Semangat persatuan yang lahir dari sejarah panjang menjadi fondasi penting dalam membangun kebinekaan.
“Indonesia adalah pelangi. Jika keberagaman hilang, maka kita tidak lagi menemukan Indonesia yang kita cita-citakan,” tambahnya.
Dialog yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam tersebut juga diwarnai berbagai pandangan dari peserta. Ahmad, Ketua Remaja Islam Masjid Salman Al Faris, menyoroti tantangan di era kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi memicu polarisasi di kalangan anak muda.
“Kemajuan teknologi bisa dimanfaatkan oleh oknum untuk mengadu domba. Karena itu, kita harus lebih waspada dan memperkuat solidaritas di kalangan pemuda,” pungkasnya.

