PALU— Layanan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Kota Palu, belum menjangkau sejumlah wilayah di Kecamatan Palu Utara, khususnya kelurahan Baiya dan sekitarnya.

Warga setempat selama ini masih mengandalkan sumber air, kelurahan tetangga, air galon atau air kemasan, sebab belum adanya jaringan distribusi aktif dari PDAM.

Kepala Bagian Teknik PDAM Uwe Lino Mohamad Rizal mengatakan, jaringan PDAM Uwe Lino saat ini hanya melayani beberapa wilayah seperti Kelurahan Taipa, Kayumalue dan kelurahan Mamboro. Sementara wilayah kelurahan Baiya disebut tidak termasuk dalam cakupan layanan.

“Untuk Baiya memang tidak ada layanan sampai kesana,” ujarnya.

Ia menjelaskan, awal 2000-an, tepatnya sekitar 2005-2006, sempat ada pelayanan air bersih menjangkau kawasan Pantoloan dan sekitarnya. Sumber air saat itu berasal dari mata air wilayah Wombo,Kabupaten Donggala.

Namun kata dia, layanan tersebut kemudian diberhentikan, sebab debit mata air mengalami penurunan. Sistem digunakan saat itu sederhana, memanfaatkan aliran langsung dari mata air menuju bak penampungan (reservoir).

“Penyebabnya karena sumber mata air masih kecil, sehingga tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah sebenarnya telah merencanakan pengembangan sumber air baru dari sungai Wombo, berada di bagian hulu. Rencana tersebut sempat dibahas dalam beberapa forum diskusi kelompok terarah (FGD), melibatkan pihak kecamatan, Pemerintah Kota dan Kabupaten.

Namun kata dia, hingga kini proyek tersebut belum terealisasi.

“Sudah beberapa kali dibahas, tetapi belum ada realisasi sampai sekarang,” katanya.

Ia mengatakan, pada masa operasional sebelumnya, jumlah pelanggan PDAM wilayah tersebut diperkirakan antara 100 hingga 200 sambungan rumah. Sebagian besar layanan difokuskan memenuhi kebutuhan operasional di Kawasan pèlabuhan serta masyarakat sekitar.

Kebutuhan air bersih menjadi salah satu isu utama yang kerap diusulkan warga dalam forum Musyawarah Pembangunan (Musrembang). Namun usulan tersebut belum mendapatkan tindak lanjut.

Sebelumnya salah satu warga Baiya Hilda mengatakan, sumber air tanah beberapa warga wilayah Baiya terintrusi air laut.

Olehnya beberapa warga kata dia, dalam keseharian mereka tidak menggunakan air tersebut untuk memasak atau meminumnya.

“Sebab airnya asin, kalau dipakai memasak airnya berubah warna kuning, kalau diminum airnya asin, tidak layak dikonsumsi,” katanya.

Ia mengatakan, sebagian warga mengambil air diminum dan memasak pada kelurahan tetanga, jaraknya cukup jauh. Ada pula warga membeli air galon atau mineral. Dan hal tersebut sudah berlangsung lama sejak mereka mendiami wilayah tersebut.

Lebih lanjut kata dia, dan setiap kali musrembang diadakan, usulan warga untuk bisa mendapatkan air bersih dan layak dikonsumsi. Namun hingga kini usulan warga tersebut belum terakomodir hingga kini.**