Tentang Para Tamu yang Datang, Bukan Sekadar Berkunjung

Oleh: SM Syams*

Reflektif Situasional

Ada perjalanan yang tidak dimulai dari kaki, melainkan dari rindu. Ia tumbuh diam-diam dalam dada, lalu menjelma menjadi langkah yang tak lagi bisa ditahan. Begitulah kiranya yang menggerakkan ribuan orang menuju Palu setiap tahun, dalam satu momentum yang sama, Haul Guru Tua.

Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain. Ia adalah perjalanan pulang, meski tidak semua berasal dari tempat yang sama. Ada sesuatu yang memanggil, sesuatu yang membuat jarak terasa lebih dekat daripada biasanya.

Arus Manusia Menuju Palu

Setiap menjelang Haul Guru Tua, Kota Palu menjadi titik temu bagi Abnaul Khairaat dari berbagai penjuru Indonesia khususnya Indonesia Timur. Dari Gorontalo, Sulawesi Utara, Kendari, Maluku, hingga Papua, Termasuk Kalimantan, bahkan Jakarta, mereka bergerak dalam gelombang yang tidak seragam, tetapi memiliki tujuan yang sama.

Sebagian menempuh jalur darat, melewati jalan trans Sulawesi dengan kondisi yang tidak selalu bersahabat. Ada yang menggunakan bus, mobil pribadi, bahkan sepeda motor dalam rombongan panjang. Di jalur laut, kapal-kapal menjadi saksi perjalanan berhari-hari yang penuh kesabaran. Sementara di udara, pesawat mengangkut mereka yang mampu secara ekonomi, namun tetap dengan niat yang sama.

Semua moda itu bukan sekadar alat transportasi, tetapi bagian dari cerita. Cerita tentang usaha, tentang pengorbanan, dan tentang tekad yang tidak mudah goyah.

Makna Emosional: Antara Lelah dan Bahagia

Perjalanan panjang tentu tidak lepas dari kelelahan. Tubuh letih, waktu terkuras, dan biaya yang tidak sedikit harus dikeluarkan. Namun menariknya, kelelahan itu seakan tidak memiliki ruang untuk mengeluh.

Di wajah para tamu, yang tampak justru kebahagiaan sederhana. Mereka tidak datang sebagai wisatawan, melainkan sebagai murid yang ingin kembali menyambung rasa dengan gurunya. Meski sebagian besar dari mereka tidak pernah bertemu langsung dengan Habib Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, namun ada keterpanggilan spiritual yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Cerita tentang keteladanan, tentang perjuangan dakwah, dan tentang keikhlasan bahkan

Karamah Guru Tua, hidup dalam ingatan kolektif. Dari sanalah lahir rasa dekat, meski tidak

pernah bersua. Dari sanalah muncul keyakinan bahwa datang ke haul adalah bagian dari menjaga hubungan yang tidak terputus oleh waktu.

Migrasi Spiritual yang Mengikat

Di titik ini, kita melihat bahwa nilai sebuah perjalanan tidak diukur dari kenyamanan, tetapi dari niat yang menyertainya. Fenomena ini dapat dibaca sebagai bentuk migrasi spiritual

yang unik. Berbeda dengan migrasi ekonomi atau urbanisasi, pergerakan menuju haul tidak didorong oleh kebutuhan material, melainkan oleh dorongan batin.

Ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat, masih ada ruang besar bagi nilai-nilai non- material untuk menjadi penggerak utama. Bahwa manusia tidak selalu bergerak karena keuntungan, tetapi juga karena makna.

Haul Guru Tua menjadi semacam “poros emosional” yang mampu menarik ribuan orang tanpa perlu undangan formal. Ini adalah bentuk kekuatan simbolik yang jarang dimiliki oleh sebuah peristiwa sosial. Keterikatan itu bahkan melampaui pengalaman langsung, karena dibangun dari narasi yang hidup lintas generasi.

Akses yang Tidak Selalu Setara

Namun demikian, perjalanan panjang ini juga membuka realitas lain. Tidak semua orang memiliki akses yang sama untuk hadir. Ada yang harus menabung berbulan-bulan, ada pula yang terpaksa tidak datang karena keterbatasan biaya.

Sebagian lainnya memilih jalan alternatif, dengan ikut dalam rombongan. Ada yang nebeng karena pertemanan, ada yang diajak oleh pengurus Alkhairaat setempat, bahkan ada yang bergabung dalam rombongan pemerintah daerah dari masing-masing wilayah.

Di sini, kita melihat adanya ketimpangan yang tidak kasat mata. Haul memang terbuka untuk semua, tetapi kemampuan untuk hadir tidak selalu merata. Ini menjadi refleksi penting bahwa dalam setiap peristiwa besar, selalu ada mereka yang ingin hadir namun tertahan oleh keadaan. Hanya Keterpanggilan Morallah yang membuat mereka sampai untuk melepaskan kerinduan yang selama ini dapat dilampiaskan dengan kejernihan dan keteladanan Sang Guru Tua.

Nilai Spiritual: Panggilan yang Tidak Terucap

Apa yang menggerakkan mereka sesungguhnya bukan sekadar keinginan, melainkan panggilan. Panggilan yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata, namun terasa kuat dalam hati.

Ada keyakinan bahwa mendekat kepada jejak orang-orang saleh adalah bagian dari menjaga batin agar tetap hidup. Bahwa perjalanan menuju kebaikan, meski berat, selalu memiliki nilai di sisi Tuhan.

Dan dalam setiap langkah yang ditempuh, ada harapan yang disisipkan diam-diam, tanpa perlu diumumkan kepada siapa pun.

Refleksi Menjaga Arah Perjalanan

Ke depan, penting untuk memastikan bahwa semangat ini tetap terjaga. Bahwa perjalanan menuju haul tidak berubah menjadi sekadar rutinitas tahunan, tetapi tetap menjadi ruang refleksi dan pembaruan niat.

Perlu juga dipikirkan bagaimana aksesibilitas bisa diperluas, agar lebih banyak orang dapat ikut merasakan pengalaman spiritual ini tanpa terbebani secara berlebihan.

Di sinilah peran kolektif menjadi penting, bukan hanya dalam penyelenggaraan, tetapi juga dalam memudahkan jalan bagi sesama.

Penegasan Makna

Pada akhirnya, para tamu ini bukan sekadar peserta. Mereka adalah bagian dari cerita besar yang terus ditulis setiap tahun. Setiap langkah mereka adalah huruf, setiap perjalanan adalah kalimat, dan haul adalah paragraf yang menyatukan semuanya.

Mereka datang bukan hanya untuk hadir, tetapi untuk menghidupkan.

Palu, 30 Maret 2026 / 10 Syawal 1447

“Tidak semua perjalanan mencari tempat, sebagian justru menjaga hubungan yang tak pernah terputus oleh waktu.”

*Akademisi dan Pemerhati Refleksi Sosial Kemasyarakatan Palu