OLEH : Yahdi Basma, SH*

Disclaimer : Serial tulisan ini pandangan subjektif penulis sebagai salah satu sahabat H. Hadianto Rasyid. Bukan pandangan Hadianto bukan pula sikap Pemerintah Kota Palu. Boleh dikutip oleh siapapun sebagai pandangan penulis.

Dalam papan besar bernama Kota Palu, Hadianto Rasyid memainkan strategi layaknya grandmaster catur yang tidak hanya piawai membaca posisi, tetapi juga berani mengambil langkah-langkah tidak populer demi keunggulan jangka panjang.

Pada fase opening, ia mendorong pion-pion pembangunan secara progresif dengan strategi jemput bola ke berbagai kementerian/lembaga, mempercepat pemulihan pascabencana Palu 2018.

Ini bukan sekadar langkah awal, melainkan tempo gain– mempercepat ritme agar Palu tidak terjebak dalam permainan bertahan terlalu lama.

Masuk ke fase middle game, orkestrasi antar “buah catur” mulai terlihat solid.

Persoalan banjir temporal ditangani dengan pendekatan teknokratis melalui pembangunan drainase berbasis perencanaan matang.

Ini adalah bentuk positional reinforcement, dimana struktur pertahanan kota diperkuat secara sistemik untuk mengantisipasi tekanan berulang.

OPD teknis digerakkan seperti gajah dan kuda yang saling melindungi, memastikan setiap celah kerentanan bisa diminimalisir secara terukur.

Di sektor ekonomi, Hadianto memainkan combination play yang efektif. Ia membangun puluhan titik wisata kuliner sebagai pusat pertumbuhan baru, sekaligus menggelontorkan stimulasi permodalan UMKM hingga ratusan miliar rupiah.

Dalam logika catur, ini adalah aktivasi “queen” yang membuka banyak jalur serangan sekaligus, yakni menghidupkan ekonomi rakyat, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat daya tahan ekonomi lokal di tengah tekanan eksternal.

Langkah krusial lainnya hadir pada sektor mobilitas.

Kehadiran Bus TransPalu (launching September 2024) merupakan strategic foresight yang pada awalnya dipenuhi protes dan cibiran.

Saat itu, keputusan “menggondong” 24 unit bus dinilai terlalu berani, bahkan oleh sebagian stakeholder dianggap tidak prioritas.

Namun dalam perspektif catur, ini adalah langkah quiet move–tidak langsung terlihat dampaknya, tetapi menentukan struktur permainan di fase berikutnya.

Kini, memasuki dinamika baru per 10 April 2026 dengan kebijakan kerja fleksibel (WFH/WHA) sebagai respons atas tekanan geopolitik global, langkah tersebut justru menjadi decisive advantage.

Kota Palu memetik buah dari strategi yang ditanam setahun lalu. Bus TransPalu berfungsi sebagai “pelampung” ekonomi– menekan beban pengeluaran BBM warga, menjaga mobilitas ASN dan masyarakat tetap efisien, serta menjadi buffer terhadap potensi penurunan daya beli. Ini adalah momen di mana langkah yang dulu dianggap beban, berubah menjadi saving move yang menyelamatkan posisi.

Di saat yang sama, Hadianto juga menggerakkan lebih dari 11.000 ASN dan P3K Kota Palu dalam satu orkestrasi disiplin kerja yang ketat.

Dalam terminologi catur, ini adalah piece coordination tingkat tinggi– dimana seluruh “buah” bekerja dalam satu ritme, tidak saling tumpang tindih, dan tetap efektif meski pola kerja bergeser ke WFH/WHA.

Produktivitas birokrasi dijaga, pelayanan publik tetap berjalan, dan adaptasi terhadap kebijakan pusat dilakukan tanpa kehilangan kontrol permainan.

Keseimbangan antara offense dan defense semakin terlihat jelas.

Penanganan banjir dan penguatan sistem drainase adalah benteng pertahanan, sementara pengembangan UMKM dan efisiensi transportasi adalah serangan balik yang menjaga ekonomi tetap hidup.

Tidak ada langkah yang berdiri sendiri—semuanya terhubung dalam satu desain besar: membangun kota modern yang adaptif terhadap perubahan.

Kini, permainan memasuki fase endgame. Posisi Palu semakin solid—struktur kota lebih tertata, ekonomi rakyat bergerak, dan sistem birokrasi semakin disiplin serta adaptif.

Namun seperti dalam catur, checkmate bukan hasil satu langkah, melainkan akumulasi strategi yang presisi dan konsisten.

Dengan rangkaian langkah– mulai dari pemulihan pascabencana, pembenahan jalan, jembatan & drainase, penguatan ekonomi rakyat, keberanian menghadirkan transportasi publik, hingga orkestrasi ASN dalam skema kerja baru– Hadianto Rasyid sedang menempatkan Palu pada jalur kemenangan.

Sebuah kota modern yang bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga unggul di tengah kompleksitas zaman.

*Sastrawan Politik Palu