Konsep Rejeki dalam Islam

oleh -
Ilustrasi. (Youtube/ZG Channel Official)

Rasulullah Saw pernah terkesan kepada burung yang pergi dengan perut kosong, tapi setelah terbang kembali dengan perut kenyang. Kata kuncinya adalah terbang (bergerak) dan itu tidak bisa didapatkan dengan sayap yang malas.

Setiap makhluk sudah ada rezekinya. Misalnya, Allah menciptakan pohon terbatas gerakannya. Karena pohon tidak lincah, maka makanannya didekatkan lewat akar. Rezekinya didekatkan, ini sengaja diatur oleh Allah Swt.

Begitupun binatang, misalnya singa, pada waktu masih bayi dia tidak bisa mengejar rusa, maka Allah menyediakan air susu di tubuh induknya. Ketika air susunya berhenti, Allah menggantinya dengan makanan yang diburu induknya. Setelah besar dia berburu sendiri. Makin kuat fisiknya, makin tinggi kualitas ikhtiarnya.

Jika binatang melata saja pasti diberi rezeki dari-Nya, lebih-lebih lagi manusia yang disebutkan sebagai makhluk paling sempurna karena memiliki fisik yang bagus, akal untuk berpikir, dan hati untuk merasakan kebaikan atau keburukan.

Di tahap ini, seharusnya tak perlu mengkhawatirkan soal pembagian rezeki. Sebab hal itu merupakan Kuasa Allah Swt yang tak bisa dicampuri. Maka, kemisterian rezeki tentang jumlahnya, cara pemberiannya, dan kapan diberikannya; seharusnya tak perlu membuat seseorang-apalagi orang beriman-pusing memikirkannya.

Namun, saat di satu sisi seorang Muslim diminta meyakini dengan jatah yang diberikan oleh Allah Swt, mereka juga dianjurkan untuk melakukan kerja-kerja professional agar bisa menguasai perbendaharaan dunia.

Tujuannya bukan untuk menumpuk harta atau bermewah-megah. Tetapi untuk memakmurkan bumi dan semakin meneguhkan perannya sebagai khalifah di muka bumi. Beruntungnya, saat Allah Swt memerintahkan kaum Muslimin untuk bertebaran di muka bumi guna mengunduh karunia-Nya. Dia juga telah membeberkan kiat-kiat yang kudu ditempuh.

Kiat-kiat agar rezeki berlimpah itu, tersebar di banyak ayat. Salah satunya sebagaimana terdapat dalam surat al-Maidah.

Di dalam ayat 66 surat kelima dalam ayat ini, Allah Ta’ala menyebutkan, “Niscaya mereka akan mendapatkan makanan dari atas dan bawah kaki mereka.”

Allah Ta’ala akan mencurahkan rezeki dari langit dengan menurunkan hujan dan sinar matahari untuk pertumbuhan hewan dan tumbuhan, juga mengeluarkan rezeki dari dalam bumi dengan penyimpanan air dan zat-zat yang dibutuhkan oleh tanaman dan hewan yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan umat manusia.

Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Mereka mendapatkan rezeki yang melimpah dari langit dan juga dari bumi.” Sedangkan ‘Abdullah bin ‘Abbas menjelaskan, “Niscaya Aku (Allah) akan menurunkan hujan yang sangat deras dari langit kepada mereka.”

Lantas, siapakah yang dimaksud dengan ‘mereka’ dalam ayat ini? Siapakah sosok yang pasti dilimpahi rezeki dari langit dan bumi oleh Allah Swt sebagai sebaik-baik pemberi rezeki?

Allah Swt berfirman dalam potongan ayat sebelumnya, “Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Alquran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapatkan makanan dari atas dan bawah kaki mereka.”

Konsep langit ini juga berlaku bagi kaum Muslimin. Bahwa ketaatan kepada Allah Swt adalah kunci yang menjadikan rezeki berlimpah. Tetapi, jangan sampai salah niat. Sebab, ada banyak kaum Muslimin yang menukar amalan akhirat dengan pencapaian dunia

Yang benar, ikhlas dan fokusklah kepada amal untuk akhirat, maka dunia akan mengikuti. Dan, Allahlah sebaik-baik pemberi rezeki. Wallahu a’lam

DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)