KISAH SONGKOK HITAM MURID GURU TUA

oleh

Hari ini, tanggal 12 Syawal 1441 H, bertepatan dengan Haul ke-52 As-Sayyid Al Habib Idrus bin Salim Aljufri atau lebih dikenal dengan sapaan GURU TUA (12 Syawal 1389 H – 12 Syawal 1441 H).

Kisah-kisah keteladanan dan karomah pendiri utama Alkhairaat ini, telah bertebararan dimana-mana. Dari lisan ke lisan para saksi hidup/abnaul khairaat maupun dalam berbagai literatur dan hasil penelitian ilmiah.


Untuk mengenangnya, berikut ini satu diantara kisah yang mungkin bisa menjadi spirit dan ibrah bagi pengikut dan pengidola tokoh yang nama dan jasanya tak pernah hilang dari memori umat Islam, khususnya di kawasan timur Indonesia.

DIANTARA ciri khas murid H.S Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua) adalah berpenampilan sederhana (kopiah hitam-kerudung kenefer) dan berkepribadian low profile. Namun dibalik kebersahajaan itu, mereka memiliki kemampuan membaca/mengkaji kitab kuning, melantunkan nasyid, dan berkomunikasi dalam bahasa Arab dengan lancar, baik dan benar (fasih).

Inilah yang membuat sejumlah habaib ternama di pulau Jawa, yang hadir pada haul di rumah Habib Kwitang Jakarta sekira tahun 50-an, sontak berdecak kagum.

Kisahnya berawal saat Guru Tua kembali untuk sementara ke Pekalongan, Jawa Tengah setelah 20 tahun hijrah ke Palu. Ia memboyong 10 orang murid, dan tinggal sementara di kediaman Guru Tua di Pekalongan. Mereka antara lain Ust. Hasbullah Arsyad, Ust. Abdullah Sikopa, H.S Idrus bin Husen Alhabsyi (Palu) , Ust. Abd. Halim (Tangkiang), Ust. Yahya Basyid (Tomini), Mas’ud dan Ust. Ibrahim (Luwuk). Dua diantara anggota rombongan, yakni Ust. Hasbullah Arsyad dan Ust. Yahya Basyid diminta menetap beberapa tahun. Keduanya ditugaskan oleh Guru Tua mengajar pada madrasah Salafiyah Pekalongan. Sekolah yang dibangun oleh Habib Ali bin Ahmad Alattas, ulama masyhur di Pekalongan.

Singkat cerita, suatu waktu Guru Tua diundang menghadiri haul di rumah Habib Kwitang. Murid-murid beliau ikut bersamanya. Di lokasi haul, panitia mengatur pintu masuk dan tempat duduk undangan dan jamaah haul.

Disortir berdasarkan warna kopiah. Kopiah putih duduk di barisan depan. Karena bersongkok hitam, murid Guru Tua dan yang berkopiah sewarna, diarahkan duduk di barisan paling belakang.

Ketika acara haul dan pembacaan maulid hampir berakhir, Guru Tua atas izin panitia diminta menghadirkan muridnya untuk tabarak. Tampil membaca kitab kuning (Arab gundul/kitab klasik berbahasa Arab tanpa harakat) di depan para habaib ternama di pulau Jawa. Nama Hasbullah Arsyad pun menjadi pilihan. Ia terbilang murid cukup beruntung. Dari urusan jodoh hingga berangkat haji tahun 1968, semua berkat usaha dan pemberian sang guru.
Acara berlanjut. Panitia haul mengundang Hasbullah Arsyad, murid Guru Tua. Seketika dari pojok belakang, seorang anak muda berkopiah hitam melangkahkan kaki di antara kerumunan jamaah haul. Semua mata tertuju padanya.

Di depan para habaib, murid Guru Tua ini langsung didadak. Disodorkan kitab. Tidak boleh dipilih-pilih, dibukakan dan langsung baca. Sekitar sepuluh menit Hasbullah Arsyad menunjukkan kemampuannya membaca kitab. Para habaib dan jamaah haul terpukau dibuatnya. “Suaranya merdu dan nahwunya Masya Allah,” kata H.S Saggaf bin Muhammad Aljufri saat menceritakan kembali kisah ini di kediaman Haidar Bagir, Pimpinan Lazuardi Global Islamic School, dan Pendiri Penerbit Mizan.

Tak berhenti di situ. Murid yang pernah ditugaskan Guru Tua mengajar di Langowan Tondano Sulut ini juga diminta melantunkan nasyid/ratib dan qasidah. Sesuatu yang selama ini menjadi “santapan” harian mereka saat perjalanan jauh bersama sang Guru. Tidak heran, jika adik kandung KH. Rustam Arsyad ini melantunkan syair-syair itu dengan baik, merdu dan lancar.

Para Habaib ternama di Jawa takjub dan penasaran. Mereka sontak bertanya, “Hadza min Hadramaut?”. Guru Tua menjawab, “Laa. Hadza Banjari”. Dijelaskan bahwa anak ini bukan dari Hadramaut. Ia orang Banjar. Murid Alkhairaat (Guru Tua) dari Palu.

Para habaib berpengaruh di Jawa itu seakan tak yakin, bila dari Palu, kota kecil yang tidak dikenal kala itu, Guru Tua mampu mencetak murid-murid yang setara dengan santri di Hadramaut, negeri para habaib.

Menariknya, kekaguman para habaib ini berimbas pada murid Guru Tua lainnya. Mereka yang semula karena berkopiah hitam diposisikan di barisan belakang, dipanggil oleh panitia haul untuk mengisi barisan depan. Duduk bersama Ust. Hasbullah Arsyad, para habaib dan kalangan berkopiah putih lainnya.* (sofyan arsyad)

Iklan-Paramitha