PALU – Tausyiah Ramadan malam ke-14 disampaikan oleh KH. Mansur Baba di Masjid Alkhairaat Palu, Jalan SIS Aljufri, bertepatan dengan Selasa (3/3) malam. Dalam ceramahnya, beliau mengajak umat Islam untuk semakin mencintai dan membiasakan diri membaca Al-Qur’an, khususnya di bulan suci Ramadan.

KH. Mansur Baba menegaskan bahwa Ramadan dikenal sebagai Syahru Al-Qur’an, yakni bulan diturunkannya Al-Qur’an. Karena itu, membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan memiliki keutamaan yang berlipat ganda. Ia mengingatkan bahwa perintah membaca Al-Qur’an berlaku bagi seluruh umat Nabi Muhammad SAW sejak dahulu hingga hari kiamat.

Lebih jauh Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang dibaca dan diamalkan semasa hidup akan hadir memberikan syafaat dan pertolongan bagi pembacanya di akhiraat kelak.

“Al-Qur’an akan datang memberi syafaat kepada orang yang membacanya,” katanya.

Ia juga menerangkan bahwa setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an bernilai pahala yang dilipatgandakan. Bahkan, Rasulullah SAW mencontohkan bahwa “Alif” satu huruf, “Lam” satu huruf, dan “Mim” satu huruf, yang masing-masing diberi sepuluh kebaikan. Terlebih lagi di bulan Ramadan, pahala tersebut dilipatgandakan oleh Allah SWT.

KH. Mansur Baba kemudian memaparkan perumpamaan Rasulullah SAW tentang tingkatan seorang mukmin dalam hubungannya dengan Al-Qur’an. Tingkatan pertama dan paling tinggi adalah mukmin yang mampu membaca Al-Qur’an dan senantiasa membacanya. Ia diibaratkan seperti buah yang harum dan manis, memberikan manfaat bagi diri dan orang lain.

Tingkatan kedua adalah mukmin yang tidak bisa membaca Al-Qur’an, namun tetap beriman. Ia diibaratkan seperti buah kurma, yang tidak memiliki aroma harum tetapi rasanya manis. Artinya, meskipun tidak mampu membaca Al-Qur’an, keimanannya tetap membawa kebaikan.

Adapun tingkatan ketiga adalah orang yang membaca Al-Qur’an tetapi memiliki sifat munafik. Ia diibaratkan seperti bunga yang harum baunya, tetapi rasanya pahit. Sementara tingkatan paling rendah adalah orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an sama sekali, yang diibaratkan seperti buah yang tidak berbau dan rasanya pahit.

Melalui perumpamaan tersebut, KH. Mansur Baba mengajak seluruh jamaah untuk berusaha menjadi golongan pertama, yakni mukmin yang mampu membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Ia juga mendorong para orang tua agar membimbing anak-anaknya untuk belajar Al-Qur’an sejak dini serta mengajarkannya kepada orang lain.

“Orang terbaik di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya,” pungkasnya.